Sindir Fadli Zon, Hasto Kristiyanto Bilang Politisi Harus Berbicara yang Baik

Sabtu, 9 Februari 2019 23:39 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Sindir Fadli Zon, Hasto Kristiyanto Bilang Politisi Harus Berbicara yang Baik Hasto bersama pengurus Senapati Nusantara di yogyakarta. ©2019 Merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Politisi harus belajar dari kebudayaan yang penuh dengan nilai-nilai peradaban. Karena kebudayaan itu pada dasarnya tak bisa disalahgunakan. Begitu disalahgunakan, maka bisa terjadi masalah seperti penghinaan ulama.

Hal itu diungkap Sekjen Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji (Senapati) Nusantara, Hasto Kristiyanto, di sela rapat kerja agung 2019 di Yogyakarta, Sabtu (9/2) malam. Acara itu dihadiri perwakilan pengurus Senapati Nusantara dari seluruh Indonesia.

Kata Hasto, politik seharusnya menyentuh aspek kebudayaan yang penuh nilai peradaban.

"Karena kebudayaan itu tidak bisa disalahgunakan. Puisi bisa disalahgunakan untuk menghina ulama, itu juga bisa. Tapi kita di Senapati Nusantara tidak ingin seperti itu. Kita ingin berbicara tentang hal-hal yang baik dengan keris ini. Politik bicara hal yang baik. Politisi itu seharusnya berbicara perilaku yang baik," ujar Hasto, yang juga Sekjen PDI Perjuangan itu.

Hasto menyindir Wakil Ketua DPR, Fadli Zon, yang belakangan dikritik karena dianggap menghina ulama senior KH Maimoen Zubair lewat sebuah puisi berjudul 'Doa yang Ditukar'. Karya itu dikeluarkan Fadli di tengah panasnya persaingan politik Pilpres 2019.

Lebih lanjut, Hasto mengatakan, acara rapat agung ini adalah demi melakukan evaluasi serta perencanaan kegiatan para pelestari tosan aji nasional itu. Namun intisarinya adalah bagaimana Senapati Nusantara bisa terus memperhatikan kebudayaan nasional.

"Sebab ini bukan sekadar seni dalam logam. Tetapi di dalamnya juga mengandung nilai-nilai luhur, esensi kebudayaan manusia Indonesia," kata Hasto.

Rapat kerja agung itu sendiri sudah dibuka sejak Sabtu (8/2) pagi. Rangkaian acara diawali dengan pameran masterpiece keris nusantara dan bursa tosan aji nasional di Hotel Rosin, Yogyakarta.

Ribuan tosan aji diperagakan maupun diperjualbelikan di arena itu. Ketika tiba di Yogyakarta, hal yang pertama dilakukan Hasto adalah mengunjungi pameran itu sebelum mengikuti acara rapat agung.

Sementara itu, salah satu isu lainnya yang mengemuka dalam rapat kerja itu menyangkut usulan agar Pemerintah segera menetapkan Hari Keris Nasional. Usulan itu dipacu juga oleh keputusan lembaga internasional, Unesco, yang menyatakan keris sebagai warisan dunia.

Hasto mengaku dirinya terus berkomunikasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Sekretaris Negara soal penetapan Hari Keris Nasional itu.

"Kami yakin ini bisa segera ditetapkan karena kita tahu benar bagaimana perhatian Presiden Jokowi terhadap kebudayaan," kata Hasto.

Dia meyakini Jokowi akan seperti Bung Karno, yang pada 1957 melakukan diplomasi ke AS dan Eropa. Bung Karno membawa para seniman seperti Bagong Kussudiardja, para pesilat, dan tosan aji nasional.

"Jadi kita yakin bahwa perhatian terhadap kebudayaan dari Pak Jokowi pasti besar," imbuhnya. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini