Prabowo Revitalisasi Museum, Putu Rudana: Komitmen Memuliakan Peradaban Nusantara

Oktober menjadi momentum penting bagi museum dan kebudayaan Indonesia.

Raynaldo Ghiffari Lubabah
Prabowo Revitalisasi Museum, Putu Rudana: Komitmen Memuliakan Peradaban Nusantara
Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Museum bukan sekadar tempat menyimpan benda bersejarah. Di balik koleksinya, tersimpan jejak peradaban, identitas bangsa, dan warisan leluhur yang menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana mengajak masyarakat menjadikan peringatan Hari Museum Indonesia ke-11 pada 12 Oktober 2026 sebagai momentum untuk memperkuat peran museum dalam menjaga kepribadian bangsa dan melestarikan kebudayaan Nusantara.

“Museum memiliki peran strategis menjadi soko guru bangsa dalam mengawal kepribadian bangsa. Menghargai museum berarti turut menghargai perjalanan sejarah dan peradaban yang diwariskan para leluhur. Semangat tersebut perlu terus dirawat agar kekayaan budaya Indonesia tidak hanya tersimpan, tetapi juga dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Putu dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).

Menurut Putu, Oktober menjadi momentum penting bagi museum dan kebudayaan Indonesia. Berbagai peringatan pada bulan tersebut menjadi pengingat akan pentingnya persatuan dalam keberagaman sekaligus peluang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.

Mengusung semangat “Museum di Hatiku – Sehati Museum”, Putu mengajak masyarakat membangun kedekatan dengan museum dan menumbuhkan kebanggaan terhadap kebudayaan Nusantara.

“Indonesia memiliki warisan sejarah dan peradaban yang kaya, mulai dari prasejarah era Megalitikum, era klasik yang diawali dari Kerajaan Kutai, Sriwijaya, Mataram Kuno, hingga Kahuripan di bawah kepemimpinan Raja Airlangga, serta era Singosari dan Majapahit. Dan kita juga memiliki Kekayaan budaya Indonesia yang tercermin dalam seni pertunjukan, kuliner, keberagaman suku dan bahasa, adat istiadat, wastra, hingga sastra. Semua kekayaan tersebut berpadu menjadi keindahan alam nusantara, sehingga kekuatan budaya menjadi daya tarik Indonesia di mata dunia,” ucap Putu.

Putu menilai kolaborasi pemerintah, pengelola museum, komunitas, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat diperlukan untuk memperkuat permuseuman Indonesia. Museum tidak hanya berfungsi sebagai ruang pelestarian sejarah dan kebudayaan, tetapi juga sebagai sarana edukasi untuk memperkenalkan kekayaan peradaban Indonesia kepada generasi muda dan masyarakat internasional.

“Hari museum merupakan momentum untuk memperkuat kolaborasi pemerintah, pengelola museum, komunitas, akademisi, dunia usaha, media dan masyarakat dalam memajukan kebudayaan nasional. Mari kita gaungkan museum, mari kita muliakan kebudayaan, mari kita muliakan segala peninggalan leluhur kita melalui museum, karena museum adalah rumah kebudayaan,” tegasnya.

 

Prabowo Minta Museum Sejarah Direvitalisasi

Perhatian terhadap pengembangan museum juga terlihat dari langkah Presiden Prabowo Subianto meresmikan revitalisasi Museum Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya, Jakarta Timur, pada 1 Oktober 2026.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan bahwa Presiden menginginkan museum sejarah terus dirawat, dilindungi, dan direvitalisasi. Museum diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga pusat edukasi dan ruang untuk menjaga memori kolektif bangsa.

Selain itu, Kementerian Kebudayaan melakukan revitalisasi museum, pemugaran situs cagar budaya, dan penataan keraton Nusantara di lebih dari 200 titik pada 2026.

“Renovasi Museum Kesaktian Pancasila mencakup pembaruan narasi sejarah, alur cerita, tata pamer, serta penambahan teknologi digital dan pengalaman imersif. Pembaruan tersebut ditujukan untuk membuat penyajian sejarah lebih lengkap dan relevan bagi masyarakat,” ucap Fadli.

Pengembangan museum, dengan demikian, tidak berhenti pada pemeliharaan benda bersejarah. Pembaruan narasi, tata pamer, dan pengalaman pengunjung juga menjadi bagian dari upaya menjadikan museum sebagai ruang pembelajaran publik.

Putu mengapresiasi komitmen pemerintah dalam merawat museum dan memuliakan warisan budaya Indonesia.

“Apresiasi yang tinggi kepada Presiden Prabowo dan Menteri Kebudayaan, bung Fadli Zon atas komitmennya dalam memuliakan peradaban, meluhurkan museum, dan mengaungkan kemuliaan nusantara,” kata Putu.

 

Sejarah Permuseuman di Indonesia

Sejarah permuseuman Indonesia antara lain ditandai dengan berdirinya Museum Nasional pada 24 April 1778 melalui organisasi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.

Sejumlah museum bersejarah kemudian berdiri, di antaranya Museum Radya Pustaka di Surakarta pada 1890, Museum Bali pada 1932, dan Museum Sonobudoyo di Yogyakarta pada 1935.

Gagasan Hari Museum Indonesia berawal dari Musyawarah Museum se-Indonesia pertama yang digelar di Yogyakarta pada 12–14 Oktober 1962. Tanggal 12 Oktober kemudian disepakati sebagai Hari Museum Indonesia dalam Pertemuan Nasional Museum se-Indonesia di Malang pada 2015.

Peringatan Hari Museum Indonesia menjadi bagian dari upaya memperkuat perhatian terhadap pelestarian sejarah dan kebudayaan. Putu Supadma Rudana turut terlibat dalam upaya mendorong penetapan hari peringatan tersebut melalui perannya di AMI.

Hari Museum Indonesia kini menjadi momentum bagi pengelola museum dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat pelestarian warisan sejarah, meningkatkan apresiasi masyarakat, serta mendekatkan museum kepada kehidupan publik.

Rekomendasi