Tiga Tokoh Indonesia Suarakan Perdamaian Dunia di Roma: Dari Politik, Spiritual, hingga Ekonomi, Ini Pesan Mereka!

Tiga tokoh Indonesia, Jusuf Kalla, Nasaruddin Umar, dan Arsjad Rasjid, lantangkan seruan untuk Perdamaian Dunia di Roma. Mereka tunjukkan wajah plural Indonesia. Simak pesan pentingnya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tiga Tokoh Indonesia Suarakan Perdamaian Dunia di Roma: Dari Politik, Spiritual, hingga Ekonomi, Ini Pesan Mereka!
Tiga tokoh Indonesia, Jusuf Kalla, Nasaruddin Umar, dan Arsjad Rasjid, lantangkan seruan untuk Perdamaian Dunia di Roma. Mereka tunjukkan wajah plural Indonesia. Simak pesan pentingnya! (AntaraNews)

Tiga tokoh terkemuka Indonesia, Jusuf Kalla, Nasaruddin Umar, dan Arsjad Rasjid, baru-baru ini menggaungkan seruan kuat untuk perdamaian dunia. Mereka hadir dalam acara Daring Peace – International Meeting for Peace 2025 yang diselenggarakan di Roma, Italia. Acara penting ini berlangsung pada Senin, 27 Oktober, menarik perhatian global terhadap isu kemanusiaan.

Kehadiran mereka di forum internasional tersebut bukan tanpa alasan yang kuat dan strategis. Ketiganya membawa perspektif yang beragam dan saling melengkapi, mencakup dimensi politik, spiritualitas, dan ekonomi. Ini secara jelas mencerminkan kekayaan budaya dan toleransi Indonesia sebagai negara plural yang menjunjung tinggi nilai-nilai dialog.

Dalam kesempatan tersebut, para tokoh ini menegaskan komitmen Indonesia terhadap dialog dan kemanusiaan di tengah krisis global. Mereka berupaya menunjukkan kepada dunia bagaimana keberagaman dapat menjadi fondasi perdamaian yang kokoh. Forum ini menjadi wadah penting untuk mencari solusi di tengah meningkatnya konflik dan ekstremisme.

Jusuf Kalla: Perdamaian Adalah Keberanian Dialog

Wakil Presiden Ke-10 dan Ke-12 RI, Jusuf Kalla, yang dikenal luas sebagai mediator konflik di Poso dan Aceh, menyampaikan pandangannya yang mendalam. Beliau menegaskan bahwa perdamaian bukan hanya sekadar ketiadaan perang, melainkan sebuah keberanian.

"Perdamaian adalah keberanian untuk meletakkan senjata, baik fisik maupun ideologis, dan memilih keadilan serta kemanusiaan," kata Jusuf Kalla. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya dialog dan resolusi konflik secara damai di seluruh dunia.

Lebih lanjut, Jusuf Kalla juga menyoroti peran strategis masjid dalam masyarakat. Menurutnya, masjid dapat menjadi pusat pembinaan moral dan sosial umat, melampaui fungsi utamanya sebagai tempat ibadah.

"Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang sosial yang menumbuhkan keadaban dan solidaritas kemanusiaan," ucapnya. Pandangan ini menunjukkan visi holistik terhadap pembangunan masyarakat yang damai dan berkeadilan.

Nasaruddin Umar: Waspada Politisasi Agama, Junjung Kerukunan

Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, memberikan peringatan serius mengenai bahaya politisasi agama. Menurutnya, penyalahgunaan agama merupakan ancaman nyata bagi perdamaian dunia yang harus diwaspadai.

"Ancaman terbesar bagi perdamaian bukan agama, melainkan penyalahgunaan agama," tegas Nasaruddin Umar. Ia menekankan bahwa esensi agama adalah membawa kedamaian, bukan perpecahan di antara umat manusia, dan harus dijunjung tinggi.

Beliau juga menyoroti pentingnya Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, atau rahmatan lil alamin. Nasaruddin Umar mengajak dunia untuk meneladani Indonesia sebagai 'laboratorium kerukunan' yang patut dicontoh.

"Keberagaman Indonesia adalah warisan spiritual yang dapat dibagikan kepada dunia," katanya. Ini menunjukkan bagaimana umat beragama di Indonesia dapat hidup berdampingan secara harmonis, menjadi inspirasi bagi perdamaian global.

Arsjad Rasjid: Ekonomi Berkeadaban Kunci Solidaritas

Dari dimensi ekonomi, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Arsjad Rasjid, membahas peran krusial ekonomi dalam menjaga perdamaian. Ia mengidentifikasi ketimpangan ekonomi sebagai sumber laten konflik yang sering terabaikan.

"Ekonomi tanpa kemanusiaan adalah bentuk konflik tersembunyi," ujarnya dalam sesi bertema Economy and Solidarity. Pernyataan ini menyoroti bahwa masalah ekonomi dapat memicu ketidakstabilan sosial dan konflik yang berkepanjangan.

Arsjad Rasjid juga menekankan pentingnya pengembangan ekonomi yang berkeadaban dan pemberdayaan masyarakat. Ini harus dilakukan dengan basis solidaritas sosial yang kuat untuk mencapai tujuan Perdamaian Dunia yang berkelanjutan.

Ia menyerukan agar dunia usaha tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi juga menjadi bagian dari solusi kemanusiaan. Dunia usaha diharapkan dapat berkontribusi aktif dalam upaya menciptakan perdamaian global yang berkelanjutan.

Indonesia sebagai Model Kerukunan Global

Kehadiran ketiga tokoh Indonesia di forum Daring Peace – International Meeting for Peace 2025 di Roma ini memperkuat posisi Indonesia. Negara ini dikenal sebagai contoh nyata koeksistensi harmonis antarumat beragama dan budaya yang beragam.

Forum lintas agama dan budaya ini mempertemukan ribuan tokoh dunia untuk membahas isu-isu krusial. Tujuannya adalah mencari jalan keluar dari meningkatnya konflik dan ekstremisme yang mengancam stabilitas global secara serius.

Melalui suara Jusuf Kalla, Nasaruddin Umar, dan Arsjad Rasjid, Indonesia menunjukkan komitmennya. Komitmen ini untuk tidak hanya menjaga perdamaian di dalam negeri, tetapi juga berkontribusi aktif dalam upaya Perdamaian Dunia.

Perspektif yang mereka bawa, dari politik, spiritual, hingga ekonomi, saling melengkapi. Ini memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana sebuah bangsa plural dapat menjadi agen perubahan positif bagi kemanusiaan secara universal.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi