Seorang bocah penyandang disabilitas berinisial Z (10), ditemukan dalam kondisi mengenaskan di teras rumahnya kawasan Kecamatan Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (12/9) pagi. Saat ditemukan, wajah Z sudah membiru, lehernya terlilit tali sepatu, sementara mulutnya diduga berisi sabun colek.
Peristiwa yang berujung pada kematian bocah pengidap down syndrome dan cerebral palsy (CP) tersebut kini ditangani Polrestabes Surabaya. Keluarga menduga anaknya mengalami kekerasan melibatkan dua anak tetangganya.
Ayah korban, SAW (53), mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, putranya berada di teras rumah dengan menggunakan kursi roda. Sementara SAW sedang beristirahat setelah mengonsumsi obat pascaoperasi ginjal.
Pada waktu bersamaan, istrinya, NF sedang berjualan sari kedelai di pasar sehingga tidak berada di rumah.
Situasi berubah ketika NF pulang sekitar pukul 09.20 WIB. Perempuan tersebut mendadak berteriak histeris setelah melihat kondisi anaknya yang sudah terjatuh dari kursi roda.
Teriakan sang istri membuat SAW terbangun dan bergegas menuju teras untuk memastikan keadaan putranya.
"Sekitar pukul 09.20 WIB istri saya datang. Tiba-tiba istri saya berteriak-teriak, 'Bi, anaknya biru, anaknya wis biru'," kata SAW, Minggu (18/10).
SAW kemudian menghampiri anaknya yang ditemukan dalam posisi tertelungkup. Dia melihat adanya benjolan di dahi diduga akibat benturan ketika korban terjatuh.
"Posisinya terjungkal sujud begitu. Jidatnya ada benjolannya, bekas kayak tersungkur, jadi jatuh dari kursi roda," ujar dia.
Ketika mengangkat tubuh putranya, SAW menemukan sejumlah kondisi tidak wajar. Selain wajah membiru, terdapat tali sepatu melilit leher dan benda menyerupai sabun colek dalam mulut Z.
SAW juga mendapati daun lamtoro berserakan di tubuh anaknya. Temuan tersebut semakin menguatkan kecurigaannya bahwa ada tindakan kekerasan sebelum korban ditemukan.
"Lehernya dijerat tali sepatu, mulutnya dijejali sabun colek, dan tubuhnya ditaburi daun lamtoro. Hasil otopsi di Polda Jawa Timur juga ada cairan sabun colek di lambung anak saya," uja dia.
Kejadian itu sempat mengundang perhatian warga sekitar. Sejumlah orang berdatangan ke rumah korban setelah mendengar kegaduhan.
Di tengah kepanikan tersebut, SAW berusaha menyelamatkan anaknya dengan membawanya ke rumah sakit terdekat. Ia mendapat bantuan dari seorang penghuni rumah kos di sekitar tempat tinggalnya. Namun, upaya penyelamatan tersebut tidak membuahkan hasil. Z dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 09.45 WIB.
"Sekitar 15 menit sampai rumah sakit, sekitar pukul 09.45 WIB, habis itu dinyatakan meninggal,” kata SAW.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376243/original/094926800_1792317847-bocah_disabilitas_dibullying_di_surabaya.jpg)
Advertisement
Temuan CCTV
Kematian putranya dengan kondisi tidak wajar membuat SAW berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi ketika dirinya tertidur dan istrinya masih berada di pasar. Dia kemudian memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV yang terpasang di sekitar rumah.
Dari rekaman tersebut, SAW mengaku melihat dua anak tetangganya, masing-masing berinisial F (8) dan K (10), memasuki rumahnya pada rentang waktu pukul 08.15 hingga 08.47 WIB.
Menurut SAW, kedua anak tersebut sempat berada di dalam rumah selama beberapa menit sebelum meninggalkan lokasi. Salah satunya kemudian terlihat kembali memasuki rumah seorang diri.
"Berdasarkan rekaman CCTV, ada dua anak masuk ke rumah saya pukul 08.15 WIB dan baru keluar pukul 08.30 WIB atau 08.32 WIB. Artinya, anak saya (diduga) disiksa selama kurang lebih 12 menit. Selang 5 menit kemudian, salah satu pelaku bernama K masuk kembali sendirian dari pukul 08.37 WIB sampai pukul 08.47 WIB," kata dia.
Berdasarkan rekaman itu, SAW mencurigai adanya keterlibatan kedua anak tersebut dalam peristiwa menyebabkan putranya meninggal dunia.
Meski demikian, keberadaan seseorang di lokasi kejadian belum dengan sendirinya membuktikan keterlibatan dalam tindak pidana. Kepastian mengenai peran masing-masing anak masih menjadi bagian dari proses penyidikan kepolisian.
SAW menjelaskan bahwa kondisi fisik putranya sangat terbatas. Selain mengalami down syndrome, Z juga menderita cerebral palsy yang membuatnya tidak mampu berjalan maupun melakukan aktivitas secara mandiri.
“Anak saya ini berkebutuhan khusus, dia mengalami down syndrome dan cerebral palsy (CP). Dia tidak bisa bicara, tidak bisa berdiri, matanya agak kabur, dan tangannya lemas tidak bisa memegang benda," kata SAW.
Kecurigaan keluarga juga dipicu sejumlah kejadian sebelumnya yang dianggap tidak wajar. Sekitar sepekan sebelum Z meninggal dunia, SAW mengaku menemukan tali sepanjang kurang lebih satu meter melingkar di pundak anaknya.
Sementara itu, sekitar sebulan sebelumnya, wajah dan tubuh korban pernah ditemukan dipenuhi pasir. Padahal, menurut SAW, keterbatasan fisik membuat putranya tidak mungkin turun dari kursi roda untuk mengambil pasir sendiri.
"Seminggu sebelum kejadian ini, saya melihat ada tali tampar sepanjang 1 meter melingkar di pundak anak saya. Sebulan sebelumnya, muka dan seluruh tubuh anak saya juga penuh dengan pasir, padahal anak saya tidak bisa turun sendiri dari kursi roda untuk mengambil pasir," ujar dia.
Rentetan kejadian tersebut membuat keluarga menduga Z telah beberapa kali menjadi sasaran kekerasan sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia. Meski demikian, dugaan bahwa peristiwa-peristiwa sebelumnya berkaitan dengan kematian korban masih memerlukan pembuktian melalui penyidikan.
Advertisement
Polisi Turun Tangan
Atas kejadian tersebut, SAW bersama istrinya melaporkan dugaan tindak pidana yang menimpa putra mereka ke Polrestabes Surabaya. Laporan itu tercatat dengan nomor LP/B/1843/IX/2026/SPKT/Polrestabes Surabaya/Polda Jawa Timur, tertanggal 12 September 2026.
SAW menyebut proses hukum telah berjalan dan seorang anak berinisial K telah ditetapkan sebagai tersangka. "Proses hukumnya masih berjalan. Namun, sejauh ini baru satu orang yang ditetapkan sebagai tersangka dan ditandatangani oleh istri saya, yaitu K," kata SAW.
Sementara itu, F yang juga terlihat dalam rekaman CCTV, menurut keterangan SAW, belum ditetapkan sebagai tersangka. Kondisi tersebut menyisakan kekecewaan mendalam bagi keluarga korban. SAW mengaku sulit menerima kenyataan ketika melihat anak yang dicurigainya masih beraktivitas di lingkungan tempat tinggal mereka.
"Sementara F belum menjadi tersangka karena polisi menyebut dia tidak ikut menjerat [leher Z]. Hati saya hancur dan remuk sekali saat melihat F masih berkeliaran bebas di depan saya saat Jumatan, sementara anak saya yang tidak berdaya sudah tiada," pungkasnya.
Terpisah, Kasatres PPA dan PPO Polrestabes Surabaya AKBP Melatisari membenarkan bahwa kepolisian tengah menangani perkara dugaan kekerasan terhadap anak yang berujung pada kematian tersebut.
"Kita tangani, proses penyidikan," kata Melatisari.
Hingga kini, kepolisian masih mendalami rangkaian peristiwa serta dugaan keterlibatan pihak-pihak terkait untuk mengungkap penyebab dan pertanggungjawaban hukum atas kematian korban.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376242/original/092373900_1792317847-Orangtua_bocah_diduga_dibullying_di_surabaya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535506/original/094378800_1774045223-IMG-20260320-WA0065.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376253/original/093882600_1792319881-1000723279.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376218/original/085949900_1792314640-b2c5315cfb57ae47b9efe337e818b035.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376122/original/080525400_1792307966-WhatsApp-Image-2026-10-18-at-12.03.09-PM-768x432.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376211/original/041229800_1792313102-Napoleon_Bonaparte_Wafat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376098/original/075870500_1792304479-591987.jpg)