Sejarah kelam Solo saat kerusuhan Mei 1998

Minggu, 12 Mei 2013 14:29 Reporter : Arie Sunaryo
Sejarah kelam Solo saat kerusuhan Mei 1998 Sisa kerusuhan Mei 1998. ©2013 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Merdeka.com - Tanggal 14-15 Mei 1998, menjadi peristiwa kelam dalam sejarah yang tidak terlupakan bagi warga Solo dan sekitarnya. Sejumlah bangunan terbesar dan penting dihancurkan hingga luluh lantak oleh kobaran api akibat dibakar massa atau orang-orang tak bertanggung jawab.

Tidak sedikit bangunan yang menjadi korban, yakni gedung perbankan, dealer mobil, pabrik, pertokoan, perkantoran, rumah, mal dan banyak bangunan lain yang juga hangus dilalap si jago merah. Kejadian itu membuat banyak orang yang menyebut Solo hancur, atau Solo luluh lantak.

Salah satunya Singosaren Plaza, atau 15 tahun lalu dikenal bernama Matahari Department Store. Bangunan itu terletak di simpang Jalan Honggowongso dan Jalan dr Radjiman, Serengan, Solo, Jawa Tengah.

Bangunan yang sudah berganti bernama menjadi Singosaren Plaza ini, sudah berdiri sejak zaman kolonial Belanda dan masih terus berbenah. Singosaren Plaza awalnya merupakan pasar tradisional. Sekitar 20 tahun silam, pasar itu dikontrak dan dikelola pihak ketiga.

Pasar tradisional kemudian disulap menjadi pusat perbelanjaan modern yang diberi bernama Matahari Department Store. Meski telah mengalami perubahan besar, masih terselip pedagang tradisional.

Hendra Saputra, warga Jayengan RT 01 RW 09, merupakan saksi hidup penghancuran dan pembakaran Matahari Department Store oleh massa.

"Dulu itu seingat saya, sekitar jam dua siang ada segerombolan orang yang melakukan perusakan. Memecah kaca Matahari dengan dilempar batu sampai hancur. Tak lama banyak orang menjarah barang-barang," ujar Hendra kepada merdeka.com, Sabtu (11/5).

Hendra, yang saat itu masih bersekolah di SMP Al Islam 1 Solo, menambahkan, setelah puas menjarah, massa kemudian membakar Matahari. Tak hanya itu, mereka berteriak-teriak mengajak warga lainnya untuk ikut membakar. Bangunan-bangunan yang berdiri di sekitarnya pun ikut dijarah, dan dibakar.

"Setelah membakar Matahari, saya lihat gerombolan orang banyak lari ke selatan, dan membakar dealer Ramayana," kenangnya.

Hendra bersyukur pasar kebanggaan warga Solo tersebut kembali berdiri gagah. Dia berharap, kejadian Mei 1998 tak akan terulang lagi. Sehingga, warga Solo bisa hidup tenang, tanpa dibayang-bayangi kerusuhan lainnya.

Lain lagi dengan Watik, saksi hidup hancur dan pembangunan kembali Singosaren Plaza itu, meski sudah berpindah ke Pasar Kadipolo yang posisinya tidak berjauhan, perempuan yang sudah puluhan tahun berdagang di Pasar Singosaren itu, tahu persis bagaimana perubahan wajah Pasar Singsosaren dari pasar tradisional menjadi supermarket.

Setelah dibangun menjadi Matahari, seluruh pedagang dipindah ke pasar Kadipolo, tapi ada juga yang tetap bertahan dengan membeli kios yang sudah disediakan.

"Saya berjualan di Singosaren sudah 25 tahun. Ketika pasar Singosaren dibangun menjadi pasar modern, para pedagang yang ada saat itu dipindahkan ke Pasar Kadipolo. Tapi saya masih bertahan, karena saya jual buah-buahan, jadi tetap di sana. Tapi karena sepi saya pindah ke pasar Kadipolo," ujarnya.

Watik mengisahkan ketika terjadi kerusuhan pada tahun 1998 aktivitas ekonomi benar-benar lumpuh. Kini, Singosaren Plaza, atau Matahari Department Store telah berubah wajah seiring banyaknya mal dan pusat perbelanjaan. Matahari tetap mengisi tenant yang disediakan, ditambah pusat sandang, toko emas, pusat handphone dan sebagainya.

Saat ini pasar yang terletak di kawasan Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Solo tetap dikelola pihak ketiga, untuk lantai dasar dikelola Dinas Pengelola Pasar (DPP) Kota Solo yang berisi 254 kios dan 17 los pasar tradisional.

Selain Matahari Department Store, Atrium 21 Solo Baru juga menjadi korban dalam peristiwa kerusuhan Mei 1998 lalu. Bangunan yang menjadi pusat hiburan terbesar dan termegah di Solo kala itu, hancur dibakar massa. Kini hanya tersisa semak belukar dan sebuah pintu gerbang.

Tak jauh dari Atrium 21, terdapat rumah yang sempat ditinggali Harmoko, mantan Menteri Penerangan era Soeharto. Bangunan berbentuk Joglo Jawa di Jalan Rambutan, Solo Baru tersebut juga luluh lantak tak berbekas.

Bahkan di dalam rumah tersebut terdapat seperangkat gamelan yang terbuat dari kuningan yang juga hancur terbakar. Kondisinya tak beda jauh dengan Atrium 21. Menurut beberapa tetangga, pemilik tanah sudah berganti.

"Setahu saya sudah bukan milik pak Harmoko lagi, sudah ada yang beli. Senin besok malah akan dibangun rumah," ujar Husein yang tinggal di Jalan Mangga itu.

[tyo]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Tragedi Mei 98
  3. Kerusuhan Mei
  4. Solo
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini