Supersemar dan upaya gagal mengorek Soeharto

Pada 2000 ANRI sempat mengajukan permintaan agar DPR memanggil Soeharto dan Jenderal (Purn) M Jusuf.

Laurencius Simanjuntak
Oleh Laurencius Simanjuntak - Reporter
Supersemar dan upaya gagal mengorek Soeharto
Soekarno dan Soeharto. Foto: Public Domain

Sebagai penerima Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), Soeharto diyakini mengetahui tentang surat sakti tersebut. Namun, hingga akhir hayatnya, Soeharto tidak pernah mengungkapkan di mana naskah asli surat yang akhirnya mengantarkannya ke kursi kepresidenan.Berdasarkan dokumen Upaya Pelacakan dan Penelusuran Arsip Supersemar oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), disebutkan kepala lembaga itu pada tahun 2000 sempat mengajukan permintaan agar DPR memanggil Soeharto dan Jenderal (Purn) M Jusuf untuk memberi penjelasan mengenai keberadaan naskah asli Supersemar.Namun permintaan itu tidak bisa dikabulkan DPR. Pada 25 September 2001 dijelaskan DPR bahwa belum bisa menghubungi atau menghadirkan Soeharto dan M Jusuf. "Dengan alasan kesehatan," demikian tulis dokumen tersebut.Gagal mendatangkan Soeharto, upaya ANRI mencari naskah asli Supersemar terus berlanjut dengan menggali informasi ke beberapa orang dekat Soeharto. Mantan Mesesneg, Soedharmono, saat diwawancarai pernah mengakui bahwa naskah Supersemar ada. "Namun sewaktu Moerdiono menjabat sebagai Mensesneg, pertanyaan itu dikemukakan lagi dan jawaban beliau Arsip Supersemar itu tidak ada dan hilang," demikian dokumen.Berdasarkan wawancara ANRI dengan Moerdiono pada 2008, disebutkan Supersemar setelah difotokopi dibawa kembali oleh ajudan Soeharto. Fotokopi itulah yang dipakai Soeharto sebagai dasar perintah untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI)."Selanjutnya beliau (Moerdiono-red) tidak menyimpan Arsip Supersemar yang difotokopi tersebut," demikian dokumen ANRI.Sejarawan Anhar Gonggong meyakini Soeharto mengetahui naskah asli Supersemar. Dia tidak percaya kalau penguasa Orde Baru itu tidak mengetahui perihal keberadaan surat yang memberi kewenangan besar kepadanya itu. Namun dengan meninggalnya Soeharto pada 27 Januari 2008, Supersemar tetap menjadi misteri. M Jusuf juga gagal diwawancarai sampai akhirnya meninggal dunia pada 8 September 2004. M Jusuf adalah pembawa naskah Supersemar dari Soekarno kepada Soeharto.Ke depan, langkah ANRI mencari naskah asli Supersemar tidak surut. Kepala ANRI, M Asichin, mengatakan pihaknya pada tahun ini akan mengupayakan mewawancarai Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) dan Megawati Soekarnoputri. "Karena beliau-beliau adalah keluarga si pemberi dan dan penerima Supersemar," ujar Asichin di Jakarta, Sabtu lalu.

Rekomendasi