Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Penyebab Kebakaran Hutan di Riau Beserta Dampaknya yang Penting Diketahui

Penyebab Kebakaran Hutan di Riau Beserta Dampaknya yang Penting Diketahui Kebakaran hutan Riau. ©Reuters

Merdeka.com - Kebakaran hutan menjadi salah satu bencana musiman yang kerap terjadi di Indonesia. Kebakaran hutan ini terutama terjadi di lahan gambut. Kebakaran yang terjadi di lahan gambut lebih sulit diatasi karena api dapat menyebar melalui biomassa di atas tanah dan di lapisan gambut di bawah permukaan. Proses membara di lahan gambut ini sulit diketahui penyebarannya secara visual.

Menurut Kementerian Kesehatan (2015) kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada tahun 2015 di beberapa provinsi, seperti Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan, menyebabkan bencana terburuk dalam 18 tahun, yang menyebabkan polusi udara parah di beberapa negara Asia Tenggara.

Provinsi Riau menjadi salah satu daerah yang perlu mendapat perhatian khusus karena memiliki luas lahan gambut 3,867,413 ha atau 43,61% dari total luas. Kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau terjadi hampir setiap tahun, terutama di musim kemarau.

Salah satu penyebab kebakaran hutan di Riau adalah karena aktivitas masyarakat dalam mengolah lahan pertanian/perkebunan dengan menggunakan metode tebas-bakar (slash and burn) mengutip dari Dinamika Lingkungan Indonesia Volume 6 Nomor 2 Tahun 2019.

Berikut selengkapnya merdeka.com merangkum penyebab kebakaran hutan di Riau yang penting diketahui:

Penyebab Kebakaran Hutan di Riau

Ada beberapa penyebab kebakaran hutan di Riau selama beberapa tahun belakangan, berikut di antaranya:

Ulah Manusia

Penyebab kebakaran hutan di Riau menurut Presiden Joko Widodo dikarenakan ulah manusia terkait motif ekonomi.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, 99 persen kebakaran hutan adalah ulah manusia. Utamanya terkait faktor ekonomi.

"99 persen kebakaran hutan itu ulah manusia baik itu yang disengaja ataupun tidak disengaja karena kelalaian, dan motif utamanya selalu satu ekonomi. Karena saya tahu pembersihan lahan itu lewat pembakaran adalah cara yang paling murah," kata Jokowi saat memberikan arahan kepada Peserta Rakornas Pengendalian Karhutla di Istana Negara, Jakarta, Senin (22/2/2021).

Musim Kemarau Berkepanjangan

Penyebab kebakaran hutan di Riau selanjutnya yaitu musim kemarau. Potensi terbakarnya hutan di Riau semakin meningkat sebab hutan tersebut merupakan hutan gambut. Selama 2019 lalu, dari 1/1/2019 hingga 18/2/2019 tercatat 843 hektare lahan terbakar di Provinsi Riau. Sebaran dari kebakaran lahan ini adalah di Kabupaten Rokan Hilir 117 ha, Dumai 43,5 ha, Bengkalis 627 ha, Meranti 20,2 ha, Siak 5 ha, Kampar 14 ha, dan Kota Pekanbaru 16 ha melansir dari laman resmi BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).

Kebakaran hutan disebabkan pula oleh kondisi iklim ekstrem El Nino seperti kebakaran yang terjadi tahun 1987, 1991, 1994, 1997, 1998, dan 2005 menurut Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan UNDP (2006).

Sebab Lain

Sebab lain yang bisa menjadi penyebab kebakaran hutan di Riau adalah faktor kurangnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya api. Biasanya bentuk kegiatan yang menjadi penyebab adalah ketidaksengajaan dari pelaku.

Misalnya masyarakat mempunyai interaksi yang tinggi dengan hutan. Salah satu bentuk interaksi tersebut adalah kebiasaan penduduk merokok sambil bekerja di lokasi hutan yang mudah terbakar. Dengan tidak sadar mereka membuang puntung rokok dalam kawasan hutan yang mempunyai potensi bahan bakar melimpah sehingga memungkinkan terjadi kebakaran.

Dampak Kebakaran Hutan

Dampak negatif yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan cukup besar mencakup kerusakan ekologis, menurunnya keanekaragaman hayati, merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktivitas tanah, perubahan iklim mikro maupun global, dan asapnya mengganggu kesehatan masyarakat serta mengganggu transportasi baik darat, sungai, danau, laut dan udara. Gangguan asap karena kebakaran hutan Indonesia akhir-akhir ini telah melintasi batas negara.

Kebakaran tahun 1997/98 mengakibatkan degradasi hutan dan deforestasi menelan biaya ekonomi sekitar US $ 1,6-2,7 milyar dan biaya akibat pencemaran kabut sekitar US $ 674-799 juta. Kerugian yang diderita akibat kebakaran hutan tersebut kemungkinan jauh lebih besar lagi karena perkiraan dampak ekonomi bagi kegiatan bisnis di Indonesia tidak tersedia. Valuasi biaya yang terkait dengan emisi karbon kemungkinan mencapai US $ 2,8 milyar (Tacconi, 2003).

Hutan yang terbakar berat akan sulit dipulihkan, karena struktur tanahnya mengalami kerusakan. Hilangnya tumbuh-tumbuhan menyebabkan lahan terbuka, sehingga mudah tererosi, dan tidak dapat lagi menahan banjir. Karena itu setelah hutan terbakar, sering muncul bencana banjir pada musim hujan di berbagai daerah yang hutannya terbakar.

Sumber daya obat-obatan dan bahan kimia yang bermanfaat yang dikandung oleh spesies liar mungkin hilang untuk selamanya. Kekayaan spesies yang terdapat pada hutan hujan tropis mungkin mengandung bahan kimia dan obat-obatan yang berguna. Banyak spesies lautan mempertahankan dirinya secara kimiawi dan ini merupakan sumber bahan obat-obatan yang penting.

(mdk/amd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP