Istri Alm. Gus Dur Ajak Masyarakat Maknai Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Kerukunan

Minggu, 26 Mei 2019 07:46 Reporter : Merdeka
Istri Alm. Gus Dur Ajak Masyarakat Maknai Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Kerukunan Sinta Nuriyah Wahid. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Hj Sinta Nuriyah Wahid, istri almarhum Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengajak masyarakat untuk memaknai positif Bhinneka Tunggal Ika sebagai perajut kerukunan. Persatuan dan kesatuan bangsa dinilai menjadi pilar keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Karena itu, mari kita rajut atau perkokoh persatuan dan kesatuan," ujar Sinta dalam acara sahur bersama mantan Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) H Rudy Ariffin dan jurnalis, di Banjarbaru, Minggu (26/5).

"Karenanya mari betul-betul kita hayati dan maknai secara positif 'Bhinneka Tunggal Ika' itu sebagai perajut kerukunan anak bangsa untuk memperkuat NKRI," ujar Sinta, di Grand Dafam Hotel-Q Mall Banjarbaru. Seperti diberitakan Antara. Sinta mengaku, risau terhadap situasi dan kondisi kenegaraan serta pemerintahan belakangan ini.

Ia menilai virus-virus kebencian dan hoaks tidak pernah hilang, dan harus melawan atau menghadapi itu semua dengan mempertebal iman.

"Upaya mempertebal iman tersebut antara lain dengan cara melaksanakan puasa sesuai tuntunan Islam, bukan asal puasa tetapi tidak mendapat nilai apa-apa kecuali lapar dan haus," katanya.

Puasa Momentum Padamkan Api Kebencian

Tak lupa, Shinta mengingatkan jika Bulan Ramadan sebagai momentum untuk memadamkan kobaran api kebencian dengan merajut kembali tali persaudaraan sesama anak bangsa usai Pemilu 2019.

Sebab, pemilu memang telah membuat jurang perbedaan yang menjurus pada perpecahan.

"Saatnya kita kembali dalam kebersamaan, kerukunan, saling menghormati, menghargai dan tolong menolong sesama anak bangsa Indonesia," tuturnya.

Diakui Sinta, sepanjang kunjungannya ke daerah-daerah, masyarakat selalu menyatakan wilayah mereka aman dan kondusif.

Namun dia melihat, potensi kerawanan itu tetap ada dan mengibaratkan air tenang bisa menghanyutkan.

"Ini yang harus kita waspadai bersama. Karena itu, harus kita persiapkan pada diri kita masing-masing. Caranya, pertebal keimanan dan ketaqwaan," katanya.

Terlebih di bulan suci Ramadhan saat ini, kata dia, amalan-amalan di bulan puasa bisa membuat diri lebih tenang dan dekat dengan Allah SWT.

"Hakikat puasa yaitu ajaran moral dan budi pekerti yang luhur. Karena puasa mengajarkan tentang kesabaran, kejujuran, keikhlasan, saling bertolong-tolongan. Dimana kita harus bisa merasakan bagaimana saudara kita yang dalam keadaan kurang beruntung harus kita tolong," jelas wanita yang dianugerahi gelar 'Ibu Bangsa' oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) itu.

Di akhir wejangannya, Sinta pun mengingatkan kembali apa yang diajarkan oleh sang suami mendiang Gus Dur soal berpolitik, yakni "Yang lebih penting dari politik adalah unsur kemanusiaan".

Sahur Keliling 2019 yang dilaksanakan oleh mantan Ibu Negara Indonesia itu bersamaan dengan gelaran sahur H Rudy Ariffin bersama jurnalis se-Kalsel yang menjadi tradisi tiap tahun. [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini