Fakta Unik: 5.000 Orang Ikuti Pelatihan SAR Basarnas 2025, Kuatkan Kesiapsiagaan Bencana Nasional

Basarnas sukses melatih lebih dari 5.000 potensi SAR di berbagai daerah sepanjang 2025. Pelatihan SAR Basarnas ini krusial untuk kesiapsiagaan bencana, terutama di lokasi sulit dijangkau.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: 5.000 Orang Ikuti Pelatihan SAR Basarnas 2025, Kuatkan Kesiapsiagaan Bencana Nasional
Basarnas sukses membina lebih dari 5.000 masyarakat dalam program Potensi SAR Basarnas di berbagai daerah, memperkuat garda terdepan kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas. (Merdeka.com)

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mencatat lebih dari 5.000 orang di berbagai wilayah Indonesia telah mengikuti pelatihan pencarian dan pertolongan (SAR) sepanjang tahun 2025. Inisiatif strategis ini merupakan bagian dari upaya Basarnas untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas di seluruh negeri.

Pelatihan ini diselenggarakan di beberapa kota besar. Lokasi tersebut meliputi Medan, Jakarta, Pontianak, Kendari, Lampung, Makassar, Palembang, Pekanbaru, hingga Maumere, menunjukkan jangkauan luas program ini. Tujuan utamanya adalah menciptakan potensi SAR yang siap bertindak sebagai garda terdepan saat terjadi situasi darurat.

Kepala Sekretaris Utama Basarnas, Abdul Haris, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI di Jakarta, menegaskan pentingnya program ini. Beliau menyatakan tidak semua lokasi dapat dijangkau Basarnas dengan cepat, sehingga keberadaan komunitas terlatih sangat vital. Hal ini memastikan respons awal yang efektif dalam penanganan bencana.

Membangun Potensi SAR Komunitas sebagai Garda Terdepan

Pelatihan SAR yang masif ini dirancang untuk memberdayakan masyarakat agar memiliki keterampilan dasar dalam penanganan darurat. Keterlibatan lebih dari 5.000 peserta menunjukkan komitmen Basarnas dalam memperluas jaringan kesiapsiagaan. Mereka diharapkan mampu memberikan pertolongan pertama sebelum tim Basarnas tiba di lokasi kejadian.

Abdul Haris menekankan bahwa potensi SAR dari masyarakat sangat krusial. Dalam banyak kasus bencana, kecepatan respons awal dapat menjadi penentu utama dalam menyelamatkan nyawa. Oleh karena itu, komunitas yang terlatih berfungsi sebagai mata dan tangan pertama di lapangan, terutama di daerah-daerah terpencil atau sulit diakses.

Program ini tidak hanya berfokus pada pelatihan teknis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya mitigasi dan respons bencana. Dengan adanya komunitas yang siap, beban kerja Basarnas dapat terbantu secara signifikan. Ini juga mempercepat proses evakuasi dan pertolongan bagi korban bencana.

Edukasi Dini dan Peningkatan Kapasitas Internal Basarnas

Selain melibatkan masyarakat umum, Basarnas juga mengimplementasikan program "SAR Goes to School". Program ini menjangkau 26 sekolah dan melibatkan 4.594 siswa. Tujuannya adalah menanamkan kesadaran dan kesiapsiagaan bencana sejak usia dini, membentuk generasi yang lebih tanggap terhadap potensi bahaya.

Pengembangan sumber daya manusia (SDM) internal Basarnas juga menjadi prioritas. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kompetensi personel. Ini termasuk uji kompetensi jabatan fungsional, pelatihan daring dan luring, serta penyusunan pedoman teknis pengembangan kompetensi rescuer.

Pada semester pertama tahun 2025, sebanyak 764 orang telah mengikuti diseminasi jabatan fungsional pencarian dan pertolongan, termasuk uji kompetensi SAR. Abdul Haris menegaskan bahwa SDM adalah ujung tombak keberhasilan operasi SAR. Tanpa rescuer terlatih dan komunitas tangguh, standar kecepatan, akurasi, dan keselamatan sulit tercapai.

Basarnas berkomitmen penuh untuk memperkuat kapasitas SDM, baik secara internal maupun eksternal. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko kehilangan nyawa selama bencana. Peningkatan kualitas personel dan pemberdayaan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan respons bencana yang efektif dan efisien di Indonesia.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi