Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Perjuangan Jokowi di Natuna

Perjuangan Jokowi di Natuna Jokowi di Natuna. ©Biro Pers Setpres

Merdeka.com - Tiga tahun lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan pesan kuat soal Natuna saat kepulauan dengan penduduk 169.000 itu menjadi sorotan. Ada yang ingin merebut kekayaan Natuna. Kekayaan alamnya begitu seksi jadi rebutan. Di sana ikannya melimpah ruah. Ada juga migas.

Sebagai pulau terdepan, Presiden Jokowi ingin ada pembangunan konkret di Natuna. Seperti membangun sentra kelautan dan perikanan secara terpadu. "Sebagai pulau terdepan, Natuna harus kita bangun. Kita akan fokus pada industri perikanan dan migas," kata Jokowi pada 2016 lalu.

Di sekitar Kepulauan Natuna ada 16 blok migas. 5 Blok sudah menjalankan produksinya. Sementara 11 lainnya sedang dalam tahap eksplorasi.

Namun, di tengah rencana pembangunan di Natuna muncul beberapa gesekan dengan negara lain. China salah satunya. Posisi perairan Natuna menjadi sengketa. Banyak kasus pencurian ikan atau illegal fishing di perairan Natuna. Padahal jelas, perairan Natuna masuk wilayah teritorial Indonesia. Tapi China mengklaim.

Presiden Jokowi geram. Ia tak ingin kekayaan Indonesia dicuri nelayan negara lain. "Pengamanan wilayah perairan perbatasan tidak boleh kita lupakan. Untuk menjaganya, patroli dan penjagaan keamanan laut juga harus kita tingkatkan," kata Jokowi.

Jokowi terjun langsung ke Natuna. Ia bawa Kapal Perang Indonesia (KRI) Imam Bonjol-383 ke perairan Natuna yang diklaim oleh China. "Waktu ada klaim Pulau Natuna itu masuk Laut China Selatan, saya panas, saya bawa kapal perang ke Natuna," kata Jokowi tahun lalu.

Misi Jokowi cuma satu, ingin menunjukkan pada negara lain bahwa perairan Natuna adalah teritorial Indonesia. "Kalau mau ajak berantem, kita ramai-ramai, kalau ada yang macam-macam," kata Jokowi.

Ancaman Jokowi kala itu tak main-main. Pada 2017 lalu misalnya, TNI dari tiga angkatan melakukan latihan tempur bersama-sama secara besar-besaran di Natuna. Saat itu Presiden Jokowi menyaksikan langsung latihan para pasukan TNI.

Latihan itu bernama Latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC). Pada PPRC melibatkan 5.900 prajurit TNI AD, TNI Angkatan Laut, dan TNI AU. Latihan juga melibatkan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista). Di antaranya 15 unit Multi Kaliber Roket Astros, 6 unit Meriam 155 Cesar, 6 unit Meriam 76, 9 unit Giant Bow Arhanud, 2 unit Helikopter MI 17, 2 unit Helikopter MI 35, 10 unit Helikopter Bell 412, 18 unit MBT Leopard, 1 unit Recovery Tank, 1 unit Tank Avlb, 20 unit MI 13, 14 unit Tank Marder, 3 unit Panser Anoa Mo, 1 unit Panser Anoa Ko, 10 unit Jet Ski, 10 Unit Sea Rider, dan 2 unit kapal motor cepat.

(mdk/has)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP