Kisah Perdagangan Kain Belacu di Jambi pada Abad 17, Komoditas Bernilai Tinggi di Tanah Sumatra

Pada abad ke-13 Kota Jambi sudah terkenal sebagai pelabuhan ekspor tekstil.

Adrian  Juliano
Oleh Adrian Juliano - Reporter
Kisah Perdagangan Kain Belacu di Jambi pada Abad 17, Komoditas Bernilai Tinggi di Tanah Sumatra
Kisah Perdagangan Kain Belacu di Jambi pada Abad 17, Komoditas Bernilai Tinggi di Tanah Sumatra (Merdeka.com)

Kedatangan Pedagang Inggris

Pada abad 17, pedagang Inggris mulai berdatangan ke Hindia Timur atau Nusantara untuk mencari peruntungan..

Namun ketika para pedagang tiba di wilayah Sumatra, tepatnya di sekitar Sungai Batanghari, mereka menyadari bahwa komoditas rempah sudah sepi peminat.

Kain Belacu dari Gujarat

Bagi pedagang lokal, komoditas yang diangkut oleh pedagang Inggris berupa kain wol yang menjadi andalan justru tidak laku.

Para pedagang Nusantara yang memiliki stok rempah melimpah justru lebih tertarik pada produk yang dibawa oleh pedagang Gujarat yaitu kain belacu atau calico dan garam Cina (kalium nitrat).

Kondisi ini membuat Inggris melalui kantor dagangnya, EIC, segera membuat pabrik-pabrik tekstil kelas rendah di beberapa tempat di India. 

Temukan Halangan

Melansir dari indonesia.go.id, posisi Inggris dalam dunia perdagangan pada abad ke-17 saat itu menemui banyak kendala, di mana yang paling utama adalah kurangnya modal.

Kendala lainnya adalah adanya wabah yang melanda sehingga situasi perdagangan menjadi berantakan. Maka dari itu, kondisi Inggris dan Belanda sempat mengalami gonjang-ganjing.

Kendala tersebut dibarengi dengan peran raja-raja lokal yang menjadi musuh utama Inggris. Kekuasaan pedagang lokal di Nusantara cukup hebat dalam mengeksploitasi pangsa pasar.

Di Pulau Sumatra, kendala yang dirasakan Inggris adalah kain blacu yang diproduksi di India kualitasnya tidak cukup baik. Bahkan dari segi ukuran hingga warna juga berbeda-beda.

Tingkat kehalusan masing-masing kain juga tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku di pasar.

Aktivitas perdagangan Inggris di Nusantara pun mengalami kekacauan mulai dari tubuh perserikatan dagangnya sampai komoditas yang dijual juga tidak ada harganya.

Jambi Kota Strategis

Pada abad 17, Kota Jambi menjadi lokasi Pelabuhan Sungai Batanghari yang letaknya cukup strategis sebagai perantara antara pedagang India dan Cina. Bahkan, sekitar abad ke-7 dan abad ke-9 utusan dari Jambi sudah berkunjung ke sana.

Pada abad ke-13 Kota Jambi sudah terkenal sebagai pelabuhan ekspor tekstil. Biasanya barang yang dibarter dengan kain impor adalah berbagai jenis getah pohon, cengkeh, hingga kapulaga.

Kota Jambi juga sudah menjalin perdagangan dengan India sejak abad ke-7. Kedatagan agama Islam ke Jambi menjadi momentum meningkatnya kebutuhan tekstil yang tinggi.

Pedagang Gujarat menjadi "perantara" dengan negara-negara di bagian Pantai Timur Afrika seperti Yaman dan Mesir. Beberapa kain yang bernilai tinggi pun menjadi aksesoris masyarakat lokal dan menjadi hiasan.

Komoditas Lada

Komoditas Lada
Dok. Istimewa

Di samping populernya kain belacu di tanah Sumatra, komoditas lada di Jambi memiliki peran yang cukup penting. Namun, lada sendiri bukan ditanam di Jambi, melainkan diboyong oleh pelancong dari negara India. (Pixabay)

Jambi juga menjadi sumber utama lada, karena didatangkan langsung dari dataran tinggi Minangkabau yang diangkut menggunakan kapal melewati Sungai Batanghari untuk melakukan transaksi dengan pedagang Inggris dan juga Belanda.

Belajar dari pengalaman, Inggris akhirnya berhasil mendirikan pabrik dan gudang untuk menyimpan stok kain yang berharga dan bisa mengolah hasil lada, meski kedudukan perdagangan masih dikuasai seutuhnya oleh Belanda. 

Rekomendasi