Perjalanan panjang kisruh Golkar berujung dukungan ke Jokowi-JK
Merdeka.com - Kisruh Partai Golkar selama setahun belakangan terus jadi perbincangan hangat di dunia politik tanah air. Perpecahan mereka dimulai pada masa Pilpres 2014. Beda pandangan dalam memberi dukungan memaksa para kader menjadi dua kubu.
Kala itu, Golkar tengah dipimpin Aburizal Bakrie alias Ical menegaskan, dukungan kepada Koalisi Merah Putih (KMP). Mereka pun bergabung dengan Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Bulan Bintang (PBB).
Saat Pilpres 2014, KMP telah mengusung nama Prabowo Subianto selaku Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra sebagai calon presiden (capres) dan Hatta Rajasa sebagai cawapres sebelum Golkar bergabung. Akhirnya Golkar pun bergabung setelah Ical dan Prabowo lakukan pertemuan spesial.
Posisi Golkar saat pilpres lalu memang dilematis. Sejumlah petinggi Golkar meminta agar partai paling lawas di Indonesia mengusung Jokowi-JK. Ical juga sempat mesra dengan Jokowi. Namun pada akhirnya, Ical memutuskan untuk memilih Prabowo-Hatta.
Keputusan ini menuai polemik panjang di internal Golkar. Bahkan senior Golkar, Luhut Panjaitan memutuskan mundur dari Golkar. Tidak hanya itu, banyak suara-suara miring yang mulai melawan kepemimpinan Ical.
"Karenanya saya, Luhut B. Panjaitan, atas restu Ketum Golkar, sejak Jokowi diberi mandat oleh PDIP sebagai Capres, telah mengambil posisi sebagai pendukung Jokowi," kata Luhut pada Mei 2014 lalu.
Pernyataan Luhut juga diikuti beberapa politisi Golkar lainnya, seperti Nusron Wahid, Poempida Hidayatulloh, Indra J Piliang dan lainnya. Mayoritas para penentang Ical merupakan para politisi muda Golkar.
Perpecahan Golkar tidak berhenti saat Pilpres 2014. Kisruh tambah panas saat Golkar menggelar Munas tak lama setelah Pilpres dimenangkan oleh Jokowi-JK. Apalagi, Ical kembali maju menjadi calon ketua umum. Hal ini mendapatkan penolakan keras, khususnya Agung Laksono yang sejak awal ngotot Golkar harus berada dalam pemerintahan.
Munas digelar di Bali. Ical pun didaulat kembali jadi ketua umum Golkar. Agung Laksono Cs tak terima kemudian menggelar munas tandingan di Jakarta tak lama setelah Ical terpilih jadi ketua umum.
Agus Gumiwang Kartasasmita, Priyo Budi Santoso dan Agung Laksono masuk bursa sebagai calon ketua umum versi Munas Ancol. Setelah digelar beberapa hari, akhirnya Agung Laksono terpilih menduduki puncak pimpinan Golkar guna menyaingi Ical.
Kemenangan Agung membuatnya merasa mempunyai kuasa. (mdk/rnd)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya