Titik Api di Taman Nasional Babul Bermunculan

Kebakaran TN Babul di Pangkep belum padam. Titik api bertambah di medan karst yang sulit dijangkau. Petugas mengungkap temuan terbaru di lokasi.

Fauzan
Oleh Fauzan- Reporter
Titik Api di Taman Nasional Babul Bermunculan
Petugas berupaya memadamkan kebakaran Taman Nasional Babul

Kebakaran TN Babul di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, belum padam hingga Jumat (16/10/2026). Lahan terbakar tercatat mencapai 93,43 hektare dan titik api terus bermunculan di kawasan karst, mengancam habitat satwa liar.

Api yang mula muncul di Kampung Bangkasakeang, Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci, pada Minggu (11/10/2026) malam merambat hingga kawasan Batu Napara di Kelurahan Balocci Baru. Medan pegunungan karst yang terjal serta keterbatasan sumber air menyulitkan pemadaman di lapangan.

Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung, Abdul Rajab, menyebut perluasan areal terbakar tercatat dalam beberapa hari terakhir.

"Total akumulasi luas karhutla sampai hari ini sudah mencapai 93,43 hektare. Vegetasi yang terbakar didominasi oleh tegakan pohon jati dan rumpun bambu, mulai dari lantai hingga ke tajuk karst," kata Abdul Rajab, Jumat (16/10/2026).

Api terkonsentrasi di dua lokasi, yakni Wae Sellue di Kampung Bangkasakeang, Kelurahan Kassi, serta Batu Napara di Kelurahan Balocci Baru. Berdasarkan pemantauan drone, titik api yang semula hanya dua kini bertambah menjadi sembilan.

"Masih terdapat sembilan titik api yang terpantau di kedua lokasi tersebut," ujarnya.

Perambatan dari Bangkasakeang menuju Batu Napara memperluas area penanganan. Sejumlah titik kebakaran berada di puncak-puncak karst yang sulit dijangkau melalui jalur darat, sehingga pemadaman langsung kerap terkendala.

Petugas melakukan pemadaman manual di titik-titik yang bisa diakses, terutama yang berada dekat permukiman. Dua titik asap di tebing karst berhasil dipadamkan menggunakan peralatan portabel.

"Tim berhasil memadamkan 2 titik asap yang berada di tengah tebing karst secara manual menggunakan jet shooter. Salah satu titik api yang berhasil kita padamkan itu berjarak cukup dekat dengan pemukiman warga, sekitar 500 meter," ujarnya.

Hambatan lain adalah angin kencang yang mempercepat rambatan api dan keterbatasan sumber air. Jarak titik kebakaran yang jauh dari permukiman membuat mobil pemadam tidak dapat menyemprotkan air secara langsung ke sumber api.

"Teman-teman terpaksa mengambil air dari mobil damkar untuk mengisi jet shooter saja. Untuk disemprot langsung tidak bisa karena jauh sekali," tuturnya.

Dampak kebakaran meluas pada ekosistem karst yang menjadi habitat beragam satwa, termasuk burung, monyet makaka, ular, dan reptil lain. Tarsius yang bergantung pada rumpun bambu dan pohon jati juga dikhawatirkan terdampak akibat rusaknya vegetasi.

Petugas menemukan sejumlah satwa yang terkena dampak di sekitar area terbakar.

"Kemarin yang kita temukan ada burung, ada bunglon. Ada ular juga, tapi kemarin masih hidup waktu ditemukan," kata Abdul Rajab.

Selain satwa, keberadaan situs prasejarah di kawasan karst Maros-Pangkep turut menjadi perhatian agar tidak terdampak. Untuk saat ini, pemadaman dan pemantauan difokuskan agar api tidak meluas ke area lain.

Hingga Jumat (16/10/2026), belum ada data resmi baru terkait penambahan luas lahan terbakar setelah angka 93,43 hektare yang dilaporkan pada Kamis (15/10/2026). Pemantauan dan upaya pengendalian kebakaran terus dilakukan di TN Bantimurung Bulusaraung.

Rekomendasi