Polres Muba akui ada sarang pungli, bahkan pelakunya ibu rumah tangga
Merdeka.com - Sopir truk mengadu pada Presiden Joko Widodo terkait banyaknya praktik pungutan liar di sejumlah wilayah. Polres Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, mengakui adanya sarang pungutan liar (pungli) yang dilakukan para preman terhadap sopir truk di wilayah hukumnya. Ironisnya, pemalak berasal dari kalangan ibu rumah tangga.
Kasat Reskrim Polres Muba, AKP Kiemas Muhammad Syawaluddin mengatakan, sarang pungli tersebut berada di Desa Bedeng Seng, Kecamatan Bayung Lincir. Daerah itu adalah kawasan yang dilaporkan sopir truk saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo.
"Benar, itu wilayah kami. Bedeng Seng itu nama desa, memang benar selama ini biasa ada pungli terhadap sopir truk," ungkap Kiemas saat dihubungi merdeka.com, Rabu (9/5).
Menurut dia, sasaran utama pelaku adalah truk pengangkut logistik. Besaran pungli berkisar Rp 10 ribu sampai Rp 100 ribu untuk satu mobil. Jika tidak diberikan uang yang diminta, para pelaku tak segan merusak truk dan melukai sopir.
"Biasa ada pengancaman begitu kalau tidak diberi," ujarnya.
Dikatakannya, daerah itu pernah disikat dengan menangkap tujuh pelaku pada Desember 2017 dan Januari 2018 dan sudah divonis di pengadilan. Bahkan, dua pelaku diantaranya berstatus sebagai ibu rumah tangga.
"Ya ada ibu-ibu, dua orang. Ikut malak, ikut terima duit. Untuk asal pelaku ada dari warga setempat dan pendatang, macam-macam," kata dia.
Meski sudah ada yang ditangkap, fenomena pungli preman masih menjamur di daerah itu akhir-akhir ini. Sesuai instruksi atasan, pihaknya kembali mengamankan situasi agar para pelaku tidak leluasa beraksi.
"Tadi malam sudah kita habisi pos-pos tempat preman di situ, habis semuanya. Tapi para pelaku tidak ada di tempat, kabur semuanya," ucapnya.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya