Pulau Batam yang merupakan zona perdagangan bebas bak primadona bagi pengusaha yang ingin meraup pundi-pundi rupiah. Faktor keamanan menjadi prioritas yang harus diperhitungkan demi kelancaran usaha yang digelutinya.Penelusuran merdeka.com, hampir semua tempat hiburan malam memajang tenaga keamanan yang berasal dari aparat TNI. Mereka berbadan tegap, berambut cepak dan mengenakan pakaian safari."Lihat saja. Kelihatan bedanya kalau yang TNI dengan yang satpam biasa," kata seorang pekerja dunia malam.Di tempat hiburan elit seperti PH dan PP yang beroperasi 24 jam, mampu mengerahkan puluhan tenaga keamanan. Sedangkan untuk tempat hiburan medium seperti SP yang buka di malam hari hanya empat orang tenaga keamanan.Aparat TNI ini akan bertambah jumlahnya ketika terjadi kericuhan dalam kelab malam. Mereka akan turun langsung guna mengamankan wilayah kekuasaannya tersebut. Hal ini pun dibenarkan oleh ketua DPRD Batam Nuryanto. Dia menduga para pengusaha sengaja memasang aparat untuk menjaga keamanan dengan sejumlah imbalan agar para tamu yang berkunjung nyaman serta tak diganggu oleh pesaingnya."Bukan tidak mungkin alat (aparat) ini dipergunakan. Bukan untuk kepentingan negara tapi oleh oknum pengusaha nakal," kata Nuryanto saat berbincang dengan merdeka.com di Batam, Sabtu (22/11). Usaha sampingan aparat TNI di Batam pun sudah berlangsung sejak lama. Berdalih kesejahteraan yang kurang, mereka terus mencari tambahan penghasilan dari usaha ilegal tersebut. "Gara gara mencari kesejahteraan, mencari sampingan itu tidak klop dan mencari pembenaran," ujar dia.Usulan peningkatan kesejahteraan prajurit TNI pun tak dapat serta merta menjadi solusi dari sekian permasalahan yang terjadi. Tak ada jaminan jika terpenuhi semua kebutuhan, mereka akan meninggalkan usaha haram tersebut."Apa ada jaminan jika ditambah (kesejahteraan) tidak akan melakukan di luar tugas dan fungsi mereka. Siapa yang jamin ketika mereka dipenuhi tidak melakukan yang saya sampaikan (beking keamanan)," ujar dia.Berbeda lagi dengan usaha perbekingan keamanan untuk jasa perhotelan di Batam. Para pemilik hotel melindungi bisnis penginapannya dengan cara mencatut nama institusi aparat.Nama institusi aparat itu disematkan di kartu nama hotel. Logo institusi militer pun dibubuhkan guna menunjukkan sosok pelindungnya."Hotel B ini memang bukan milik Primkopal TNI AL walaupun dituliskan di kartu nama. Ini milik orang China tapi pelindungnya TNI AL," bisik seorang pekerja saat berbincang dengan merdeka.com.Selain memberikan kompensasi setoran kepada institusi militer yang melindunginya. Hotel pun memberikan pelayanan khusus sebagai imbalan keamanan."Kalau TNI AL yang menginap dapat diskon 50 persen. Itu sudah peraturan dari pemilik hotelnya," pungkas dia.
TNI jadi beking tempat hiburan malam & hotel di Batam
"Bukan tidak mungkin aparat dipergunakan untuk kepentingan pengusaha nakal," kata Ketua DPRD Batam Nuryanto.
Advertisement
Rekomendasi