Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang meminta fasilitas hiburan karaoke masih bisa beroperasi di lokalisasi Sunan Kuning apabila pengusaha karaoke mengurus izin. Selain itu dengan syarat tidak membuka praktik prostitusi terselubung.
"Intinya kami beri waktu 12 bulan untuk 177 pengusaha mengurus perizinan karaoke. Jika proses berjalan tempat karaoke ditemukan transaksi prostitusi akan ditutup langsung, tidak ada peringatan," kata Kepala Satpol PP Kota Semarang, Fajar Purwoto di lokasi, Jumat (18/10).
Dia menyebut terdapat 448 pekerja seks komersial di Sunan Kuning mendapat uang bantuan sosial dari Pemkot Semarang. Sempat ada kekhawatiran di kalangan Pemerintah Kota bahwa penutupan Sunan Kuning hari ini akan mendapat perlawanan. Apalagi, hari penutupan Sunan Kuning mendekati hari pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin.
"Karena dua hari lagi kita ada pelantikan Presiden, itu risiko tinggi. Tetapi, saya yakinkan ke Pak Wali bahwa mereka sudah siap pulang," tegasnya.
Penutupan lokalisasi Sunan Kuning terbesar di Jawa Tengah tersebut bagian dari program Pemerintah Kota Semarang untuk mensterilkan bisnis prostitusi. Terkait untuk mengantisipasi kembalinya PSK ke Sunan Kuning, petugas juga sedang mendirikan beberapa posko untuk memantau.
"Kita tempatkan beberapa petugas di posko Sunan Kuning. Di sana tugasnya mengawasi mengantisipasi kembalinya PSK untuk jalani prostitusi lagi," jelasnya.
Seorang muncikari di Sunan Kuning, Ayu, mengaku belum tahu akan bekerja apa setelah tak lagi di lokalisasi Sunan Kuning. Selama delapan tahun menetap di Semarang, Ayu mengaku hanya bisa mencari uang lewat bisnis lendir.
"Pernah kerja proyek, ikut gambar bikin kamar, kelola air bersih. Tetapi gaji minim. Akhirnya masuk lagi. Dari pada dikejar-kejar utang bank, debt kolektor. Di sini kebetulan bisa bayar utang bayar ini, bayar itu," terang Ayu.