Surabaya jadi tempat reproduksi teroris dan wilayah pemantik aksi teror
Merdeka.com - Aksi bom bunuh diri di Surabaya dalam dua hari berturut pada Minggu (13/5) dan Senin (14/5) disebut sebagai aksi paling mematikan dalam tiga tahun terakhir. Dari dua peristiwa teror itu, belasan warga meninggal dunia dan tak sedikit pula korban luka-luka.
Surabaya baru kali ini menjadi lokasi aksi bom bunuh diri. Selama ini Surabaya hanya menjadi tempat reproduksi kelompok teroris. Demikian diungkapkan mantan anggota Jemaah Islamiah (JI), Ali Fauzi Manzi saat diskusi publik di Gedung LIPI, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta Selatan, Kamis (17/5).
"Jihadis (teroris) Surabaya dikenal sebagai tempat reproduksi para calon. Berapa banyak pemain berasal dari Surabaya; bom Bali satu, bom JW Marriot satu, JW Marriot dua, bom Kedubes Australia, banyak melibatkan warga Surabaya," jelasnya.
Ali melanjutkan, sejak tahun 2000 sampai 2018 (awal) Surabaya tak pernah tersentuh aksi teror. Memang wilayah Jawa Timur pernah mendapat kiriman bom pada tahun 2000 ketika ditemukan ada 25 paket bom yang menyasar 25 kota di Indonesia.
"Surabaya clear, tapi Mojokerto tidak aman," kata dia.
Surabaya kemudian dijadikan pemantik konflik oleh jaringan teroris Jemaah Ansharut Daulah (JAD) setelah peristiwa kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok pada Selasa (8/5) lalu. Kejadian di Mako Brimob menjadi pemantik jaringan ini kemudian melakukan serangan. Pola serangan yang dilakukan di Surabaya tanpa melalui pemetaan dan perencanaan matang.
"Sifatnya dadakan dengan dalih jihad untuk membela kehormatan. Bukan tentang nasi bungkus, bukan karena logistik tapi karena isu menyebar adanya akhwat melalui pemeriksaan ditelanjangi tapi saya pikir itu enggak betul. Bahasa yang muncul di kalangan mereka adalah disekap. Ini membuat napiter emosinya terbakar dan tidak bisa dibendung lagi," paparnya.
Surabaya kemudian dijadikan wilayah pemantik konflik karena levelnya di bawah Jakarta. Jika muncul aksi teror di Surabaya maka akan menimbulkan dampak lain bagi kota-kota besar lainnya di Indonesia. Setelah aksi di Surabaya berhasil, maka kemudian aksi teror kembali dilakukan di daerah lain seperti yang terjadi di Pekanbaru pada Rabu (16/5).
"Daerah pemantik yang mereka inginkan terjadi di Pekanbaru, Riau. Surabaya dikenal sebagai kota persaingan gengsi antar kelompok pengusung jihad. Di Surabaya ada JI, JAD dan JAT (Jamaah Ansharut Tauhid).
Ali Fauzi mengungkapkan ada beberapa faktor yang memudahkan para teroris dalam melakukan aksinya. Ia mengatakan di kota metropolis seperti Surabaya, bahan bom sangat mudah didapat. Apalagi merakit bom mematikan dengan daya ledak tinggi tak membutuhkan biaya besar. Ia menyebut bahan bom paling mahal harganya hanya Rp 20 ribu per kilogram.
"Termasuk tersedianya toko-toko (bahan) kimia di Surabaya yang banyak menjual bahan-bahan legal," jelasnya.
Sumber daya manusia yang memiliki kemampuan merakit bom juga banyak berasal dari Surabaya. Pasalnya banyak mantan anggota JI kini merapat ke JAD.
Selain itu para pelaku bom bunuh diri di Surabaya memahami area target sehingga tak perlu observasi lapangan. "Ini respons tindakan balas dendam di Mako Brimob dan mereka tidak pikir panjang terpenting meledak," kata Ali Fauzi.
Menurutnya pelaku bom bunuh diri di Surabaya baik di gereja maupun Mapolrestabes menggunakan bom yang dirakit dalam waktu singkat. Ini hanya didasari emosi sesaat pascaperistiwa di Mako Brimob.
"Kalau itu bom itu rakitnya lama tentu korbannya tidak sedikit. Jadi ini emosional sesaat dan kemudian fatwa sesaat yang dilakukan grup Surabaya kemudian mereka melakukan aksi-aksi terorisme. Kenapa saya katakan sesaat karena itu tanpa observasi," jelasnya.
(mdk/bal)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya