5 Hal ini yang pasti ada di pidato Megawati

Jumat, 10 April 2015 05:47 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
5 Hal ini yang pasti ada di pidato Megawati HUT PDIP. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Segala pukulan yang kita berikan dan segala pukulan yang kita terima adalah iramanya perjuangan. Perkuat lah tradisi gotong royong, ia adalah bekerja sama, membanting tulang bersama, memeras keringat bersama, perjuangan bantu-bantu bersama. Itulah rahasia kekuatan kita


- Megawati Soekarnoputri

Merdeka.com - Setiap pemimpin memiliki ciri khas tersendiri dalam menyampaikan pidato. Dari gaya bahasa, gerakan tubuh, sampai tatapan mata dimiliki masing-masing pemimpin sebagai khasnya.

Termasuk yang ada dalam diri Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Megawati sebagai pemimpin wanita yang memiliki kharisma tersendiri dalam menyampaikan pidato politiknya kepada jutaan loyalisnya.

Pidato Megawati selalu membuat para pengagumnya terhipnotis. Dengan gaya lantang dan menggebu-gebu, Megawati tak kalah dengan orator pemimpin pria dalam menyampaikan pidato.

Saat Kongres IV PDIP di Bali kemarin, banyak pula yang memuji pidato politik Mega. Namun, ada ciri khas Megawati yang tak pernah tertinggal ketika menyampaikan pidato.

Apa saja itu? Berikut 4 hal yang pasti tak pernah ditinggalkan Megawati saat berpidato, dihimpun merdeka.com, Jumat (10/4).

1 dari 5 halaman

Merdeka

HUT PDIP. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Ada kata yang tak pernah ditinggalkan Megawati dalam setiap pidatonya. Untuk menyemangati para loyalisnya, Mega selalu mengucapkan kata merdeka.

Kata merdeka diucapkan berkali-kali oleh Megawati di setiap pidato. Sebagai pembuka, atau penutup kalimat, sambil mengepalkan tangan, Mega dengan lantang mengucapkan, merdeka, merdeka, merdeka.

"Sebelumnya, marilah kita lebih dahulu bersama-sama memekikkan salam perjuangan kita, Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!" ucap Megawati saat membuka pidato politiknya di Kongres IV PDIP, Bali, Kamis (9/4).

Selepas berpidato panjang lebar, Mega pun tak lupa dengan menutup pidatonya menggunakan kalimat yang sama. Merdeka, merdeka, merdeka, sebagai salam perjuangan PDIP.

2 dari 5 halaman

Menangis

HUT PDIP. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Megawati sebagai pemimpin dikenal memiliki jiwa yang kuat dan pantang menyerah. Namun sisi lain dari seorang wanita, Megawati juga punya sensitivitas yang tinggi.

Dalam setiap pidatonya, Megawati selalu berlinang air mata. Menangis juga sebagai ciri Megawati yang selalu terharu dalam menyuarakan aspirasinya.

"Akhirnya dengan penuh rasa syukur dan dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Kongres IV PDI Perjuangan dengan resmi saya nyatakan dibuka," kata Megawati sambil berlinang air mata saat menutup pidato politiknya.

Mega terlihat terisak ketika memekikkan kata merdeka berkali-kali sebelum memukul gong tanda kongres resmi dibuka.

3 dari 5 halaman

Soekarno

Soekarno. ©Deppen/Cindy Adams

Megawati tak pernah meninggalkan cerita Presiden pertama, Soekarno dalam setiap pidatonya. Mega selalu mengagungkan dan mengisahkan kehebatan ayahnya itu saat memimpin Indonesia puluhan tahun lalu.

Dalam Kongres IV PDIP misalnya, sejumlah cerita dikenang Megawati di hadapan ribuan peserta yang hadir. Termasuk Presiden dan Wapres Jokowi-JK, ikut mendengarkan dengan hikmat pidato Mega tentang Soekarno.

Mega bercerita bagaimana Soekarno menjadi pencetus Konferensi Asia Afrika (KAA) dan revolusi mental, yang kini jadi program andalan pemerintah Jokowi-JK.

"Gagasan revolusi mental pertama kali disampaikan dalam pidato kenegaraan Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1957. Beliau saat itu mencanangkan berkibarnya panji revolusi mental," kata Mega.

4 dari 5 halaman

Wong cilik

rev1Megawati hadiri Rapat Kerja Fraksi PDIP. ©2013 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Megawati juga tak pernah ketinggalan mengucapkan kata 'wong cilik' dalam pidatonya. Wong cilik memang selalu menjadi 'jualan' dan ciri khas PDIP, kepentingan rakyat kecil selalu diutamakan.

Dalam Kongres IV PDIP, Megawati juga menyinggung kesejahteraan wong cilik. Nelayan, petani dan rakyat miskin dianggap sebagai ideologi PDIP.

"Rakyat yang termanifestasikan dalam wajah petani, guru, nelayan, kaum miskin kota, buruh, atau pendeknya rakyat yang masih terjerat dalam lingkaran setan kemiskinan, yakni rakyat wong cilik," kata Mega.

Megawati juga berpesan kepada pemerintahan Jokowi, agar selalu mengutamakan kepentingan rakyat kecil.

5 dari 5 halaman

Gotong royong

rev1HUT PDIP. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Dalam setiap kesempatan, Megawati selalu mengucapkan kalimat gotong royong. Gotong royong atau menanggung beban bersama-sama ini memang menjadi ciri khas PDIP.

Megawati selalu mengingatkan kepada para kader PDIP untuk tidak saling bercerai-berai, mempertahankan ideologi partai dan tidak melupakan tradisi gotong royong.

"Segala pukulan yang kita berikan dan segala pukulan yang kita terima adalah iramanya perjuangan. Perkuat lah tradisi gotong royong, ia adalah bekerja sama, membanting tulang bersama, memeras keringat bersama, perjuangan bantu-bantu bersama. Itulah rahasia kekuatan kita," kata Mega di Kongres IV PDIP, Bali, Kamis (9/4). [tyo]

Baca juga:
Bertemu, Jokowi dan pengurus PDIP hasilkan komitmen
Usai hadiri kongres, Jokowi tengok penasihat PDIP di rumah sakit
Wawancara Megawati: Mekanisme regenerasi sudah ada
Gubernur Bali antar keberangkatan Jokowi-JK ke NTB
Kentalnya aura mistis kamar Bung Karno di hotel Kongres PDIP

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini