Perjuangan Para Wanita Penambang Pasir Sungai Mambal Badung Bali
Merdeka.com - Jauh dari hingar bingar dan keelokan Pulau Dewata, Kabupaten Badung Bali punya cerita. Jika umumnya seorang penambang pasir adalah pria, di Sungai Desa Semana, Mambal Badung para penambang pasir adalah wanita. Pekerjaan yang semata-mata mengandalkan kekuatan fisik ini harus mereka tempuh untuk membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga.
Perjuangan mereka mencari bulir-bulir pasir ini bukanlah hal yang mudah. Mengawali aktivitas jam 7 pagi, mereka harus merasakan dinginnya air Sungai Semana. Bajunya basah kuyup tenggelam menyisakan pundak sampai kepala saja. Satu bakul besar dari anyaman bambu mereka junjung di atas kepala.
Kepalanya muncul dan tenggelam berkali-kali. Tangannya sibuk mengeruk pasir di aliran sungai. Menuangkan sedikit-sedikit pasir yang sudah didapat. Agar keranjang besarnya segera terisi penuh.
©2021 Merdeka.com/Dewa Krisna
Ditemani dengan bunyi deras jatuhnya aliran air. Para wanita ini menyusuri tepian hingga tengah Sungai Semana.
Tetes peluh berbaur dengar aliran sungai. Genggaman tangannya kuat memegang keranjang. Berat memang beban pasir di atas kepala. Namun tak menyurutkan semangat mereka.
Meski tak terhitung lagi, sudah berapa puluh kilogram pasir yang mereka panggul di atas kepalanya.
©2021 Merdeka.com/Dewa Krisna
Dengan bakul pasir di atas kepala, mereka harus naik turun tangga sebanyak 70 kali. Menyelam berkali-kali sembari memikul beban tanah pasir. Menggeruk pasir dan menuangkannya di atas kepala. Tak sengaja menelan air sungai pun sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka.
Datang ketika pagi, setidaknya para wanita ini pulang sekitar pukul 5 sore. Tatkala mentari sebentar lagi akan pulang ke peraduannya. Berjalan pulang menjual pasir pada pembeli material.
©2021 Merdeka.com/Dewa Krisna
Seiring dengan meningkatnya perminataan akan bahan material. Semakin banyak pula penduduk menambang pasir. Baik penambang tetap maupun penambang musiman. Penambang pasir wanita ini rupanya sudah ada sejak jaman dulu.
Sekitar tahun 1980, para wanita sudah menambang pasir di sungai ini. Penambangan pasir sudah merupakan bagian dari mata pencaharian penduduk setempat. Untuk sekali bekerja, para wanita ini bisa membawa uang Rp 50-80 ribu rupiah per hari.
Namun, pandemi yang melanda Tanah Air nyatanya juga membuat dampak bagi para penambang pasir. Penghasilan para wanita ini juga turun drastis.
©2021 Merdeka.com/Dewa Krisna
Julukan wanita tangguh cocok untuk para wanita penambang pasir. Ketegaran dan kesabaran yang luar biasa. Bekerja keras dan pantang menyerah. (mdk/Tys)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya