Ruwat mata air Sikopyah, harmoni manusia dan alam raya

Jumat, 22 September 2017 09:03 Reporter : Abdul Aziz
Ruwat mata air Sikopyah, harmoni manusia dan alam raya Ruwat mata air sikopyah. ©2017 Merdeka.com/abdul aziz

Merdeka.com - Ratusan warga sekitar Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga beriringan jalan kaki menuju mata air Sikopyah, Kamis (21/9). Mereka berpeluh keringat menapaki bukit sejauh 3 km lantai beramai-ramai melantunkan doa di ceruk-ceruk batu kawasan mata air Sikopyah. Kegiatan massal itu telah berjalan turun temurun, simbol memantapkan hubungan harmonis antara warga desa Serang dengan lingkungan alam di kawasan lereng gunung Slamet.

Setiap laki-laki baik tua maupun muda mengenakan pakaian, celana serba hitam beserta ikat kepala. Setiap perempuan mengenakan kebaya bermotif bunga, bawahan kain batik beserta topi anyaman bambu. Usai sama-sama berdoa, mereka turun bukit menuju balai desa setempat dengan kembali berjalan kaki membawa lodong (potongan bambu) berukuran dua meter yang telah diisi air Sikopyah.

Mata air Sikopyah sendiri dipandang sakral dan berada di kawasan wingit yang berkaitan dengan keberadaan tokoh syiar Islam setempat yakni Kiai Mustofa. Kiai yang misterius tak diketahui asal baik akhir hidupnya ini, dari tutur lisan diceritakan menjalankan brata di antara gemericik sumber mata air tersebut. Sang Kiai suatu kali berwudhu di mata air tersebut dan meninggalkan kopyah atau peci penutup kepala.

"Mata air Sikopyah dipandang sakral karena berkaitan dengan orang suci. Bahkan sang kiai masih kerap muncul menemui sesepuh-sesepuh desa lewat mimpi untuk menjaga alam di desa Serang," kata Samsuri, sesepuh Desa Serang saat ditemui Merdeka.com di Balai Desa setempat, Kamis (21/9).

Ruwat mata air sikopyah ©2017 Merdeka.com/abdul aziz

Samsuri menambahkan air yang disimpan dalam lodong oleh masing-masing warga akan disemayamkan selama dua hari di Balai Desa. Nantinya air itu akan dibagikan lagi kepada warga untuk disaramkan pada areal pertanian. Air dari Sikopyah itu dipercaya dapat menyuburkan lahan bahkan hal-hal lain seperti kecantikan, usaha sampai karir.

Tapi kata Samsuri, pengambilan air Sikopyah sejatinya adalah pengingat agar warga serang mensyukuri kedermawanan alam baik air yang terus mengalir juga tanah yang terus subur meski di musim kemarau sekalipun. Alam serang telah memberi berkah tak haabis-habis dalam rupa sayur mayur yang tumbuh segar, pohon-pohon yang menjulang sampai buah-buah dan bunga-bunga yang bersemi.

"Manusia harus mesti bersyukur. Karena itu di malam-malam tertentu kami menggelar shalawat atau manakiban di kawasan mata air Sikopyah. Tujuannya kami berdoa agar alam terus membawa berkah," ujarnya.

Kepala Desa Serang, Sugito, mengatakan kegiatan ruwat air ini dalam 3 tahun terakhir lantas dikemas sebagai bagian dari Festival Gunung Slamet (FGS). Kegiatan ini juga seruan untuk pentingnya menjaga alam dengan bukti keberadaan Mata Air Sikopyah yang memenuhi kebutuhan warga di banyak hal mulai kebutuhan air bersih, keperluan irigasi milik perkebunan sayuran dan buah milik warga.

"95 Persen warga Serang petani. Warga kami tercatat 8400 orang. Mereka menggarap lahan di tiga zona yakni dataran rendah, sedang dan tinggi. Hasil pertanian yang melimpah yakni strawberry, kentang, wortel dan cabe besar," ujar Sugito.

Mata Air Sikopyah sendiri mengaliri Desa Serang, Desa Kutabawa sampai Desa Gobong di Pemalang. Ia mengatakan tujuan besar ruwat air untuk mengingatkan ke setiap generasi bahwa harmoni manusia dan alam raya mesti dijaga. Bahkan di Serang sendiri dibuat perdes bahwa penebangan pohon secara sembarang maka akan dikenakan sanksi Rp 5 juta rupiah. [bal]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini