Proyek Trem Belum Jalan, Pemkot Integrasikan Bus Suroboyo dengan Angkot
Merdeka.com - Usai gagalnya Wali Kota Tri Rismaharini merealisasikan proyek moda transportasi massal cepat alias trem di Kota Pahlawan, Pemkot Surabaya mulai melirik moda transportasi Bus Suroboyo. Jumat (4/1) sore hari ini, mereka meluncurkan 10 unit bus tambahan.
"Pemkot (Surabaya), saat ini tengah menyeriusi dan mematangkan konsep pengembangan operasional Bus Suroboyo yang akan dipadukan dengan angkutan kota," kata Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana.
Bus Suroboyo ini tidak hanya menghubungkan wilayah selatan dengan utara, tapi juga untuk rute di sisi timur dan barat.
"Karena apa? Membangun track monorail (di atas jalan) juga butuh waktu serta anggaran yang tidak sedikit," sambung polikus PDI Perjuangan ini.
Sementara keberadaan angkutan kota seperti bemo atau lyn, difungsikan sebagai feeder atau angkutan pengumpang, yang beroperasi dalam perkampungan. "Sehingga warga yang hendak berpergian dengan kendaraan umum, tidak harus menunggu lama."
Angkutan kota ini akan membawa penumpangnya dari kampung menuju jalan protokol yang dilalui Bus Suroboyo, sebagai transportasi lanjutan. "Sekarang ini ada 80 rute atau trayek lyn, cuma belum semuanya efektif," katanya.
Pemkot Surabaya sudah berkomunikasi dengan Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Surabaya sebagai gabungan organisasi pengusaha angkutan darat berikut paguyuban bemo atau lyn.
"Sesuai koordinasi, rencananya 80 rute dalam kota ini akan dipadatkan menjadi 40 saja. Setelah itu, peremajaan armada angkutan kota bisa dilakukan," sambungnya.
Peremajaan angkuta kota menjadi keharusan. Ini dimaksudkan agar pengguna jasa transportasi bisa nyaman. "Pastinya lengkap dengan penyejuk udara."
Kredit Ringan dari Bank Jatim
Terkait pendanaan masalah pengadaan unit baru, Whisnu menandaskan, bahwa para pengusaha atau pemilik armada angkutan kota yang ada sekarang, tidak perlu khawatir. Sebab, dunia perbankan akan menawarkan pendanaannya (kredit). "Yang sudah memastikan kesanggupan adalah Bank Jatim," ucapnya pasti.
Angsuran ke bank, kata Whisnu, bisa menggunakan hasil pengoperasian armada baru, dan Pemkot Surabaya menjamin, pengusaha akan bisa cepat mendapatkan modalnya kembali serta keuntungan (margin).
"Pemilik armada tak perlu mengkhawatirkan kesulitan membayar cicilan (angsuran). Sebab, sistem pengoperasian armada untuk masuk dan keluar kampung akan ditentukan," lanjutnya.
Ada syarat yang dibebankan agar bisa mendapat kredit bank "Harus berbadan hukum, tidak harus PT Pemilik armada bisa membentuk koperasi, yang akan memberikan jaminan ke pihak bank," paparnya.
Selain itu, koperasi juga menyediakan suku cadang atau bengkel yang pembayarannya juga bisa dilakukan dengan mengansur. "Misalkan tiap satu rute ada dua bengkel khusus, ini kan sudah membuka peluang kerja. Ada tenaga mekanik, bisa dari lulusan SMK jurusan mesin yang terserap," jelasnya.
Tak Perlu Ribut dengan Ojol
Whisnu yang juga ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya ini juga memastikan, jika awak tiap unit angkutan kota, akan mendapatkan subsidi bahan bakar dan pendapatan pengemudi.
"Prinsipnya, armada harus tetap beroperasi masuk dan keluar kampung. Dengan seperti ini, warga yang akan berpergian tidak menunggu lama, dan tidak perlu lagi gegeran (ribut) dengan ojek online (Ojol)."
Bahkan, Whisnu membayangkan jika pemilik angkutan kota akan berkreasi menciptakan kenyamanan dengan mendesain interior mobil dengan pernak-perniknya. Bahkan musik yang mampu menguatkan kesan nyaman. "Jadi warga di kampung bisa memilih sendiri moda transportasi yang dikehendaki," tandasnya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya