Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Suhu Kota Makassar makin menyengat, ini penyebabnya

Suhu Kota Makassar makin menyengat, ini penyebabnya Kota Makassar. ©google.co.id/maps

Merdeka.com - Suhu di Sulawesi Selatan biasanya 34 derajat Celcius termasuk di Kota Makassar. Hal ini masih tergolong normal karena jika telah mencapai 37 derajat celcius berarti sudah di atas rata-rata. Hanya saja, khusus di Kota Makassar, meski hal tersebut masih normal tapi kondisi panasnya sudah sangat menyengat.

Siswanto, Kepala Unit Pelayanan Jasa dan Informasi Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar menjelaskan, panas menyengat di Makassar terjadi karena daya dukung lingkungan sudah tidak representatif. Ruang Terbuka hijaunya sangat kurang sehingga pepohonan sudah jarang terlihat.

"Dulu di Makassar ini banyak pohon. Di pinggir jalan seperti di sepanjang Jl Perintis Kemerdekaan dipenuhi pohon mahoni tapi itu semua sudah tidak ada lagi, digantikan bangunan tinggi. Telah terjadi alih fungsi akibatnya kita terima radiasi matahari langsung, tidak ada lagi saringannya makanya suhu terasa sangat panas membakar kulit," urai Siswanto yang dikonfirmasi, Kamis, (14/9).

Olehnya, kata Siswanto, penting untuk menumbuhkan kembali tanaman atau pepohonan untuk mendapatkan kembali suhu yang nyaman di Kota Makassar.

Lebih jauh, dia menjelaskan, meski saat ini umumnya suhu di Sulsel rata-rata 34 derajat celcius, tapi di antaranya ada daerah di wilayah Sulsel bagian timur yang suhunya hanya 31 derajat celcius seperti di Kabupaten Luwu, Tana Toraja, Luwu Utara dan Luwu Timur. Suhu minimumnya bahkan bisa hanya 18 derajat celcius bahkan pernah 16 derajat celcius. Ini terjadi karena kondisi topografi daerah di wilayah Sulsel berbeda-beda.

"Secara global jika terjadi penurunan tingkat kelembaban udara maka efeknya akan terjadi di daerah lain yang justru membuat suhu meningkat, yah itu tadi karena kondisi topografi wilayah berbeda. Tapi karena kondisi itu, potensi pembentuk awan tinggi makanya kemarin-kemarin sesekali ada hujan di Makassar meski sebenarnya masih musim kering atau kemarau," jelas Siswanto.

Selama September ini, tambahnya, warga masih akan terus merasakan 'kering'. Sebabnya, beberapa hari terakhir warga sudah merasakan kekurangan suplai air PDAM karena debit sumber airnya menurun. Jadi yang bisa dilakukan saat ini hanyalah penghematan penggunaan air.

Karena sesuai perkiraan, hujan khususnya di Kota Makassar akan jatuh di November dasarian (masa 10 hari) dua. Sehingga hujan baru akan banyak turun di Oktober mendatang.

"Kami belum melihat adanya indikator akan terjadi kemarau panjang meski dalam hitungan periode 30 tahunan, hujan khususnya di Kota Makassar tahun ini mundur satu dasarian. Nanti kalau tiba musim hujan, juga tidak berpotensi ekstrem kecuali jika ada kondisi alam yang tidak bisa ditepis misalnya terjadi longsor karena memang hutannya sudah gundul," pungkas Siswanto. (mdk/rzk)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP