Presiden ACT Blak-Blakan soal Gaji Rp250 Juta Tiap Bulan

Senin, 4 Juli 2022 20:08 Reporter : Bachtiarudin Alam
Presiden ACT Blak-Blakan soal Gaji Rp250 Juta Tiap Bulan Jumpa pers ACT soal isu Kudeta Ahyudin. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Aksi Cepat Tanggap (ACT) menjawab kabar gaji fantastis hingga ratusan juta yang diterima para pejabatnya. Hingga memunculkan tagar 'aksi cepat tilep' hingga 'jangan percaya ACT' di media sosial.

Presiden ACT Ibnu Khajar mengakui kabar pendapatan Presiden ACT sebelumnya sebesar Rp250 juta. Namun nominal tersebut hanya berjalan saat Januari 2021, dan tidak berlaku secara konstan atau tetap.

"Jadi kalau pertanyaannya apa sempat diberlakukan, kami sempat memberlakukan di Januari 2021. Tapi tidak berlaku permanen," ujar Ibnu saat jumpa pers di kantornya di kawasan Jakarta Selatan, Senin (4/7).

Meski tidak berlaku secara permanen, soal pemberian gaji sebesar Rp250 juta untuk posisi presiden. Pada saat kisaran medio Desember 2021, ACT pun memutuskan mengurangi gaji akibat kondisi keuangan yang tidak stabil.

"Sampai teman-teman mendengar di bulan Desember 2021, sempat ada kondisi filantropi menurun signifikan. Sehingga kami meminta kepada karyawan mengurangi gaji mereka," katanya.

Alhasil karena posisi yang tidak stabil itulah, lanjut Ibnu, para pengambil kebijakan di ACT sepakat untuk memotong besaran gaji dari setiap karyawan guna mengurangi biaya operasional.

"Kami memilih dua hal apakah kami mengurangi karyawan waktu itu atau apakah kami mengurangi beberapa alokasi karyawan. Beberapa karyawan memilih kami sharing saja supaya, kami mengurangi menanggung sehingga beberapa dikurangi (gaji) secara kolektif," ujarnya.

2 dari 3 halaman

Gaji Petinggi ACT Tak Lebih Rp100 Juta

Ibnu menambahkan, pendapatan yang kini dia terima kini tidak lebih dari Rp100 juta. "Di pimpinan presidium, yang diterima tidak lebih dari Rp100 juta," ucapnya.

Angka tersebut, kata Ibnu, menjadi hal yang wajar untuk seorang presiden yang mengelola ribuan karyawan. Sedangkan untuk data terkait Rp250 juta dia tak memberikan penjelasan lebih lanjut.

"Untuk Presiden yang mengelola 1.200 karyawan. Rp250 juta tidak tahu dananya dari mana," tuturnya.

Organisasi filantropi Aksi Cepat Tanggap (ACT) dikabarkan terlibat dalam dugaan penyelewengan dana donasi yang melibat sejumlah petinggi. Dimana uang tersebut disalurkan, dengan nominal yang
tidak sesuai dengan jumlah.

Dalam laporan investigasi Tempo, dikabarkan jika dugaan penyelewengan itu terjadi di beberapa kegiatan. Seperti di Kabupaten Gunung Kidul misalnya, ACT menyodorkan berkas penggalangan donasi untuk Saharno.

3 dari 3 halaman

Dana tersebut seharusnya dipakai untuk mengobati Kaki Suharno dan anaknya, Rizal, 5 tahun, akibat patah setelah truk yang tak kuat menanjak di Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, mundur dan melindas sepeda motornya pada 25 Oktober 2021.

Adapun donasi yang terkumpul diduga mencapai Rp412,207 juta dari target Rp500juta. Namun, ACT hanya menyalurkan Rp3 juta, bahan kebutuhan pokok, satu kruk kaki, dan kasur senilai sekitar Rp3 juta.

Donasi itu diduga mengalir pada sejumlah petinggi ACT. Hal itu terlihat dari gaji bulanan mantan pimpinan ACT yang mencapai Rp250 juta. Belum lagi, berbagai aset yang dibeli menggunakan uang ACT seperti mobil, rumah sampai lampu gantung.

Sedangkan pejabat di bawahnya, seperti senior vice president, beroleh upah sekitar Rp150 juta. Adapun vice president mendapat Rp80 juta per bulan. Di bawahnya, level direktur digaji sekitar Rp50 juta dan direktur mendapat Rp30 juta.

Baca juga:
Penjelasan ACT soal Isu Kudeta Ahyudin: Gaya Kepemimpinannya One Man Show
ACT Akui Pakai 13,7% dari Dana Sumbangan untuk Operasional, Berikut Rinciannya
Modus Berpura-pura Jadi Aparat, Residivis di Palembang Tipu Belasan Warga
Dua Anak di Makassar Diculik, Dijadikan Jaminan untuk Penipuan Transfer Uang
Total Aset Mewah Doni Salmanan Disita Bareskrim Rp64 Miliar
Besok, Bareskrim Serahkan Doni Salmanan dan 114 Barang Mewah ke Kejari Bandung

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini