Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

PDIP: Politik tidak semata kekuasaan dan merebut kekuasaan

PDIP: Politik tidak semata kekuasaan dan merebut kekuasaan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto mengingatkan kader 'banteng' bahwa berpolitik tak selalu berarti kekuasaan. Sebab politik juga menyangkut kebudayaan dan bagaimana memastikan bekerjanya ekonomi gotong royong.

"Politik itu tidak semata kekuasaan dan merebut kekuasaan. Politik juga soal kebudayaan, soal disiplin, soal tertib untuk tidak membuang sampah di selokan atau sungai. Politik merupakan keseluruhan hal tentang kehidupan dan penghidupan rakyat jelata," katanya saat memberi arahan pada acara 'Konsolidasi Organisasi Internal Partai' di Graha Intan Balarea, Garut, Jawa Barat, Selasa (10/10).

Menurutnya, memelihara lingkungan tetap bersih merupakan salah satu faktor penting agar alam Indonesia dapat terawat dengan baik. Dia menyatakan PDIP bertekad membumikan politik guna menjawab berbagai persoalan rakyat.

"PDIP juga menaruh perhatian terhadap upaya menjaga kebersihan sungai. Sungai adalah halaman terdepan kita. Jangan pernah buang sampah di sungai. Buanglah sampah pada tempatnya, agar kita terbiasa hidup bersih. Bersih secara lahir dan batin," katanya.

Soal politik dan budaya, Hasto menyinggung ruh perjuangan partai yang berasal dari wong cilik. Menurutnya, berpartai harus memikirkan kesejahteraan rakyat. Selain itu, kata dia, kader PDIP mewarisi semangat nasionalisme yang telah dibangun oleh Bung Karno.

"Dan untuk membumikan Pancasila, maka mestinya nasionalisme kita harus terus berkobar-kobar," katanya.

Dia menegaskan Pancasila hadir sebagai pemersatu bangsa Indonesia yang majemuk. Menurutnya, Indonesia tetap utuh jika bangsa ini istiqamah mengikuti jalan Pancasila agar semakin berdaulat, berdikari dan berkebudayaan. Dia juga mengingatkan sejarah kedekatan Bung Karno dengan Muhammadiyah dan NU.

"Api nasionalisme Islam Bung Karno mampu menekan pimpinan Uni Soviet saat itu untuk menemukan makam Imam Al Buchori," jelasnya.

Dia juga mengatakan Megawati Soekarnoputri sangat menaruh perhatian terhadap Muhammadiyah dan NU. Hal ini sebagai kelanjutan tradisi Bung Karno yang belajar Islam dengan ulama-ulama besar Islam seperti HOS Tjokroaminoto, KH Hasyim Asyari dan KH Achmad Dahlan.

"Dalam alam pikirnya, Bung Karno banyak mengambil inspirasi dari Muhammadiyah dan dalam kultur beragama yang berkebudayaan Bung Karno dekat dengan NU," katanya.

Karena itu, dia meminta kader PDIP membangun dialog dan hadir sebagai jembatan persaudaraan bagi persatuan dan kesatuan bangsa. (mdk/dan)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP