Peran Intel BIN di Balik Penyergapan Markas OPM Papua

Peran intel BIN dalam operasi OPM Papua di Maybrat dijelaskan Panglima Kogabwilhan III. Ada temuan penting dan hasil penindakan.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
Peran Intel BIN di Balik Penyergapan Markas OPM Papua
TNI jelaskan penggerebekan markas opm di maybrat. (dokumentasi tni).

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto menekankan dukungan intelijen sebagai faktor krusial dalam operasi keamanan di Papua. Informasi akurat disebut membantu mengarahkan sasaran penindakan terhadap OPM Papua sekaligus menekan risiko bagi warga sekitar.

"Informasi mengenai keberadaan kelompok bersenjata dinilai membantu aparat dalam menentukan sasaran operasi serta mengurangi risiko terhadap masyarakat sipil di sekitar wilayah penindakan," ucap Lucky dalam keterangan diterima di Jakarta, Sabtu (10/10).

Menurut Lucky, sinergi Badan Intelijen Negara (BIN) dan satuan operasi TNI menjadi elemen penting menghadapi ancaman kekerasan bersenjata. Ia mencontohkan operasi pasukan gabungan Satgas Yonif Marinir 9 dan Denkul 4 Satgas Rajawali V Koops TNI Habema terhadap kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.

"Berdasarkan informasi operasi yang disampaikan, keberhasilan penindakan tersebut didukung oleh informasi intelijen bernilai A1 dari Badan Intelijen Negara (BIN)," ujar Lucky.

Dalam pelaksanaan operasi, pasukan gabungan TNI dilaporkan menemukan lokasi persembunyian Komandan Operasi TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya, Manfret Fatem, bersama dua komandan batalyon, Anton Fatem (Komandan Batalyon Ayosami) dan Yesias Fatem (Komandan Batalyon Mosata).

"Ketiganya disebut melakukan perlawanan dengan melepaskan tembakan ke arah pasukan TNI sehingga terjadi kontak senjata. Manfret Fatem dilaporkan tewas di lokasi, sedangkan Anton Fatem dan Yesias Fatem dilaporkan tewas ketika berusaha melarikan diri menuju kawasan Sungai Frambu. Pencarian terhadap dua jenazah yang disebut tenggelam di sungai masih dilakukan," kata dia.

Barang Bukti di Operasi OPM Papua

Dari lokasi kontak senjata, personel TNI dilaporkan mengamankan satu pucuk senjata api jenis AK-101, puluhan butir amunisi tajam, dan selembar bendera Bintang Kejora. Seluruh barang bukti tersebut menjadi bagian dari hasil operasi pasukan gabungan.

Lucky menegaskan TNI akan terus menjalankan tugas pengamanan wilayah dan penegakan hukum terhadap ancaman kekerasan bersenjata secara profesional, tegas, dan terukur. Personel di bawah kendali Kogabwilhan III diwajibkan mengedepankan rules of engagement (ROE), ketentuan perundang-undangan, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia dalam setiap tugas.

"Prinsip salus populi suprema lex esto, yakni keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi tetap menjadi pedoman utama dalam penyelenggaraan operasi. Keselamatan masyarakat sipil, perlindungan terhadap warga, dan pemeliharaan stabilitas keamanan di Papua merupakan prioritas yang harus dijaga oleh seluruh personel TNI," kata dia.

Keberhasilan operasi yang dilaporkan di Maybrat disebut sebagai bagian dari upaya berkelanjutan TNI menjaga keamanan di Papua Barat Daya. Dukungan informasi intelijen BIN dan koordinasi antarsatuan diharapkan terus memperkuat efektivitas pelaksanaan tugas dengan tetap menjamin akuntabilitas, kepatuhan terhadap hukum, serta perlindungan masyarakat.

Rekomendasi