Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sunan Gresik dan ritual minta hujan

Sunan Gresik dan ritual minta hujan Wali songo. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim, adalah tokoh penting dari sederetan nama wali songo yang menyebarkan agama Islam di bumi Nusantara. Maulana mulai mengembara menyiarkan agama Islam di pesisir pantai utara tanah Jawa bagian timur.

Banyak perilaku baik Maulana yang dapat diteladani oleh umat Islam saat ini, seperti kepeduliannya kepada anak yatim piatu.

Pada masa kemunduran kerajaan Majapahit, kondisi politik Nusantara amburadul. Perang saudara, kudeta, pemisahan wilayah, hingga korupsi upeti muncul setiap hari. Terlebih datangnya musim kemarau yang panjang, kondisi inilah yang memicu ketakutan masyarakat untuk bekerja mengolah lahan pertanian mereka. Sehingga kelaparan dan kesengsaraan melanda sebagian besar rakyat di Nusantara.

Mendengar carut-marutnya kondisi masyarakat, Maulana ditemani sejumlah muridnya melakukan perjalanan untuk mengetahui kondisi pasti masyarakat. Setelah melakukan perjalanan cukup jauh, Maulana tiba di suatu perkampungan yang kering dan tandus.

Dari kejauhan Maulana melihat ada sekumpulan warga di tengah tanah lapang, setelah berusaha mendekat, Maulana melihat seorang perempuan dengan tangan terikat diseret ke tengah lapangan. Kemudian perempuan yang mengenakan pakaian serba putih itu, segera dibaringkan di atas altar oleh sejumlah orang.

"Wahai Dewa Hujan, terimalah perembahan kami. Curahkan limpahan air Mu ke bumi yang gersang ini," kata pemimpin upacara sambil mencabut belati dari baik pingganggnya.

Melihat perlakuan pemimpin upacara yang menyerupai perbuatan orang jahiliyah, Maulana langsung berusaha menghentikan ritual itu. Maulana kemudian mempertanyakan maksud ritual.

"Kami mengharap turunnya hujan," jawab pemimpin upacara singkat.

Setelah terjadi pembicaraan antara Maulana dengan Pemimpin upacara, akhirnya sang pemimpin yang tidak suka kehadiran Maulana, memerintah dua pengawalnya untuk membunuh Maulana dengan golok. Namun belum sempat menyentuh, golok yang diayunkan seketika berhenti. Melihat anak buahnya gagal membunuh Maulana, akhirnya dengan tergesa-gesa pemimpin upacara segera menikam belati ke arah jantung perempuan itu. Anehnya tangan yang memegang belati tiba-tiba tidak bisa digerakkan.

Tujuan mengorbankan perempuan itu sebagai syarat kepada dewa hujan, untuk menurunkan air hujan dari langit. Mengetahui perbuatan syirik itu, Maulana membuat kesepakatan dengan penduduk desa untuk melepaskan perempuan itu, dengan imbalan dia akan membantu memohonkan turun hujan.

"Dalam ajaran agama kami, seorang anak yang ditinggal mati kedua orang tuanya, disebut yatim piatu. Tidak boleh disia-siakan dan ditelantarkan, melainkan harus disantuni dan diperhatikan nasibnya. Bukannya dikorbankan kepada Dewa Hujan,” kata Maulana.

Setelah kesepakatan dipenuhi, Maulana bersama muridnya melakukan shalat istisqo' atau meminta hujan dan berdoa dengan khusuk. Tidak lama kemudian, suasana yang tadinya kering dan tandus tiba-tiba gelap ditutupi awan hitam, satu per satu rintikan hujan turun hingga hujan lebat terjadi.

Melihat keajaiban yang terjadi, maka seluruh penduduk desa itu serentak meminta kepada Maulana untuk diajarkan caranya meminta hujan tanpa mengorbankan jiwa. "Kalau kalian ingin diajari cara minta hujan seperti tadi, maka kalian harus mengenal dan mempelajari dulu agama Islam. Maukah kalian?" permintaan itu kemudian disambut baik oleh seluruh masyarakat, sehingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.

Dari berbagai sumber. (mdk/war)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP