Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Stok vaksin difteri menipis, tahanan Polres Samarinda diberi antibiotik

Stok vaksin difteri menipis, tahanan Polres Samarinda diberi antibiotik imunisasi difteri. ©2017 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - SH (22), tahanan kasus narkoba Polresta Samarinda, yang dinyatakan positif menderita difteri, masih dirawat di RSUD AW Sjahranie. Rencana Polresta Samarinda memberi vaksin seratusan tahanan lainnya tertunda, lantaran dikabarkan stok vaksin menipis. Alternatifnya, para tahanan mendapatkan antibiotik dan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Pagi tadi, petugas dokter kesehatan (Dokkes) Polresta Samarinda, memberikan antibiotik dan vitamin, untuk meningkatkan daya tahan tubuh para tahanan, dari kemungkinan tertular difteri, dari rekan mereka SH.

"Ada 161 tahanan pagi tadi, yang mendapatkan antibiotik dan vitamin. Tujuannya untuk mengantisipasi tertular difteri," kata Kasubbag Humas Polresta Samarinda Ipda Danovan, dikonfirmasi merdeka.com, Kamis (18/1) sore.

Danovan menerangkan, antibiotik itu diberikan selama 3 hari kedepan. Alasannya, saat ini, Dinas Kesehatan masih menunggu kedatangan vaksin antidifteri, khususnya vaksin dewasa.

"Sambil menunggu datangnya pengiriman vaksin ke Samarinda, jadi kita berikan antibiotik selama 3 hari mulai hari ini," ujar Danovan.

Tidak hanya bagi petugas jaga ruang tahanan yang harus memeriksakan kesehatan sebelum bertugas jaga, pengunjung tahanan juga diingatkan mengenakan masker untuk meminimalisir potensi penularan difteri.

"Sama, semua. Petugas dan pengunjung mesti menggunakan masker. Ya kita antisipasi supaya penularan (difteri) tidak meluas," tambah Danovan.

Sementara, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda Rustam menerangkan, untuk stok vaksin anak memang menipis dan bertahan hingga pekan depan. Kendati demikian, itu bukan jadi soal lantaran tambahan pengiriman vaksin dari Kemenkes akan tiba pekan depan. "Kalau untuk dewasa aman," terang Rustam.

Sebelumnya, Pemkot Samarinda, terhitung sejak Senin (15/1), menyatakan penyakit Difteri sebagai kejadian luar biasa (KLB). Anggaran yang disiapkan adalah Rp 3 miliar dari dana tanggap darurat. Alasan penetapan status KLB Difteri, disebabkan penderita difteri yang dirawat di ruang isolasi RSUD AW Sjahranie terus bertambah.

(mdk/rzk)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP