Pemkab Banyuwangi Gandeng IAI Jatim, Dorong Arsitektur yang Berakar pada Identitas Lokal

Pemkab Banyuwangi menggandeng IAI Jatim untuk meningkatkan kualitas ruang publik, tata ruang, dan kawasan wisata dengan arsitektur berkarakter lokal.

Wuri Anggarini
Oleh Wuri Anggarini - Reporter
Pemkab Banyuwangi Gandeng IAI Jatim, Dorong Arsitektur yang Berakar pada Identitas Lokal
Foto dok. Pemkab Banyuwangi

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggandeng Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur untuk meningkatkan kualitas pembangunan daerah. Kerja sama ini diarahkan agar infrastruktur dan tata ruang tetap mencerminkan identitas lokal sekaligus memperhatikan keberlanjutan.

Kolaborasi tersebut dituangkan dalam nota kesepahaman tentang Sinergi Pembangunan dan Pengembangan Potensi Daerah. Dokumen itu ditandatangani Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dan Ketua IAI Jawa Timur Fafan Tri Afandy di Banyuwangi, Jumat (11/9/2026).

Melalui kerja sama ini, pemkab mendorong keterlibatan arsitek dalam perencanaan ruang publik, bangunan pemerintahan, fasilitas pelayanan masyarakat, hingga kawasan pariwisata.

Ipuk Ingin Pembangunan Berpihak kepada Masyarakat

Pemkab Banyuwangi Gandeng IAI Jatim, Dorong Arsitektur yang Berakar pada Identitas Lokal
Foto dok. Pemkab Banyuwangi

Bupati Ipuk mengatakan, pemkab terus berupaya menjaga agar pembangunan tidak sekadar mengejar aspek fisik, namun juga memperhatikan kenyamanan masyarakat, keberlanjutan lingkungan, serta karakter daerah.

“Arsitektur tidak hanya soal kemegahan, tetapi harus berpihak kepada masyarakat. Dengan kolaborasi bersama IAI, kami ingin terus memastikan ruang publik, taman kota, hingga tata ruang wilayah melibatkan arsitek agar pembangunan lebih nyaman, berkelanjutan, dan menyejahterakan masyarakat,” ungkapnya.

Menurut Ipuk, Banyuwangi telah menjalankan konsep pembangunan hijau selama lebih dari 14 tahun. Banyak bangunan publik di Banyuwangi melibatkan arsitek.

“Kita ingin pembangunan daerah tetap berkarakter dan tidak kehilangan jati diri, namun pada saat yang sama memenuhi standar kualitas dan keberlanjutan,” kata Ipuk.

Ketua IAI Jawa Timur Fafan Tri Afandy mengatakan kerja sama tersebut menjadi peluang untuk semakin memperkuat ekosistem arsitektur di Banyuwangi, sekaligus meningkatkan kualitas pembangunan daerah.

“IAI bersama Pemkab Banyuwangi telah lama menjalin kolaborasi yang cukup intens. Kami melihat loncatan perkembangan bidang arsitektur yang cukup pesat di Banyuwangi hingga menjadikannya barometer arsitektur di Indonesia, khususnya di wilayah timur,” kata Fafan.

Menurut Fafan, perkembangan tersebut tidak lepas dari konsistensi Banyuwangi dalam mengembangkan arsitektur yang mengangkat identitas lokal sekaligus mengedepankan prinsip keberlanjutan.

Salah satu tonggaknya adalah keberhasilan Banyuwangi meraih Aga Khan Award for Architecture melalui Bandara Internasional Banyuwangi. Penghargaan tersebut merupakan salah satu penghargaan arsitektur paling bergengsi di dunia.

IAI Dorong Pengembangan Arsitek Lokal

Kolaborasi dengan IAI juga diharapkan semakin memperkuat kapasitas sumber daya manusia bidang arsitektur di Banyuwangi.

“Dari awal hanya terdapat tiga hingga empat arsitek, kini Banyuwangi memiliki 10–16 arsitek teregistrasi, 33 konsultan perencana, serta sekitar 80 sarjana arsitektur yang kembali ke daerah,” ujarnya.

Melalui kerja sama ini, IAI Jawa Timur juga berkomitmen memberikan dukungan pengembangan kapasitas para arsitek dan tenaga profesional di Banyuwangi.

"Saat ini telah terbentuk Komisariat Wilayah IAI Banyuwangi sebagai wadah resmi bagi para arsitek lokal untuk berpraktik, berkolaborasi, dan mengembangkan kompetensi," ujar Fafan.

Selain itu, IAI Jatim Komisariat Banyuwangi juga terus mengembangkan ruang diskusi publik mengenai arsitektur. Salah satunya melalui rangkaian acara Gesah dan Pameran Arsitektur yang berlangsung pada 11-13 September 2026.

Rekomendasi