Prabowo Bentuk BPGMN untuk Perkuat Pengelolaan Gambut dan Mangrove

Prabowo menyetujui pembentukan badan gambut-mangrove nasional usai diskusi di Istana Merdeka. Brian Yuliarto memaparkan alasan dan arahan teknisnya.

Devira Prastiwi
Oleh Devira Prastiwi - Reporter
Prabowo Bentuk BPGMN untuk Perkuat Pengelolaan Gambut dan Mangrove
Presiden Prabowo Subianto saat memberikan pengarahan dalam rapat kerja pemerintahan di Istana Merdeka Jakarta, Rabu (8/4/2026) (Biro Pers Istana)

Presiden Prabowo Subianto berdiskusi dengan sejumlah akademisi dan pakar mengenai pengelolaan serta penanganan lahan gambut di Indonesia.

Diskusi yang digelar di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/9/2026), membahas strategi berbasis riset untuk mencegah dan menangani kebakaran gambut.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan, pelibatan para ilmuwan menjadi bagian dari upaya memperkuat kebijakan pengelolaan gambut yang berbasis pengetahuan dan hasil penelitian.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo memutuskan pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN).

"Bapak Presiden menyetujui karena berdasarkan pengalaman para ilmuwan ini ternyata memang keberadaan badan tersebut sangat penting," ujar Brian dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).

"Data-data, kemudian izin-izin pengelolaan-pengelolaan yang dilakukan oleh satu lembaga itu akan sangat memudahkan, termasuk pada akhirnya untuk berbagai pencegahan dan lain-lainnya itu akan dapat dilakukan dengan mudah," sambung dia.

Arah Pengelolaan Terus Diperkuat

Brian mengatakan, Presiden Prabowo juga mengarahkan agar badan tersebut diperkuat dengan dukungan para ilmuwan dan saintis.

Pengelolaan gambut nantinya akan didukung pemetaan yang lebih komprehensif untuk mengidentifikasi karakteristik dan potensi lahan. Pemetaan tersebut juga mencakup penentuan kawasan yang sesuai untuk budi daya tanaman, perikanan, maupun pemanfaatan lainnya.

"Kemudian juga tadi disampaikan berbagai pengetahuan dan praktek-praktek baik kearifan lokal itu Bapak Presiden menyampaikan agar bisa digunakan sebagai referensi utama untuk nantinya bagaimana pengelolaan dan penanganan lahan gambut itu bisa dilakukan secara optimal," kata Brian.

Dalam penanganan kebakaran, Presiden Prabowo turut mendorong penguatan kembali pendekatan berbasis desa dan masyarakat melalui masyarakat peduli api (MPA).

Laporan Hasil Kajian Ahli

Brian mengatakan, berdasarkan laporan hasil kajian yang disampaikan para ahli, masyarakat yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian memiliki peran penting dalam memberikan respons awal secara cepat dan efektif.

"Tadi juga beberapa praktek baik disampaikan oleh para ilmuwan seperti membangun pompa yang cepat, bagaimana hitungan ketika penanganan dilakukan melalui udara dan sebagainya yang semuanya Bapak Presiden sangat menyambut baik agar hal-hal tadi bisa nantinya dijadikan sebagai referensi sekali lagi untuk badan yang akan segera dibentuk," tutur dia.

Aspek edukasi juga menjadi perhatian dalam pengelolaan gambut. Salah satunya melalui sekolah dan pengembangan kurikulum mengenai pentingnya menjaga lahan gambut serta mencegah kebakaran.

Lebih lanjut, Brian mengatakan Presiden Prabowo meminta agar riset, penelitian, dan kajian mengenai gambut terus dilanjutkan. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung pengelolaan lahan gambut Indonesia secara optimal.

"Intinya ke depan lahan gambut di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 33 juta hektare itu bisa dioptimalkan, bisa dimanfaatkan. Di satu sisi dia memproduksi sesuatu yang cocok tetapi di sisi lain yang jauh lebih penting adalah dengan adanya pengelolaan maka pencegahan itu bisa dilakukan dengan lebih baik," tandas Brian.

Rekomendasi