Perusahaan Umum (Perum) Bulog tengah memproses lelang 385.000 ton beras melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Beras tersebut nantinya disiapkan sebagai bahan baku dapat diolah menjadi tepung beras oleh para pelaku UMKM.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan bahwa Bulog tak memproduksi tepung beras secara mandiri. Peran Bulog terbatas pada penyediaan dan pelelangan beras melalui mekanisme resmi.
"Tepung berasnya bukan kami, jangan salah persepsi. Kami hanya menjual berasnya lewat KPKNL secara lelang. Nanti yang mengolah beras menjadi tepung beras adalah teman-teman pengusaha dan UMKM di daerah," ujar Rizal saat ditemui usai Rakortas di Jakarta pada Rabu (14/10).
Rizal juga menyoroti mekanisme pelelangan akan dibagi dengan penetapan kuota per provinsi. Mekanisme kuota ini disiapkan oleh KPKNL dan Direksi Pemasaran Bulog.
Di sisi lain, target penyerapan beras petani oleh Bulog yang awalnya dipatok sebesar 4 juta ton kini telah menembus angka 4,13 juta ton. Meskipun target 100 persen sudah tercapai, pihak Bulog menegaskan tak akan menghentikan proses penyerapan di tingkat petani.
Selama musim panen berlangsung, Bulog diperintahkan untuk terus membeli dan menyerap hasil panen masyarakat.
"Atas arahan Presiden, Menko Pangan, dan Mentan, selama petani panen, Bulog wajib terus menyerap. Kita ingin melindungi petani agar hasil panen mereka tetap terserap dengan harga yang terjaga," ujar Rizal.
Pemerintah juga memastikan tidak ada batasan atau kuota maksimal untuk penyerapan beras petani, dan alokasi anggarannya sudah disiapkan secara aman oleh pemerintah.