Sandiaga lebih percaya survei internal ketimbang LSI Denny JA

Selasa, 23 Oktober 2018 19:54 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Sandiaga lebih percaya survei internal ketimbang LSI Denny JA Gaya unik Sandiaga. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Kasus hoaks Ratna Sarumpaet memiliki dampak elektoral cukup signifikan terhadap elektabilitas kedua pasangan calon presiden. LSI Denny JA dalam survei terbarunya menunjukkan peningkatan elektabilitas pasangan nomor urut 01, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin. Sementara, elektabilitas pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno cenderung stagnan.

Melihat hasil tersebut, cawapres Sandiaga Uno berterimakasih kepada LSI. Namun Sandiaga tak percaya hasil survei yang dibuat LSI, lantaran berbeda dengan survei tim internalnya yang elektabilitas naik mengejar Jokowi-Ma'ruf.

"Tentunya itu tambahan data yang kita apresiasi, tapi survei kami yang baru dirilis kepada tim karena survei kami internal dan tidak pernah kami publikasikan karena ini bagian daripada strategi, kedudukan kami mengejar," kata Sandiaga di media center Prabowo-Sandi, Jl Sriwijaya I, Jakarta Selatan, Selasa (23/10).

"Boleh dicek deh survei LSI dibandingkan survei internal kami di pilkada-pilkada DKI terutama dan pilkada lain," sambungnya.

Sandi sendiri sepakat dengan survei LSI yang mengangkat kasus hoaks Ratna Sarumpaet. Dirinya setuju bahwa hoaks mesti diperangi.

"Dan kami yang waktu bu Ratna kejadian kasus hoaks di Ratna ini memang kami di pihak yang dikecoh. Namun berdasarkan data analytic yang kami miliki menunjukkan suatu simpati, bahwa Pak Prabowo-Sandi memiliki rasa iba, apalagi ini dilakukan kepada perempuan, kita harus memberikan perlindungan kepada perempuan," papar Sandiaga.

Mantan politisi Gerindra itu punya data akurat bahwa sejak kasus Ratna Sarumpaet, simpati masyarakat justru semakin tinggi kepada Prabowo-Sandi. Dia juga belajar dari kasus tersebut supaya tidak kembali terkecoh. Sandi bersama timnya sudah menutup rapat isu tersebut dan kini fokus melangkah di isu ekonomi.

"Ekonomi ini yang kemarin sempat tidak tersentuh di saat kemarin sibuk ngurusin kasus tersebut. Jadi saya terima kasih kepada LSI, tapi data kami menunjukkan data lain," pungkasnya.

Pada survei yang dilaksanakan LSI Denny JA pada 10-19 Oktober 2018, atau setelah terungkapnya kebohongan Ratna Sarumpaet, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf berada di angka 57,7 persen. Keduanya tetap unggul dibandingkan lawannya, Prabowo-Sandiaga di angka 28,6 persen. Sedangkan pemilih belum memutuskan sebesar 13,7 persen.

Survei tersebut memiliki 1.200 responden yang diambil secara acak (multistage random sampling). Wawancara dilakukan secara tatap muka. Serta, survei memiliki Margin of Error 2,8 persen.

Adapun tren elektabilitas bagi Jokowi-Ma'ruf cenderung meningkat. Catatan LSI pada Agustus sebesar 52,2 persen, September 53,2 persen. Cukup tajam pasca kasus hoaks Ratna Sarumpaet, naik 4,5 persen ke 57,7 persen di Oktober 2017.

Sedangkan, elektabilitas Prabowo-Sandiaga cenderung stagnan. Pada Agustus 29,5 persen, September 29,2 persen, dan terbaru 28,6 persen.

Peneliti LSI Ikrama Masloman menjelaskan, dampak hoaks Ratna Sarumpaet bukannya mengurangi dukungan terhadap Prabowo-Sandiaga. Melainkan, perubahan pada pemilih yang belum memutuskan (undecided voter).

"Efek elektoral hoaks RS bukan mengurangi dukungan ke Pak Prabowo, tetapi yang belum memutuskan pilihan cenderung ke pak Jokowi," jelasnya saat memaparkan survei di kantor LSI, Rawamangun, JakartaTimur, Selasa (23/10).

Dari segmen pendukung di kalangan terpelajar, dukungan kepada Jokowi meningkat. Pendukung dengan pendidikan perguruan tinggi meningkat dari 40,5 persen di September, menjadi 44 persen di Oktober. Sementara, Prabowo menurun, dari 46,8 persen di September, menjadi 37,4 persen di Oktober. Atau pasca hoaks Ratna Sarumpaet.

Hal sama juga terjadi di segmen pendapatan. Pendukung Jokowi dengan pendapatan di atas Rp 3 juta meningkat dari 46,2 persen menjadi 54,8 persen. Pendukung Prabowo menurun, dari 43,8 persen menjadi 34,5 persen.

"Kalangan terpelajar dan segmen menengah ke atas kurang menyukai pemimpin yang mudah terkecoh dan reaksioner," jelas Ikrama. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini