Fungsi saraf adalah untuk mengirimkan sinyal dari otak ke seluruh bagian tubuh dan sebaliknya. Oleh karena itu, dokter spesialis saraf, Tri Wahyudi dari RS EMC Alam Sutera, menyatakan bahwa saraf berperan sebagai "jalur komunikasi" yang sangat vital bagi tubuh.
"Namun, banyak di antara kita yang tanpa disadari melakukan kebiasaan sehari-hari yang dapat memberikan tekanan atau merusak saraf. Masalahnya, dampaknya tidak selalu terasa dengan segera. Terkadang, gejala baru muncul setelah bertahun-tahun, seperti kesemutan, nyeri, atau bahkan kelemahan otot," ungkap Tri, mengutip laman EMC pada Selasa (17/2).
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang secara diam-diam dapat merusak saraf, salah satunya adalah: Duduk Terlalu Lama dengan Postur yang Salah. Di era digital saat ini, duduk dalam waktu yang lama telah menjadi kebiasaan bagi banyak orang.
Posisi duduk yang tidak benar dapat memberikan tekanan pada saraf, terutama di area punggung, leher, dan pinggang. Bayangkan saraf seperti kabel yang perlu tetap lurus agar aliran sinyal tetap lancar.
Jika tubuh membungkuk atau membengkokkan pinggang terlalu lama, saraf bisa terjepit, yang dapat menyebabkan rasa nyeri atau kesemutan. Seringkali, seseorang baru menyadari hal ini setelah beberapa jam duduk atau setelah pulang kerja, ketika punggung terasa kaku dan tangan atau kaki mulai kesemutan.
Berikut adalah beberapa tips sederhana untuk menjaga kesehatan saraf:
- Gunakan kursi yang mendukung punggung dengan baik.
- Duduklah dengan tegak, pastikan kedua kaki menapak di lantai, dan hindari menyilangkan kaki terlalu lama.
- Bangun dan berjalan sejenak setiap 30 hingga 60 menit.
- Atur posisi layar komputer sejajar dengan mata agar leher tidak menunduk.
"Posisi duduk yang tidak benar tidak hanya merusak saraf tulang belakang, tetapi juga dapat memengaruhi saraf tangan dan kaki akibat tekanan pada saraf di pinggang atau leher. Oleh karena itu, penting untuk tidak mengabaikan postur duduk meskipun hanya untuk waktu yang singkat," tegas Tri.
Advertisement
Mengangkat dan membawa beban dengan cara yang tidak tepat
Seringnya menggendong anak, membawa tas berat, atau belanja tanpa memperhatikan posisi tubuh dapat memberikan tekanan yang signifikan pada saraf, terutama di area punggung dan bahu. Banyak orang yang merasa kuat sering kali mengabaikan teknik pengangkatan yang benar. Akibat kebiasaan ini, saraf yang tertekan dapat menyebabkan nyeri punggung kronis, kesemutan, atau otot yang terasa lemah. Jika kebiasaan ini dibiarkan, saraf bisa mengalami "cedera" yang mengganggu koordinasi tubuh.
Berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu:
- Angkat beban dengan menggunakan lutut, bukan punggung.
- Pilih tas punggung dengan dua tali untuk membagi berat secara merata.
- Hindari membawa terlalu banyak barang sekaligus; sebaiknya bagi beban menjadi beberapa bagian.
- Berikan waktu istirahat pada tubuh jika merasakan pegal atau nyeri.
"Banyak orang berpikir beban berat hanya berdampak pada otot, padahal saraf juga dapat tertekan. Menjaga teknik pengangkatan yang tepat bukan hanya melindungi saraf, tetapi juga mencegah cedera pada otot," ungkap Tri.
Advertisement
Membungkuk dalam waktu yang lama
Ponsel pintar, tablet, dan laptop telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Namun, kebiasaan menatap layar dengan posisi menunduk secara terus-menerus dapat memberikan tekanan pada saraf di leher dan bahu. Kondisi ini dikenal dengan istilah "text neck", yang dapat menyebabkan nyeri, kesemutan, atau ketegangan pada lengan dan jari. Gangguan pada saraf ini bisa membuat tangan terasa kaku atau lemah, dan beberapa orang bahkan merasakan kesemutan di jari meskipun tidak melakukan aktivitas berat.
Untuk mengatasi masalah ini, ada beberapa tips sederhana yang bisa diterapkan:
- Usahakan agar layar sejajar dengan mata sebanyak mungkin
- Gunakan sandaran tangan saat mengetik agar lengan tidak tegang
- Berikan istirahat pada mata dan leher setiap 20-30 menit dengan mengalihkan pandangan ke arah yang jauh.
"Masalah ini tidak hanya soal leher kaku. Saraf yang menahan posisi kepala dan bahu lama-lama bisa terganggu, sehingga tangan dan jari ikut merasakan dampaknya."
Advertisement
Menjaga kesehatan saraf
Untuk menjaga kesehatan saraf, penting untuk menggunakannya secara teratur, sama seperti kita menjaga otot. Jika tubuh jarang bergerak, aliran darah yang menuju saraf akan berkurang, sehingga saraf menjadi lebih sensitif terhadap tekanan atau cedera. Sering kali, orang yang tidak banyak bergerak mengeluhkan nyeri ringan, pegal, atau kesemutan di bagian tangan dan kaki. Selain itu, saraf yang tidak aktif dapat kehilangan kelenturan serta responsivitasnya.
Berikut adalah beberapa tips sederhana yang dapat dilakukan:
- Melakukan olahraga ringan setiap hari, seperti jalan kaki, peregangan, atau yoga.
- Melakukan gerakan sederhana untuk melatih tangan dan kaki saat duduk dalam waktu lama.
"Aktivitas fisik tidak hanya melatih otot, saraf juga butuh stimulasi agar tetap tanggap. Tubuh yang terlalu lama diam membuat saraf lebih mudah tertekan dan menimbulkan masalah," jelas Tri.
Advertisement
Mengabaikan rasa pegal, kesemutan, dan nyeri ringan
Rasa pegal, kesemutan, atau nyeri ringan sering kali diabaikan dengan alasan bahwa gejalanya tidak terlalu parah atau dianggap biasa. Namun, kondisi ini sebenarnya bisa menjadi sinyal awal bahwa saraf mulai mengalami gangguan. Jika dibiarkan, gejala ini dapat menyebabkan saraf semakin tertekan, dan seiring waktu, bisa berkembang menjadi masalah yang lebih serius, seperti kelemahan otot atau kesulitan dalam koordinasi. Oleh karena itu, penting untuk tidak mengabaikan gejala yang muncul.
Berikut adalah beberapa tips sederhana yang dapat membantu:
- Dengarkan tubuh Anda: jangan abaikan kesemutan atau rasa pegal yang muncul secara berulang.
- Berikan istirahat pada bagian tubuh yang terasa nyeri.
- Jika gejala tersebut berlangsung lebih dari beberapa minggu, segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan.
"Gejala awal gangguan saraf sering kali bersifat halus, tetapi memberikan sinyal penting bagi tubuh. Mengabaikannya sama saja dengan memberi izin bagi kerusakan saraf yang lebih serius di masa depan," ungkap Tri. "Ingatlah, kesehatan saraf tidak hanya berarti bebas dari rasa sakit. Saraf yang sehat juga berarti tubuh dapat berfungsi secara optimal, energi meningkat, dan aktivitas sehari-hari terasa lebih ringan. Oleh karena itu, mulai sekarang, perhatikan kebiasaan kecil yang mungkin tanpa sadar merusak saraf Anda," tambahnya.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8664329/original/027941200_1782694049-080104.669-saraf-bisa-rusak-gegara-5-kebiasaan-ini-dokter-bagikan-tips-mencegahnya-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4673581/original/027346000_1701683913-WhatsApp_Image_2023-12-04_at_16.45.42_f2e8e815.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4132502/original/016758000_1661224670-avinash-uppuluri-pAgXv4W1Iu0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9369554/original/075260600_1791528713-daily-nouri-D37STEwmyqY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9301101/original/078119100_1784438226-pexels-shiau-tung-su-2160862723-37049841.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9375675/original/024616400_1792207272-WhatsApp_Image_2026-10-17_at_10.13.52.jpeg)