Ini Dugaan Penyebab 276 Siswa Keracunan Usai Santap MBG di Batang

276 siswa tingkat SD, MTs, SMP dan SMA di Bawang mual-mual, muntah dan pusing setelah mengonsumsi MBG pada Rabu (23/9).

Danny Adriadhi Utama
Oleh Danny Adriadhi Utama - Reporter
Ini Dugaan Penyebab 276 Siswa Keracunan Usai Santap MBG di Batang
Korban keracunan menu PMT di Batang (Foto: Arief Pramono/Liputan6.com)

Badan Gizi Nasional (BGN) Korwil Jawa Tengah mengungkap ratusan siswa SD hingga SMA di Kecamatan Bawang Kabupaten Batang keracunan MBG disebabkan pengaruh proses makanan disajikan.

Seperti diketahui, setidaknya ada 276 siswa tingkat SD, MTs, SMP dan SMA di Bawang yang mual-mual, muntah dan pusing setelah mengonsumsi MBG pada Rabu (23/9).

Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional Jawa Tengah, Reza Mahendra mengatakan, penyebab pasti kejadian di Bawang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan. Dari hasil investigasi dalam proses pengolahan dan penyajian makanan melewati batas waktu ditentukan karena dibawa pulang.

Selain itu, makanan diduga diolah terlalu dini dan kondisi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ditemukan belum dalam kondisi bersih.

"Penyebab masih menunggu hasil laboratorium dari Dinkes. Tapi, dari hasil investigasi ditemukan adanya makanan yang dikonsumsi melebihi batas waktu yang ditentukan karena dibawa pulang. Kemudian makanan dimasak atau diolah terlalu awal dan kondisi SPPG tidak dalam kondisi yang bersih," kata Reza Mahendra, Jumat (25/9).

 

Dugaan Pelanggaran SOP

Pihak BGN Jateng juga menemukan adanya dugaan pelanggaran SOP dalam proses pengolahan makanan, khususnya terkait waktu memasak dan penyajian.

"Makanan diolah terlalu dini sehingga makanan yang disajikan melewati batas waktu yang seharusnya, yaitu empat jam setelah matang," ujar Reza.

Adapun investigasi dilakukan mendatangi langsung SPPG serta fasilitas kesehatan tempat korban mendapatkan perawatan. Ia juga berkoordinasi dengan satgas daerah, termasuk Pemerintah Kabupaten Batang.

"Investigasi dilakukan dengan kunjungan langsung ke SPPG, kemudian kunjungan ke rumah sakit terhadap korban terdampak. Kami juga berkoordinasi dengan Satgas daerah, termasuk dengan Bupati Batang," kata dia.

Sedangkan untuk penanganan kasus tidak hanya dilakukan dengan memberikan sanksi berupa penghentian sementara atau penutupan SPPG. Penguatan penerapan SOP menjadi salah satu langkah yang akan dilakukan.

Dia juga mendorong setiap SPPG memiliki chef bersertifikat serta memperkuat pengawasan melalui monitoring dan inspeksi mendadak.

"Sosialisasi SOP, kewajiban SPPG memiliki chef bersertifikat, serta pengawasan dan monitoring melalui sidak dari internal BGN dan Satgas menjadi penting agar pelaksanaan kegiatan di SPPG benar-benar dilakukan secara baik dan benar," pungkas Reza.

Rekomendasi