Koalisi Tradisikebaya.id Dukung Pengajuan Kebaya ke UNESCO lewat Single Nation

Selasa, 16 Agustus 2022 10:50 Reporter : Syakur Usman
Koalisi Tradisikebaya.id Dukung Pengajuan Kebaya ke UNESCO lewat Single Nation Koalisi Tradisikebaya.id dukung gerakan Kebaya Goe to UNESCO.. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Komunitas dan kelompok perempun pecinta berkebaya di Indonesia menolak wacana Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Riset Teknologi RI untuk mendaftarkan kebaya ke lembaga PBB, UNESCO, secara bersama-sama (multi-nation) dengan Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Mereka lebih memilih upaya pengajuan nominasi ke UNESCO secara single nation. Artinya diajukan oleh pemerintah Indonesia secara sendiri.

Penolakan tersebut mendapat dukungan antara lain dari anggota Wantimpres Sidarto Danusubroto dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Bintang Darmawati, saat menghadiri acara Parade Kebaya Nusantara di Sarinah, Jakarta, akhir pekan lalu.

Etti RS, Wakil Ketua Yayasan Kebudayaan Rancagé yang anggota koalisi Tradisikebaya.id, berpandangan pengajuan warisan budaya melalui jalur multi-nation memungkinkan penolakan dari masyarakat Indonesia. Sekalipun pengajuan ke UNESCO merupakan otoritas pemerintah, sebaiknya melalui proses penjajakan yang melibatkan segenap masyarakat. Karena setiap negara memiliki kekhasan budaya yang dilatari pola kehidupan masyarakatnya.

“Pengajuan kebaya ke UNESCO oleh beberapa negara dapat membiaskan riwayat budaya, dari mana sesungguhnya asal mula busana tersebut? Selain itu, apabila diakui banyak negara, mungkin saja kebaya tidak lagi menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia, bukan lagi bagian dari jati diri bangsa. Karena itu, saya kira akan banyak komunitas yang menolak wacana ini,” ujar Etti dalam keterangan resminya, Selasa (16/8).

Menurut Etti, jika wacana ini dilanjutkan, dapat berdampak pada warisan budaya lainnya. Bayangkan jika satu per satu budaya milik bangsa dicicil untuk didaftarkan dengan negara lain sebagai “milik bersama”.

"Kelak, anak-cucu kita akan benar-benar kehilangan akar. Mereka bahkan tidak tahu lagi yang mana budaya asli nenek-moyangnya dan mana budaya dari bangsa lain. Semuanya akan berbaur dan akhirnya identitas bangsa tak hanya memudar, tapi hilang," tegasnya.

Sejak beberapa waktu lalu, kita sering didera masalah jati diri. Misalnya, klaim sebagian wilayah Tanah Air oleh negara lain, bahasa Indonesia yang didesak bahasa asing, lebih mencintai produk luar negeri daripada produk bangsa sendiri, dan sebagainya. Demikian pula di bidang budaya. Bangsa kita nyaris tak berdaya mempertahankan apa yang diwariskan para leluhur, sehingga banyak warisan yang lenyap, dibiarkan tenggelam, atau bahkan diakui bangsa lain. Kita harus menjaga identitas, sebab jika identitas kita sudah hilang, maka bisa hilang segalanya, papar Etti.

2 dari 2 halaman

Dian Sastro Dukung Kebaya Goe to UNESCO

pandi rilis laman tradisikebayaid untuk gerakan kebaya goes to unesco

©2022 Merdeka.com

Pekerja seni sekaligus sobat kebaya, Dian Sastrowardoyo, yang juga anggota Koalisi Tradisikebaya.id, mengajak seluruh masyarakat menjadikan kebaya sebagai busana kebanggaan bangsa Indonesia. Dian berharap pemerintah bisa mencanangkan kebaya sebagai pakaian wajib yang digunakan pada hari-hari tertentu, seperti batik.

“Kalau dulu kita wajib berbatik saat berangkat kerja atau ke sekolah, atau kuliah, kalau bisa suatu hari dicanangkan sama pemerintah, busana nasional atau kebaya wajib (digunakan) satu atau dua hari dalam sepeka. Supaya kita kembali ke tradisi, ke adat. Karena itu yang justru membedakan kita dari bangsa-bangsa lain,” kata Dian.

Menurut Dian, kita harus membuktikan kepada UNESCO banyak sekali masyarakat Indonesia yang pakai kebaya. Untuk ituk, Dian mengajak masyarakat Indonesia berperan serta dalam gerakan “Kebaya Goes to UNESCO” dengan mengunggah foto berkebaya di laman Tradisikebaya.id.

"Aku mau mengajak kalian semua para perempuan di Indonesia, berpartisipasi dalam pengajuan kebaya agar ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO melalui Gerakan Kebaya goes to UNESCO. Caranya gampang banget, kita tinggal berfoto dengan kebaya masing-masing. Kemudian unggah pada website tradisikebaya.id. Gerakan ini dimulai pada 9 Agustus 2022 hingga 9 Desember 2022. Yuk, kita lestarikan kebaya supaya dijadikan sebagai warisan budaya dunia tak benda dari Indonesia untuk Dunia," pungkas Dian.

[sya]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini