Seluruh sudut Jakarta penuh dengan kesibukan, salah satunya di pesisir utara kota Muara Angke. Pasar ikan dan pelabuhan nelayan terbesar di Jakarta yang tak pernah sepi. Lebih dari 30 ribu orang melakukan aktivitasnya di sini. Hilir mudik kapal nelayannya sudah tak terhitung lagi. Kerap lalu-lalang, kapal nelayan yang sehari-hari digunakan tentu saja butuh perawatan.
Di sinilah para pekerja servis kapal atau docking kapal berperan. Dari tangan-tangan mereka, kapal nelayan mampu berlayar dengan baik. Pekerjaan servis kapal di Muara Angke bukanlah perkara yang mudah. Mereka harus memperbaiki kapal yang besarnya lebih dari 20x5 meter. Perlu keahlian khusus untuk menjadi seorang docking kapal.
Kapal bocor, ketebalan lambung kapal yang mulai menipis, kayu dimakan kutu dan teritip menjadi permasalahan yang harus dihadapi para pemilik kapal. Saat itulah kapal butuh perawatan dari sang docking kapal.
©2021 Merdeka.com/Agung Uplo
Layaknya kendaraan, merekalah teknisi yang memperbaiki kapal. Setiap 6 bulan sekali, docking kapal biasa melakukan service. Kondisi kerusakan lain juga bisa mengakibatkan pemilik kapal membawa ke bengkel.
Mulanya, kapal dengan berat puluhan ton masuk ke bengkel berkat bantuan mesin derek. Setelah naik ke pit kapal, para pekerja mulai mereparasi kapal. Mereka memperhatikan lambung kapal terlebih dahulu. Pasalnya, lambung kapal sering bocor akibat terlalu lama terendam air laut.
Mereka harus membersihkan lambung kapal dari kutu dan teritip. Sejenis antropoda becangkang keras yang menyukai lambung kapal nelayan. Gerinda, parang, dan berbagai benda tajam lain mereka gunakan untuk membersihkan lambung.
©2021 Merdeka.com/Agung Uplo
Dibalik gedung pencakar langit Ibu Kota Indonesia mereka terus bekerja. Tugas mereka selanjutnya ialah menambal kebocoran lambung kapal. Lem khusus, dempul, balok kayu, dan piranti penambal lain mereka gunakan. Keseluruhan lambung kapal harus mereka berikan perawatan yang terbaik.
Butuh 10-20 pekerja docking kapal untuk memperbaiki satu kapal. Pasalnya perlu 1-4 bulan untuk memperbaiki kapal ikan berjenis 30 GT ini. Lama reparasi kapal juga ditentukan dari skala kerusakan kapal. Semakin parah kerusakan, maka semakin lama proses perbaikan.
Advertisement
©2021 Merdeka.com/Agung Uplo
Seluk beluk kapal tak boleh dilewati begitu saja. Termasuk bagian belakang lambung kapal, dek, geladak, propeller dan daun kemudi. Nikel penyusun propeller juga rentan terhadap kotoran yang menempel. Mereka harus membersihkannya agar laju kapal menjadi normal kembali.
Tahap akhir para docking kapal ialah pengecatan ulang lambung kapal. Tingginya kapal yang tak terjangkau, mengharuskan para pekerja docking kapal menaiki tangga. Ya, seluruh lambung kapal harus dicat untuk membuat kapal lebih cantik. Mereka menggunakan cat khusus tahan air.
©2021 Merdeka.com/Agung Uplo
Pekerja servis kapal adalah pahlawan bagi para nelayan. Susah payah mereka pun tak pernah sia-sia. Kapal nelayan bisa kembali berlayar di lautan lepas berkat tangan ajaib mereka. Peran mereka penting, yakni untuk mendukung pelabuhan ikan yang beroperasi 24 jam nonstop ini.