NU Sebut Pancasila Bukan Ideologi Thagut

Senin, 3 Mei 2021 18:12 Reporter : Henny Rachma Sari
NU Sebut Pancasila Bukan Ideologi Thagut Yahya Cholil Staquf. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Nahdlatul Ulama (NU) menilai Pancasila bukanlah ideologi thagut. Justru dalam Pancasila menggarisbawahi sendi-sendi Islam dalam konteks peradaban manusia.

Demikian dikatakan Ulama senior Nahdlatul Ulama (NU) KH Yahya Cholil Staquf.

"Orang-orang yang bilang Pancasila thagut itu, ini dia hanya mencari-cari alasan agar bisa memaksa orang lain kembali lagi ke format peradaban sebelum perang dunia pertama. Maka ini akan menjadi malapetaka yang luar biasa bagi peradaban umat manusia," kata Yahya dikutip merdeka.com dalam akun youtube @bknp_pdi perjuangan, Senin (3/5).

Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibien Rembang itu mengatakan, bukan Islam yang menguatkan Pancasila, namun justru Pancasila yang telah menguatkan Islam. Sebab Pancasila merupakan terjemahan nilai-nilai utama Islam yang menemukan konteks.

Dia melihat banyak orang yang mengecilkan Pancasila dan melabelinya thagut. Baginya, orang demikian adalah yang kurang belajar soal isi Islam dan makna Pancasila. Orang seperti ini biasanya juga tak memperhatikan teks dan konteks.

"Kenapa? Karena seluruh negara bangsa ini disuruh bubar semua untuk bergabung ke dalam satu kekhilafahan seperti dulu. Anda bisa bayangkan kita harus berperang lagi berapa puluh tahun," katanya.

Padahal, menurut dia, bisa dikatakan bahwa Pancasila merupakan terjemahan Islam untuk diterapkan peradaban dunia dalam konteks pasca perang dunia kedua. Dan isinya tidak ada yang bisa dipertentangkan.

"Bahkan menurut saya, Pancasila dengan persis sekali menggarisbawahi sendi-sendi Islam dalam konteks peradaban manusia seluruhnya. Misalnya pembukaan UUD 1945, kemerdekaan hak segala bangsa. Ini adalah basis dari peradaban. Jadi Indonesia lahir sebagai penanda momentum sejarah memberi arah kemana bangsa ini berjuang," bebernya.

Ia menekankan jika ingin Islam hadir secara membumi di dalam peradaban baru, maka orang Indonesia harus berbicara Pancasila.

Pancasila adalah terjemahan yang terbaik tentang bagaimana Islam dibumikan ke dalam peradaban tata dunia baru yang lebih mulia.

Ia juga menyentuh isu kerap digulirkan di publik tentang Pancasila vs Islam. Seperti sejarah penghapusan tujuh kata dalam sila pertama pada Piagam Jakarta.

Menurutnya, ada yang menganggapnya sebagai produk sebuah proses negosiasi, yang memang mungkin terjadi. Namun dirinya pribadi lebih percaya bahwa hal itu merupakan wujud sebuah visi.

"Keyakinan saya, ada visi mendasar dalam hal ini. Karena kalau kita sudah berbicara Pancasila, ngapain masih bicara syariat? Pancasila bilang Ketuhanan Yang Maha Esa, lha itu semua sudah otomatis itu syariat kenapa diperdebatkan lagi? Sehingga tujuh kata ini hakikatnya tidak diperlukan," bebernya.

"Bangsa ini visioner dan modern menempatkan warganya setara di mata hukum sehingga tidak boleh satu pun di dalam dokumen fundamental seperti Pancasila ini seolah memberi kesan perbedaan satu kelompok dengan yang lain. Umat hindu ya menjalankan syariat hindu, umat budha juga dengan syariat budha, umat islam ya syariat islam. Kan sudah jelas itu saya rasa," jelasnya. [rhm]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Nahdlatul Ulama
  3. Pancasila
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini