Sejarah 'Supersemar' dan kukuhnya Tommy Soeharto jadi Ketum Partai Berkarya

Senin, 12 Maret 2018 06:15 Reporter : Arie Sunaryo
Sejarah 'Supersemar' dan kukuhnya Tommy Soeharto jadi Ketum Partai Berkarya tommy soeharto di rapimnas partai berkarya di Solo. ©2018 Merdeka.com/arie sunaryo

Merdeka.com - Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Berkarya yang berakhir hampir tengah malam, secara aklamasi memilih Hutomo Mandala Putra menjadi ketua umum. Tanda-tanda akan dikukuhkannya pria akrab disapa Tommy Soeharto itu sebagai nahkoda partai bernomor urut 7 tersebut, sudah terasa saat pembukaan rapimnas si Lorin Solo Hotel, Sabtu (10/3) lalu.

Saat sambutan pembukaan, Neneng A Tutty sang ketua umum sudah menyinggung soal estafet kepemimpinan yang akan diserahkan kepada putra Presiden ke-2 RI Soeharto tersebut. Dan ratusan peserta rapimnas pun menyetujui usulan tersebut.

Dengan pengukuhan tersebut, Neneng A melepaskan jabatannya sebagai ketua umum dan menyerahkannya kepada Tommy Soeharto. Adapun Tommy sebelumnya menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya.

"Rapat Pimpinan Nasional menetapkan Bapak H Hutomo Mandala Putra, SH, sebagai Ketua Umum DPP Partai Berkarya periode 2017-2022," ujar Sekjen Partai Berkarya, Badaruddin Andi Picunang saat membacakan surat keputusan dalam penutupan rapimnas, Minggu (11/3) malam.

Usai pembacaan surat keputusan tersebut, ratusan kader berdiri dan bertepuk tangan serta bersorak sorai. Selain takbir mereka juga meneriakkan kata-kata inisial Hutomo Mandala Putra.

"Allahu Akbar, HMP, HMP, HMP," teriak para kader.

Menariknya, pengukuhan Tommy Soeharto menjadi ketua umum Partai Berkarya bertepatan dengan tanggal 11 Maret. Sebagaimana diketahui tanggal tersebut mempunyai sejarah dan peristiwa yang tidak terlupakan. Dimana saat itu tahun 1966, muncul Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar.

Yakni surat perintah yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno yang berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu.

"Ini kebetulan saja tanggalnya sama. 11 Maret, tidak kita pas-paskan. Tidak ada kaitannya juga dengan Supersemar," kilah Tommy.

Supersemar adalah titik awal kejatuhan Presiden Soekarno. Supersemar adalah perintah tertulis dari Presiden Soekarno pada Jenderal Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban setelah peristiwa G30S PKI tahun 1965.

Saat itu rakyat menuntut Soekarno membubarkan PKI. Harga kebutuhan barang pokok terus naik dan pemerintah Orde Lama dinilai tak mampu menjalankan pemerintahan.

Supersemar itulah yang dijadikan legitimasi oleh Jenderal Soeharto segera bergerak membubarkan PKI. Dalam waktu singkat TNI AD yang dibantu unsur-unsur masyarakat antikomunis menghabisi kekuatan PKI yang tersisa.

pelan-pelan situasi berubah. Kekuasaan Soekarno makin meredup dan Jenderal Soeharto makin berkuasa. Puncaknya adalah ketika MPRS bersidang mengakhiri kekuasaan Soekarno yang dulu diangkat menjadi presiden seumur hidup.

Namun hingga kini, naskah Supersemar asli tak pernah ditemukan. Siapa yang menyimpannya tak diketahui. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini