Osteoporosis merupakan penyakit yang menyebabkan kepadatan dan kualitas tulang menurun sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama pada orang berusia di atas 50 tahun, karena sering berkembang tanpa gejala hingga terjadi patah tulang atau fraktur.
Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi, dr. Wijaya Johanes Chendra mengatakan, patah tulang akibat osteoporosis paling sering terjadi pada tiga bagian tubuh, yakni panggul atau paha atas, tulang belakang, dan pergelangan tangan.
Ketiga lokasi tersebut memiliki risiko komplikasi yang berbeda. Patah tulang panggul, misalnya, dapat menyebabkan penurunan kemandirian, kecacatan jangka panjang, hingga meningkatkan risiko kematian pada lansia. Sementara itu, patah tulang belakang kerap tidak terdeteksi, meskipun dapat menimbulkan nyeri kronis, perubahan postur tubuh atau kifosis, serta penurunan tinggi badan.
Advertisement
Mengapa Osteoporosis Meningkatkan Risiko Patah Tulang?
Osteoporosis terjadi ketika kepadatan dan kualitas tulang menurun sehingga tulang kehilangan kekuatannya. Akibatnya, benturan ringan atau jatuh yang mungkin tidak menyebabkan cedera serius pada orang dengan tulang sehat dapat memicu patah tulang pada penderita osteoporosis.
Risiko ini menjadi perhatian seiring bertambahnya usia. Secara global, diperkirakan lebih dari 500 juta orang hidup dengan osteoporosis. Sekitar satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki berusia di atas 50 tahun diperkirakan mengalami patah tulang akibat kerapuhan tulang sepanjang hidupnya.
Di Indonesia, peningkatan jumlah penduduk lanjut usia turut menjadi perhatian karena berpotensi menambah beban osteoporosis. Angka osteoporosis bahkan diproyeksikan meningkat hingga 135 persen pada 2050.
Advertisement
Tiga Jenis Patah Tulang Akibat Osteoporosis yang Perlu Diwaspadai
Patah tulang panggul
Patah tulang panggul termasuk komplikasi osteoporosis yang serius karena dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk berjalan dan menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Kondisi ini juga berkaitan dengan risiko kecacatan jangka panjang dan kematian yang lebih tinggi pada lansia.
Penanganannya umumnya memerlukan operasi untuk memperbaiki atau mengganti bagian tulang yang patah. Menurut dr. Wijaya, tindakan operasi dianjurkan dilakukan sedini mungkin setelah kondisi pasien dinilai memungkinkan.
Patah tulang belakang
Patah tulang belakang akibat osteoporosis sering kali tidak terdiagnosis karena gejalanya dapat kurang jelas. Namun, kondisi ini bisa menyebabkan nyeri kronis, postur tubuh membungkuk atau kifosis, serta berkurangnya tinggi badan.
Penanganan awal umumnya dapat dilakukan tanpa operasi. Meski demikian, tindakan tertentu mungkin diperlukan apabila nyeri berat berlangsung terus-menerus atau terjadi gangguan saraf.
Patah tulang pergelangan tangan
Patah tulang pergelangan tangan juga menjadi salah satu jenis fraktur yang sering berkaitan dengan osteoporosis, terutama setelah seseorang terjatuh dan menumpukan tangan untuk menahan tubuh.
Operasi dapat dipertimbangkan apabila posisi tulang bergeser atau patahan tidak stabil. Keputusan penanganan ditentukan berdasarkan kondisi tulang dan hasil pemeriksaan medis.
Advertisement
Bagaimana Cara Mencegah Osteoporosis dan Patah Tulang?
Pencegahan osteoporosis tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga memerlukan perubahan gaya hidup. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah rutin beraktivitas fisik untuk membantu mempertahankan kekuatan tulang, memperkuat otot, serta meningkatkan keseimbangan tubuh.
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Bernadette Laura, menjelaskan bahwa aktivitas fisik yang memberikan beban pada tulang dapat merangsang proses pembentukan dan pembaruan tulang sehingga membantu menjaga kepadatan tulang.
Beberapa jenis latihan yang dapat dilakukan antara lain:
Latihan menahan beban tubuh (weight-bearing exercise), seperti berjalan kaki dan naik tangga.Latihan beban, untuk membantu memperkuat otot dan mendukung kesehatan tulang.Latihan fleksibilitas dan keseimbangan, untuk membantu menjaga koordinasi tubuh dan mengurangi risiko jatuh.
Bagi penderita osteoporosis, olahraga tetap dapat dilakukan. Namun, jenis dan intensitas latihan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing serta dilakukan secara aman dan terstruktur, mengingat risiko patah tulang yang lebih tinggi.
Selain berolahraga, masyarakat perlu mengenali faktor risiko osteoporosis, menjalani pemeriksaan medis sesuai indikasi, serta berkonsultasi dengan dokter spesialis untuk menentukan langkah pencegahan dan penanganan yang tepat.
Dalam momentum Hari Osteoporosis Sedunia yang diperingati setiap 20 Oktober, masyarakat diimbau untuk semakin memperhatikan kesehatan tulang. Deteksi dini dan upaya pencegahan penting dilakukan agar risiko patah tulang dapat ditekan dan kualitas hidup, khususnya pada kelompok lanjut usia, tetap terjaga.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9371919/original/008702900_1791854435-000_D2Z484J.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3271648/original/098569700_1603099779-cute-3284412_1920.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5214032/original/067657500_1746709235-hot-ginger-tea-table_1150-28420.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3990017/original/053057400_1649479346-omurden-cengiz--G2iJF_aUws-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376011/original/005206300_1792293410-pertasindo.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3567730/original/023724300_1631266263-20210910-Game-Online-China-2.jpg)