Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

BPN Bilang Cuma Kecurangan yang Kalahkan Prabowo, TKN Minta Jangan Memecah-Belah

BPN Bilang Cuma Kecurangan yang Kalahkan Prabowo, TKN Minta Jangan Memecah-Belah Adu Narasi Timses Jokowi dan Prabowo Soal Pilpres 2019. ©Liputan6.com/Nanda Perdana Putra

Merdeka.com - Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo atau Jokowi-Ma'ruf Amin dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno membahas terkait hasil Pilpres 2019. Indikasi menang dengan kecurangan jadi sorotan.

Juru bicara BPN Andre Rosiade mengawali dengan menyebut bahwa Prabowo-Sandiaga dipastikan menang dalam ajang Pilpres 2019. "Yang bisa mengalahkan Pak Prabowo cuma kecurangan. Jadi masyarakat kami imbau jaga TPS," tutur Andre di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (21/3).

Andre menegaskan pernyataannya bukan tanpa alasan. Pihaknya melihat situasi dan kondisi lapangan, termasuk juga survei baik dari sejumlah lembaga maupun internal.

Jokowi-Ma'ruf sempat menyatakan kemenangannya di Jawa Barat. Namun yang terjadi, lanjutnya, mereka bolak-balik ke daerah tersebut dan akan terus berlanjut khususnya saat kampanye terbuka mulai 24 Maret 2019.

Sebab, BPN meyakini sebenarnya Jokowi akan kalah hingga selisih 15 persen di Jawa Barat. Bahkan di kawasan Banten dan DKI Jakarta pun bernasib sama.

"Seharusnya kalau (merasa) sudah pasti menang, tercermin tata perilaku dari Pak Jokowi dan para pendukungnya. Tetapi yang terjadi kepanikan terlihat. Contoh, rencana Mendagri ngumpulin 80 ribu kepala desa disuruh membiayai akomodasinya sendiri. Berdasarkan informasi ya, bisa benar bisa salah. Ini kan luar biasa. Kalau akan menang kan tidak mungkin ya akan melakukan hal yang tidak etis, elok," jelas dia.

Lebih lanjut, sejumlah video viral terkait kepala daerah dan pihak kepolisian mengkampanyekan Jokowi pun banyak beredar di masyarakat. Hal itu patut diduga sebagai kampanye terselubung dan perlu diklarifikasi, bahkan oleh orang sekelas Kapolri Jendral Tito Karnavian.

"Dulu 2014 Pak Jokowi begitu luar biasa, dimana-mana acaranya ramai. Tetapi sihir itu sudah hilang, dimana Pak Jokowi acaranya sekarang sepi. Apalagi Pak Kiai Ma'ruf, lebih sepi lagi. Dan jadinya perlu ada mobilisasi. Sementara Pak Prabowo kemana-mana selalu menyemut tanpa ada mobilisasi nasi bungkus," beber Andre.

Paparan Andre ditimpali Wakil Ketua TKN Roslan Roeslani. Dia menyebut, tim BPN mulai membangun narasi soal tidak ada yang dapat mengalahkan Prabowo kecuali kecurangan.

Hal itu dinilai berbahaya dan polarisasi yang terbentuk pada akhirnya berpotensi memecah-belah masyarakat.

"Sudah mulai membangun narasi ya, rakyat jangan dibodoh-bodohi begitu lah. Namanya juga orang usaha menang, sah-sah saja. Tetapi ya usahanya jangan lah membodohi masyarakat, membodohi rakyat," ujar Roslan.

Menurutnya, datang beberapa kali untuk kampanye ke daerah dengan lumbung suara besar menjadi hal wajar dalam pesta demokrasi. Kemudian dokumentasi yang tidak tepat waktunya dan kemudian disebarkan, tentu bisa membentuk narasi bahwa Jokowi sepi pendukung.

"Ngambilnya (dokumentasi) satu dua jam sebelum acara atau sesudah acara ya sepi. Saya sering ikut sampai enggak kebagian tempat terus. Kemudian kalau ada indikasi kampanye terselubung ya tinggal laporkan. Ada mekanismenya," terang dia.

Roslan berharap Pilpres 2019 ini dapat jauh dari narasi yang dapat membenturkan antar-masyarakat Indonesia. Jangan hanya demi kemenangan, warga dikorbankan.

"Pak Presiden bilang kita harus menang dengan santun dan moral. Jadi tidak menghalalkan segala cara," Roslan menandaskan.

Reporter: Nanda Perdana Putra

Sumber: Liputan6.com (mdk/eko)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP