Prajurit TNI Penakluk Api

Senin, 30 September 2019 11:28 Reporter : Abdullah Sani
Prajurit TNI Penakluk Api Prajurit TNI berjibaku padamkan kebakaran hutan di Riau. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Kapten Yuhardi langsung tancap gas dengan sepeda motornya menuju rumah Sri Ru'ayati (49) di pinggir Jalan Rimbo Panjang, Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (17/9) sekitar ‎pukul 13.00 WIB.

Sesekali Yuhardi memegang perutnya yang belum diisi makanan sambil memperlaju kendaraan sepeda motornya dari arah Bangkinang menempuh jarak sekitar 4 kilometer. Terik matahari tidak dihiraukan. Rencana untuk pergi ke warung nasi dibatalkan.

Ada laporan masuk ke perwira Angkatan Darat itu, lahan semak belukar terbakar di belakang rumah warga, asap juga sudah mengepul. Terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Tiba di lokasi, dia menenangkan hati dan pikiran Sri. Sejurus kemudian, Yuhardi menuju belakang rumah. Setelah mengecek lahan yang terbakar, dia segera menarik selang.

Rumah itu di sebuah gang, berjarak 30 meter dari pinggir Jalan lintas Rimbo Panjang, posisinya sebelah kiri dari arah Pekanbaru menuju Bangkinang. Rumah Sri tepat berada di ujung jalan.

Rasa cemas di wajah Sri dan anaknya tidak bisa disembunyikan, mereka mengeluarkan barang-barang dari dalam rumah. Suaminya Edy Mulyono (60) yang sedang terserang stroke sudah diungsikan ke rumah saudara. Anak mereka, Ani (28) dan tiga saudaranya membantu sang ibu mengangkat perabotan.

Urat dan otot tangan Yuhardi yang kekar terlihat. Dia menggenggam selang air dan menariknya ke dalam semak belukar dan pohon-pohon liar setinggi 3 hingga 4 meter.

"Tarik selang, tarik cepat. Kita harus lebih cepat, ini sudah dekat rumah warga," ujar Yuhardi, yang menjabat sebagai Pasi Ops Kodim 0313 Kampar.

Bersama tim Manggala Agni, Yuhardi dan seorang anggotanya bahu membahu memadamkan api. Mereka sempat terkepung asap, hingga menyemprotkan air dari selang ke api yang nyaris mendekati rumah.

Terkadang mereka terjatuh karena tersandung batang kayu. Kaki mereka juga terkadang terjerembab di tanah gambut. Air disemprot ke titik api yang mulai menjalar. Sebagian personel lainnya mengawasi rumah itu untuk berjaga-jaga dari serangan api.

Tiba-tiba, Yuhardi membalikkan badan sambil pegang selang saat asap menyerang wajahnya. Dengan raut wajah lelah, dia menyemprotkan air ke udara agar mendapatkan oksigen.

Yuhardi terus menerobos belukar untuk menemukan api di dalam. Setelah berhasil masuk, dia tercengang begitu melihat api yang membara di balik belukar. Tidak ada lagi tumbuhan hijau, semua hangus.

Jaraknya sekitar 50 meter dari belakang rumah itu. Tidak ingin membuang waktu, tim semakin semangat menaklukkan si jago merah yang datang menyerang.

"Gantian pak, asapnya mengarah ke kita. Minum dulu pak," kata seorang pria berseragam merah dari Manggala Agni. Yuhardi pun memberikan ujung selang itu kepadanya setelah 15 menit dia menyemprot.

Bukannya istirahat, setelah minum air putih, Yuhardi mencari ranting kayu besar dan berdaun untuk memukuli api yang terus menjalar. Sekuat tenaga, kayu ranting itu dipukulkan ke api.

Sepatu dinasnya juga diinjak-injakkan agar api padam. Dia berteriak ke pemegang selang agar menyemprotkan air ke titik yang diinjaknya karena berbatasan dengan lahan kering.

Beberapa menit kemudian, Yuhardi kembali mengambil alih selang. Taktik dan strategi tempur digunakannya untuk mengalahkan api. Satu jam kemudian, api padam. Yang tersisa kepulan asap dan bara di antara puing arang.

"”Daerah sini kemarin memang terjadi kebakaran lahan, tapi jauh di sana, dan sudah kita padamkan. Tiba-tiba hidup lagi," kata Yuhardi sambil meneguk air botol mineral lalu membuka nasi bungkus.

Lokasi yang terbakar bagian dari api yang sebelumnya terbakar. Setelah memastikan rumah Sri aman, tim bisa sedikit bersantai sambil menikmati makan siang sekitar pukul 14.15 WIB.

Sri pun mulai melirik-lirik lahan yang terbakar di belakang rumahnya. Rumahnya selamat dari ancaman api berkat kerja keras TNI dan Manggala Agni.

‎Tetesan air mata Sri tampak membasahi pipinya. Ucapan syukur dan terima kasih diutarakannya kepada prajurit. Kalau tidak ada TNI, entah apa yang terjadi pada rumah itu.

Sri mengakui, malam sebelumnya memang ada lahan semak yang terbakar, tapi masih jauh dari rumahnya. Sri langsung melapor ke TNI. "Alhamdulilah sudah padam," kata Sri sambil menghapus air matanya.

Hari itu, berdasarkan Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, satelit Terra Aqua pada pukul 16.00 WIB mendeteksi ada 74 titik panas indikasi karhutla di Riau.

1 dari 4 halaman

Karhutla di Musim Kemarau

Kebakaran lahan tidak hanya terjadi di belakang rumah Sri, tapi juga di lokasi lain. Sejak Juli 2019, kemarau sudah dimulai kebakaran lahan terjadi di mana-mana. Banyak masyarakat yang ditangkap tim Satgas Darat dan Gakkum.

Beberapa kali prajurit TNI menangkap pelaku pembakaran lahan. Pelaku sengaja membakar agar lahannya bersih dan subur. Mereka juga mengaku sengaja membuka lahan di musim kemarau.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat dari satelit, ada 49.000 lahan yang terbakar sejak awal Januari hingga September 2019.

Sementara dari lokasi, luasan terbakar dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Riau terdapat sekitar 8.100 hektare. Warga pun membatasi aktivitas di luar ruangan, lantaran udara yang tidak sehat.

Titik kebakaran berasal dari lahan tak bertuan, dan juga milik petani hingga merembet ke perusahaan. Niat petani membuka lahan satu hektare bisa menjalar hingga ratusan hektare.

Kondisi tersebut membuat satgas karhutla bekerja keras melakukan pemadaman. Musim kemarau dan sulitnya lokasi untuk dijangkau membuat prajurit kesulitan air, sehingga kadang mereka hanya pasrah setelah berusaha keras.

Karena jika lahan gambut terbakar, akan sulit dipadamkan. Gambut Riau umumnya kedalaman minimal 2 meter. Dari permukaan, api sepertinya tak tampak, tapi asap ngepul dari perut bumi.

Lantas apa yang terjadi akibat Karhutla itu? Langit Riau dikepung asap, jarak pandang terbatas dirasakan lebih dari 20 hari. indeks standar pencemaran udara (ISPU) berada di level tidak sehat hingga berbahaya.

2 dari 4 halaman

Panglima TNI Datang ke Riau

Pemerintah pusat turun tangan. Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto langsung datang ke Riau dan memimpin rapat di Balai Serindit, Gedung Daerah Pekanbaru.

Rapat itu bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo, Sabtu (14/9), guna menindaklanjuti instruksi Presiden Joko Widodo.

Turut hadir Gubernur Riau H Syamsuar, Kapolda Riau Irjen Widodo Eko Prihastopo, Danrem 031/WB Brigjen TNI Muhammad Fadjar, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau Edwar Sanger dan pejabat lainnya.

Dalam rapat itu, Hadi memaparkan strategi dan upaya pemadaman. Dia menjelaskan pasukan TNI telah menyiram 112 juta liter air di titik api. Bom air itu menggunakan helikopter. Selain itu, TNI AU juga telah melakukan upaya hujan buatan.

3 dari 4 halaman

Gubernur Riau Terbantu dengan Peran TNI

Untuk menanggulangi kabut asap, Gubernur Riau Syamsuar menetapkan status darurat pencemaran udara dari tanggal 23 hingga 30 September 2019. Pemerintah juga meliburkan anak sekolah dan mahasiswa di wilayah yang terkepung asap.

Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru mulai 'pincang' karena jadwal penerbangan pesawat semerawut gara-gara asap. Rakyat juga menderita terpapar asap. Sebanyak 39.277 warga di Provinsi Riau terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) akibat asap sejak Agustus hingga awal September 2019.

Syamsuar merasa terbantu dengan kerja keras TNI AU dan AD dalam penanggulangan kebakaran lahan. Sebagai Komandan Satgas Karhutla, Syamsuar mempercayakan pemadaman di lapangan kepada masing-masing Wadan Satgas baik darat maupun udara.

Setiap hari helikopter TNI melakukan patroli di lokasi kebakaran. Jika menemukan titik api, langsung diinformasikan ke Satgas Darat.

"Kalau tidak mungkin dijangkau, maka digunakan water bombing dengan helikopter dibantu TNI," ujar Syamsuar kepada merdeka.com Selasa (24/9) lalu.

4 dari 4 halaman

Sukses Bikin Hujan Buatan

Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT dan Satgas Udara dari TNI AU berhasil menurunkan hujan buatan di dua lokasi di Provinsi Riau, Kamis (19/9). Tim BBTMC-BPPT bersama TNI AU bekerja maksimal dengan mengerahkan dua armada pesawat di Riau.

"Hujan intensitas deras terjadi pada sore hari sekitar pukul 16.31 WIB. Kami mencatat pagi ini volume air hujan capai 1,7 juta m3," ujar Kepala BBTMC-BPPT Tri Handoko Seto di Pekanbaru, Jumat (20/9).

Bahkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Pekanbaru, wilayah Provinsi Riau kembali diguyur hujan disertai angin kencang pada Senin (23/9) sore sekitar pukul 15.50 WIB. Riau yang sebelumnya diselimuti kabut asap pekat langsung terang benderang.

Saat ini, kondisi Riau sudah normal. Kabut asap hilang disiram air hujan yang turun hampir setiap hari. Doa semua pihak dengan Salat Istisqa dikabulkan Tuhan Yang Maha Esa. Pelajar kembali menempuh pendidikan, setelah diumumkan pihak sekolah dan kampus.

Baca juga:
Baru Dilantik, Kapolda Riau Janji Tingkatkan Penanganan Karhutla
Darurat Pencemaran Udara di Riau Segera Dicabut
Hujan Turun di Wilayah Terdampak Karhutla Membuat Kualitas Udara Membaik
Wawancara Gubernur Riau: Api Sudah Padam Tapi Asap Masih Ada
Mereka yang Berjibaku Melawan Kebakaran Hutan
Menteri KLHK Klaim Kualitas Udara di Riau dan Kalimantan Tengah Membaik

[cob]
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini