Rumah Sakit Awal Bros membantah dugaan malapraktik dalam penanganan seorang pasien, Falya Raffani Blegur (14 bulan). Mereka menyangkal Falya meninggal akibat pemberian obat antibiotik."Dari hasil audit komite medik, ditemukan bahwa penyebab perburukan tersebut bukan dikarenakan reaksi alergi (anafilaktik) dari obat antibiotik yang diberikan," kata juru bicara RS Awal Bros, Kuncoro Wibowo, dalam jumpa pers kepada wartawan di Hotel Horison, Jumat (4/12).Menurut Kuncoro, hal itu diperkuat karena tak ditemukan gejala-gejala klinis yang mendukung terjadinya syok anafilaktif. Pemberian antibiotik itu, kata Kuncoro, sudah sesuai indikasi berdasarkan pengamatan dokter.Dikatakan Kuncoro, antibiotik diberikan berdasarkan pengamatan dokter terhadap pasien yang cenderung memburuk, dan disertai hasil laboratorium yang menunjukkan adanya infeksi."Tata laksana yang diberikan oleh dokter dan tim medis juga sesuai standar pelayanan medis, dan standar profesi medis yang berlaku," ucap Kuncoro.Kuncoro menambahkan, saat masuk rumah sakit, kondisi pasien didiagnosa mengidap gizi kurang, diare akut, dehidrasi ringan sedang, dan intake sulit. Dia beralasan, RS Awal Bros telah melakukan pengobatan dan perawatan, hingga perawatan inap dan ICU untuk mengupayakan kesembuhan pasien.Selama dirawat, dehidrasi pasien sudah mulai teratasi, tetapi mengalami perburukan dikarenakan adanya proses infeksi yang masih berjalan. Hal itu menyebabkan pasien mengalami syok septik, encefalopati metabolik, pneumonia, dan berakhir dengan multiorgane failure (gagal organ jamak).Falya meninggal pada 1 November lalu. Keluarga melapor ke Polda Metro Jaya pada pertengahan bulan lalu, karena pihak rumah sakit tidak mempunyai itikad baik meskipun disomasi, supaya memberikan klarifikasi terkait kematiannya. Keluarga menduga, Falya meninggal setelah diberi antibiotik.
RS Awal Bros sangkal Falya meninggal karena antibiotik
Menurut pihak rumah sakit, Falya wafat akibat infeksi.
Rekomendasi