Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Indonesia (Lemhannas RI), Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., menegaskan kesadaran geopolitik bukan hanya milik diplomat atau pemimpin negara. Kompetensi ini, kata dia, perlu dimiliki setiap warga negara, terutama generasi muda. Pesan tersebut disampaikan dalam Kuliah Umum bertema Membangun Kesadaran Geopolitik Generasi Muda: Memahami Dunia, Menentukan Posisi, Memberi Kontribusi di Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (7/10).
Ace menjelaskan kesadaran geopolitik sebagai kemampuan membaca, memahami, dan menanggapi dinamika kekuatan global secara kritis dan strategis. Menurutnya, isu-isu dunia kini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga kesadaran ini tidak boleh dianggap sebagai urusan segelintir orang.
Ia mencontohkan gangguan di Selat Hormuz akibat konflik Iran–Israel yang membuat biaya logistik naik hingga 150—200 persen, serta longsor di tambang Grasberg, Papua, pada tahun 2025 yang mengurangi pasokan tembaga dunia. Dua peristiwa ini menunjukkan kejadian global berdampak pada Indonesia sekaligus menegaskan bahwa Indonesia tidak sekadar menjadi penerima dampak.
Wujud sederhana dari kesadaran geopolitik, lanjut Ace, adalah sikap kritis terhadap informasi. Ia mengajak mahasiswa tidak berhenti pada membaca, tetapi juga menelusuri siapa pembuat informasi dan apa kepentingannya. Caranya, dengan mengajukan lima pertanyaan: apa yang terjadi, mengapa terjadi, siapa yang berkepentingan, apa dampaknya bagi bangsa, dan apa yang bisa dilakukan. Dengan pola pikir tersebut, generasi muda diharapkan berperan sebagai aktor, bukan sekadar sasaran informasi dan propaganda.
Agar kesadaran itu tumbuh, Ace menyampaikan lima kemampuan yang perlu dimiliki generasi muda menuju 2045: kesadaran strategis, berpikir kritis, kesadaran akan kepentingan nasional, kompetensi global, dan literasi digital. Ia menekankan bahwa kesadaran geopolitik tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi harus menjadi modal bagi ketahanan nasional. Upaya ini, menurut Ace, merupakan agenda bersama pemerintah, perguruan tinggi, generasi muda, ekosistem teknologi, masyarakat, dan organisasi kepemudaan. Ia berharap ITB dapat mencetak generasi muda yang produktif, inovatif, serta menjadi pemimpin yang adaptif dan kompetitif, karena kesadaran geopolitik akan menentukan peran strategis Indonesia.
Ace juga menyoroti besarnya jumlah generasi muda yang mencapai 66 juta jiwa pada usia 15—29 tahun menurut data BPS 2025. Jika tidak dipersiapkan dengan baik, kelompok ini berpotensi menghadapi kesenjangan keterampilan, polarisasi, serta kerentanan terhadap informasi dan ketergantungan pada teknologi.
“Sekali lagi, teknologi adalah kekuatan. Indonesia perlu mencipta, mengembangkan, menguasai, dan mengamankan teknologi,” kata Ace.
Menutup paparannya, Ace menegaskan bahwa geopolitik bukan sekadar tentang apa yang terjadi di dunia, melainkan bagaimana perubahan dunia berdampak pada Indonesia. Ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi aktor, sehingga kesadaran geopolitik berkembang menjadi kemampuan beradaptasi dan berujung pada kontribusi nyata bagi ketahanan nasional.
“Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang Indonesia yang akan kita tinggali, tetapi juga tentang Indonesia yang kita bentuk hari ini,” tutup Ace.
Turut mendampingi Gubernur Lemhannas RI, yaitu Plt. Deputi Pengkajian Strategik Lemhannas RI, Mayor Jenderal TNI (Mar) Ipung Purwadi, M.M.; Tenaga Profesional Bidang Sumber Kekayaan Alam Lemhannas RI, Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daihani, D.E.A.; Tenaga Profesional Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Lemhannas RI, Marsekal Muda TNI (Purn) Andi Heru Wahyudi; Inspektur Lemhannas RI, Brigadir Jenderal Polisi Udin Zainudin, S.I.K., M.H.; serta sejumlah pejabat struktural dan fungsional Lemhannas RI.
Hadir dalam kegiatan di Universitas Hasanuddin, antara lain Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T.; Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi (WRKMAA), Dr. Andryanto Rikrik Kusmara, S.Sn., M.Sn.; serta jajaran pejabat ITB.