Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) meminta semua elemen masyarakat apapun latar belakangnya tidak melibatkan anak-anak dalam demonstrasi menolak Undang-Undang Cipta Kerja. Sepanjang demo tersebut, banyak ditemukan anak-anak tidak memiliki kepentingan atau tahu substansi UU Cipta Kerja tetapi ikut demo.
"Yang memprihatinkan anak-anak berstatus pelajar tersebut disinyalir didatangkan dari berbagai daerah untuk saling lempar dengan aparat keamanan dalam aksi demonstrasi untuk menciptakan situasi memanas dan gaduh," ujar Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dalam keterangannya, Rabu (14/10).
Arist menjelaskan banyak anak-anak yang diamankan aparat kepolisian sebelum sampai di lokasi domonstrasi. Mereka mengaku dikerahkan melalui pesan berantai di media sosial. Padahal, mereka juga tidak tahu apa yang diperjuangkan.
"Kami hanya diperintakan berkumpul di satu tempat lalu disediakan kendaraan dan ada juga yang harus berjuang menumpang truk secara berantai," kata Arist mengutip pengakuan seorang anak yang diamankan di Polda Metro Jaya.
Dia menyebut dari temuan tersebut sangat jelas bahwa anak secara sistemik sengaja diorganisir secara terukur dilibatkan secara politik untuk kepentingan dan tujuan kelompok tertentu.
"Sudah tidak terbantahkan lagi bahwa anak-anak sengaja dihadirkan dalam aksi demonstrasi untuk menolak UU Cipta Kerja untuk tujuan dan kepentingan kelompok tertentu," tegas dia.
Arist meminta semua pihak tidak melibatkan anak dalam kegiatan-kegiatan politik, demonstrasi untuk kepentingan kelompok tertentu.
"Janganlah kita memanfaatkan anak untuk kepentingan politik," ungkapnya.
Advertisement
KPAI Cek ke Lokasi Demo
Senada dengan Komnas PA, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga turun langsung menyaksikan anak-anak dilibatkan dalam demo UU Cipta Kerja pada Selasa (13/10). Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra mengaku menemukan ada anak-anak yang dibayar sejumlah uang agar ikut demo.
"Jadi saya melakukan pengawasan kan bertanya pada anak-anak, saya enggak ikut demonya. Kebetulan ada anak memegang duit lima ribuan bersih, baru. Saya candain 'wah duitnya bagus banget ini,' dia lagi beli es. Dia spontan bilang, 'iya ini abis diberi abang-abang lima ribuan'," jelas Jasra Putra.
"Saya enggak mendalami abang-abang yang mana. Setelah mereka pesan es teh lalu mereka menjauh dari saya," katanya.
Jasra tak tahu pasti apakah anak-anak tersebut datang karena dimobilisasi oleh pihak tertentu atau hanya inisiatif pribadi lantaran ingin bermain-main. Namun menurut keterangan anak-anak lain di lokasi demo, di antara mereka ada datang atas kehendak sendiri dan ada juga yang memfasilitasi.
"Di anak yang lain itu kan bervariasi jawabannya, ada yang datang karena sendiri, tapi ada enggak yang memfasilitasi? Katanya ada yang mengoordinir, saya enggak dalami siapa yang mengoordinir karena kan antara mereka saling menutupi," papar dia.
Advertisement
806 Pelajar Ditangkap
Sebanyak 806 orang telah diamankan oleh pihaknya saat aksi unjuk rasa pada Selasa (13/10) kemarin. Mereka yang diamankan itu hampir kebanyakan berstatus sebagai pelajar. Beberapa di antara mereka masih pelajar SD.
"Pelajar yang diamankan ada 806 orang," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Raden Prabowo Argo Yuwono.
Selanjutnya, untuk mereka yang ditangkap dari kalangan massa bukan dari unsur pelajar, mahasiswa atau buruh sebanyak 156 orang. Kemudian, untuk buruh yang diamankan sebanyak 112 orang.
Kemudian, untuk mereka yang berstatus sebagai mahasiswa yang diamankan oleh pihaknya yakni sebanyak 29 orang.
"Mereka yang berstatus pengangguran ada 66 orang," ujarnya.
Sumber: Liputan6.com