Sampel abu vulkanik Gunung Agung diteliti di BPPTKG Jogya dan Bandung
Merdeka.com - Pihak PVMBG mengaku telah mengirimkan sampel dari abu vulkanik Gunung api Agung Karangasem Bali, ke BPPTKG Jokjakarta dan Bandung.
"Sampel material abu vulkanik yang kita kumpulkan telah dikirim ke BPPTKG Yogyakarta dan Bandung untuk diteliti atau diianalisis jenis dan kandungan partikel abu vulkanik itu. Ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat material magma baru atau Juvenile atau tidak," Terang Kasubid Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Devy Kamil Syahbana, Jumat (24/11) di Karangasem, Bali.
Kata dia, bilamana ternyata mengandung juvenile, maka erupsi waktu ini akan bernama freato-magmatik, jika juvenile tidak signifikan maka erupsi kemarin akan bernama freatik.
Hingga saat ini hipotesis dari semburan asap pekat masih dinyatakan sebagai letusan freatik. Hal itu karena pihaknya tidak melihat Ramp Up atau kegempaan vulkanik yang signifikan sebelum terjadinya erupsi.
"Kemungkinan hanya uap magma dengan volume cukup besar yang bergerak naik ke permukaan lalu berinteraksi dengan reservoir air. Karena tekanan yang dihasilkannya cukup besar maka kemarin mampu sedikit membuka celah ke permukaan," jelas Devy Kamil Syahbana.
Dirinya mempertegas bahwa driving-force dari erupsi freatik adalah steam atau dari magma yg berinteraksi dengan air bawah permukaan pada reservoir atau pada sistem hidrothermal. Hujan bukan pemicu utama erupsi, tapi hanya menambah volume air saja.
"Jadi logikanya kalau memang hujan pemicu erupsi, seharusnya tiap musim hujan banyak gunung yang erupsi dong," kata dia.
Sementara itu dirinya memastikan dari siang hingga sore hari tadi, Jumat (24/11) team kembali menerbangkan drone. Kata dia dari rekaman awal terlihat warnanya, hamparan abu erupsi yang tersiram hujan. “Terekam ada kolam kecil di ujung kiri lapangan solfatara, warnanya abu-abu,” ungkapnya.
Dalam gambar drone, lanjutnya, juga terlihat bagian kawah yang mengepulkan asap, bagian itu kemungkinan lubang erupsi yang terjadi pada 21 November 2017 lalu. Dimana saat kondisi normal, lubang ini tidak ada dan hanya berupa tumpukan pasir.
"Saat erupsi waktu ini membentuk lubang dengan diameter sekitar 60 meter. Jadi jelas ini erupsi yah, karena sudah ada material abu," tegasnya.
Dalam rekaman drone juga terlihat bagian yang berwarna merah, dan ini kata dia cukup menarik perhatian para ahli vulkanologi dari luar negeri. Bahkan pvolcanologist di luar negeri mengaku heran dengan munculnya warna tersebut.
"Mereka Tanya ke saya ini apa? Kita belum tahu pasti itu apa karena resolusi gambar tidak cukup baik. Namun sekilas dia mirip batuan yang teroksidasi. Tapi kita belum bisa pastikan itu," Demikian Devy Kamil Syahbana. (mdk/rhm)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya