Fortinet sebut Perekrutan Tenaga Ahli IT Wanita Jadi Tantangan

Rabu, 18 Mei 2022 16:12 Reporter : Merdeka
Fortinet sebut Perekrutan Tenaga Ahli IT Wanita Jadi Tantangan Fortinet sebut Perekrutan Tenaga Ahli IT Wanita Jadi Tantangan. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Menurut laporan ISC2 dalam 2021 Cyber Workforce Report menyebutkan bahwa tenaga kerja bidang keamanan siber global perlu bertambah sebesar 65 persen agar dapat dengan efektif menjaga asset penting organisasi. Walau begitu, itu bukanlah hal yang mudah.

Laporan Fortinet mencatat setidaknya banyak tantangan yang hadir bagi organisasi.Tantangan yang signifikan bagi organisasi selama ini adalah menemukan dan mempertahankan pekerja yang tepat untuk mengisi posisi keamanan yang penting dari spesialis keamanan cloud hingga analis SOC.

"Laporan menemukan bahwa 60 persen pimpinan mengakui bahwa organisasi mereka berjuang keras melakukan perekrutan dan 52 persen mengalami kesulitan mempertahankan tenaga ahli," tulis keterangan Fortinet, Kamis (18/5).
 


Menurut mereka, di antara tantangan-tantangan proses mencari tenaga kerja adalah perekrutan tenaga kerja perempuan, lulusan baru, dan warga minoritas. Secara global, 7 dari 10 pimpinan organisasi melihat perekrutan tenaga kerja perempuan dan lulusan baru sebagai hambatan paling tinggi, dan 61 persen mengatakan mempekerjakan warga minoritas menemui tantangan selama ini.

"Karena organisasi ingin membangun time yang lebih mampu dan beragam, 89 persen perusahaan global memiliki tujuan keberagaman pekerja yang eksplisit sebagai bagian dari strategi perekrutan berdasarkan hasil laporan," tambah laporan keterangan itu.

Laporan ini juga menunjukkan bahwa 75 persen organisasi memiliki struktur formal untuk merekrut secara khusus lebih banyak tenaga kerja perempuan, dan 59 persen organisasi memiliki strategi untuk mempekerjakan warga minoritas. Selain itu, 51 persen organisasi memiliki program untuk mempekerjakan para veteran.

Fortinet dalam surveynya itu menunjukkan bahwa pelatihan dan sertifikasi adalah solusi penting bagi organisasi yang ingin mengatasi lebih lanjut masalah kesenjangan keahlian. Laporan ini mengungkapkan bahwa 95 persen pimpinan organisasi percaya bahwa sertifikasi yang berfokus pada teknologi memberikan dampak positif pada peran dan tim mereka.

Survei ini dilakukan pada lebih dari 1,200 pembuat keputusan bidang IT dan keamanan siber dari 29 lokasi berbeda. Responden berasal dari berbagai industri, termasuk teknologi (28 persen), manufaktur (12 persen), dan jasa keuangan (10 persen).

[faz]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini