Tanda-tanda kedatangan malam Lailatul Qadar

Kamis, 15 Juni 2017 18:00 Reporter : Dedi Rahmadi
Tanda-tanda kedatangan malam Lailatul Qadar Tarawih di Masjid Raya Bogor. ©2017 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Lailatul Qadar merupakan waktu yang ditunggu-tunggu bagi umat muslim yang menjalankan ibadah puasa Ramadan. Berbagai versi yang menyebutkan malam 1.000 bulan itu terdapat pada tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir.

Allah SWT sengaja merahasiakan datangnya malam Lailatul Qadar agar ibadah umat Islam tak terfokus di satu waktu tersebut. Ada riwayat yang menyebutkan, tanda-tanda kedatangan Lailatul Qadar di antaranya membekunya air, heningnya malam, dan menunduknya pepohonan, dan sebagainya. Tetapi itu hanya rahasia Allah SWT.

Yang pasti, dan harus diimani oleh setiap muslim berdasarkan pernyataan Alquran, bahwa "Ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar." (QS Al-Qadr: 1) dan malam itu merupakan "malam yang penuh berkah di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan kebijaksanaan." (QS Ad-Dukhan: 3).

Ditegaskan dalam Alquran, malam tersebut adalah malam mulia, tidak mudah diketahui betapa besar kemuliaannya. Ini diisyaratkan oleh adanya 'pertanyaan' dalam bentuk pengagungan, yaitu "Wa ma adraka ma laylatul qadar."

Untuk memperoleh pemahaman yang jernih terkait malam Lailatul Qadar, Muhammad Quraish Shihab dalam buku karyanya 'Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat' (1999) memberikan sejumlah keterangan terkait arti kata qadar. Mufassir kenamaan tersebut memaparkan tiga arti pada kata qadar tersebut.

Pertama, qadar berarti penetapan atau pengaturan sehingga Lailatul Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Pendapat ini dikuatkan oleh penganutnya dengan Firman Allah pada Surat Ad-Dukhan ayat 3. Ada ulama yang memahami penetapan itu dalam batas setahun.

Alquran yang turun pada malam Lailatul Qadar diartikan bahwa pada malam itu Allah SWT mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya, Muhammad SAW guna mengajak manusia kepada agama yang benar yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.

Kedua, qadar berati kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Alquran serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih.

Kata qadar yang berarti mulia ditemukan dalam ayat ke-91 Surat Al-Anam yang berbicara tentang kaum musyrik: Ma qadaru Allaha haqqa qadrihi idz qalu ma anzala Allahu ala basyarin min syay'i (mereka itu tidak memuliakan Allah sebagaimana kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia).

Ketiga, qadar berati sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam Surat Al-Qadar: Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

Kata qadar yang berarti sempit digunakan oleh Alquran antara lain dalam ayat ke-26 Surat Ar-Ra'du: Allah yabsuthu al-rizqa liman yasya' wa yaqdiru (Allah melapangkan rezeki bagi yang dikehendaki dan mempersempitnya [bagi yang dikehendakinya]). [ded]

Topik berita Terkait:
  1. Lentera Ramadan
  2. Jakarta
  3. Ramadan 2017
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini