Kebakaran hutan di Gunung Lawu belum juga padam. Memasuki hari keempat, Bupati Karanganyar Rober Cristanto menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama 14 hari.
"Tanggap darurat dimulai kemarin tanggal 17 Oktober, sampai dengan 14 hari ke depan," ujar Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Karanganyar, Sugiharjo, Minggu (18/10).
Penetapan status tanggap darurat itu untuk memaksimalkan upaya pemadaman. Saat ini, petugas gabungan dari TNI-Polri, relawan, Perhutani, Basarnas, dan unsur terkait masih berjibaku di lapangan. Pemda juga sudah berkoordinasi dengan BNPB dan Pemprov Jateng.
"Status keadaan darurat karhutla, kemarin sudah ditetapkan oleh Pak Bupati sebagai status tanggap darurat. Saat ini kami juga sudah berkoordinasi dengan BNPB dan pemerintah provinsi berkaitan dengan penanganan tanggap darurat tersebut," ujar dia.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376373/original/000967600_1792335861-Screenshot_20261018-193548_Gallery.jpg)
Dari pantauan drone thermal, menurut dia, titik api mulai berkurang dan kini terpusat di atas Begodani. Pos induk penanganan pun digeser ke wilayah tersebut.
"Kemarin, berdasarkan pantauan drone termal, titik api yang masih terpantau berada di atas Begodani. Oleh karena itu, kemarin kami memusatkan upaya penanganan dari pos induk di daerah tersebut," kata dia.
Ratusan personel dikerahkan. Di pos induk ada sekitar 115 personel, di Pos 2 Cemoro Kandang 40 personel, dan di Pos Tambak sekitar 133 personel termasuk Brimob. Namun medan terjal, kawasan hutan rapat, dan angin kencang jadi kendala. Pemadaman masih dilakukan manual.
"Peralatan yang digunakan untuk pemadaman masih bersifat konvensional atau manual. Petugas melakukan pemadaman dengan membuat sekat api atau ilaran serta menggunakan peralatan gepyok," kata dia.
Tiga petak jadi titik krisis, yakni Petak 28, 32 dan 62c. Api pertama kali terdeteksi Kamis (15/10) sekitar pukul 10.00 WIB. Saat seorang warga yang hendak ke ladang melihat kepulan asap tebal dari bukit di utara desanya.
"Peristiwa bermula ketika seorang warga yang hendak pergi ke ladang melihat kepulan asap dari bukit di sebelah utara Desa Gondosuli. Temuan itu kemudian dilaporkan kepada warga sekitar dan pihak Perhutani," pungkas Sugiharjo.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376372/original/073963300_1792335860-Screenshot_20261018-193608_Gallery.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376346/original/054062100_1792332761-1000149067.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376308/original/088879100_1792329015-IMG-20261018-WA0095.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376309/original/074806400_1792329111-055464800_1792327909-1001772817.webp)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376284/original/023572800_1792326552-1002223883.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376281/original/091381700_1792326130-e5b6f2d8-0b30-40f3-ab96-f1154cabc2be.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376269/original/005536100_1792323659-ultra_marathon_2026_1.jpg)