Penyu bertelur di Sukomade jadi buruan kamera turis asing
Merdeka.com - Selain Kawah Ijen yang terkenal dengan blue fire-nya dan Taman Nasional (TN) Alas Purwo, potensi wisata di Banyuwangi, Jawa Timur yang sering jadi 'buruan' turis manca negara adalah Pantai Sukomade di kawasan TN Meru Betiri.
Ketiga lokasi ini disebut sebagai segitiga berlian. Pantai Sukomade, yang masih termasuk kawasan Pantai Selatan ini, menjadi tempat penangkaran pelbagai jenis penyu seperti jenis bimbing, abu-abu, hijau dan sisik.
Di musim hujan seperti sekarang , induk penyu kerap naik untuk bertelur. Kecuali di bulan Desember, hampir tak satupun penyu yang bisa dilihat. Biasanya, penyu-penyu itu naik pada malam hari.

penyu sukomade diburu turis spanyol ©2016 Merdeka.com/Moch Andriansyah
Sayangnya, medan yang ditempuh untuk memburu induk penyu bertelur ini tidaklah mudah. Untuk bisa sampai di Pantai Sukomade, harus melewati belantara TN Meru Betiri. Jalur yang dilewati biasanya melalui jalur menuju Pulau Merah atau dari Kecamatan Pesanggaran.
Sebelum melewati medan tanjakan berbatu di TN Meru Betiri, para pelancong bisa berwisata sejenak di Pantai Rajegwesi untuk sekadar istirahat. Atau kalau berminat, bisa menyeberang ke Teluk Ijo via perahu.
Dari Rajegwesi, perjalanan berlanjut menuju hutan dengan medan tanjakan yang cukup curam dan kiri-kanan jurang. Jalurnya pun hanya cukup untuk satu mobil. Selain itu, juga menyeberangi sungai berbatu.
Usai melewati jalur menggugah adrenalin ini, sampailah di Desa Sukomade, perkampungan di balik bukit TN Meru Betiri. Desa Sukomade, terkenal dengan pantainya yang indah dan memiliki ombak cukup besar. Di Pantai Sukomade inilah terdapat pelbagai macam penyu.
Meski ditempuh dengan medan sulit, banyak sekali turis manca negara ingin datang untuk sekadar menyaksikan kura-kura raksasa bertelur di malam hari. Kemudian keesokan harinya, para turis ini diajak melepas ratusan tukik (anak penyu).

turis spanyol lepas tukik ©2016 Merdeka.com/Moch Andriansyah
Beberapa waktu lalu, belasan jurnalis dari Negeri Sakura, Jepang juga datang untuk menjelajahi Pantai Sukomade. Sementara pada Rabu (13/10) lalu, belasan turis asal Spanyol datang dengan lima mobil Jeep ke Sukomade. Mereka ingin mengabadikan induk penyu yang tengah bertelur.
Salah satu turis Spanyol itu mengaku, medan yang ditempuh memang sangat sulit.
"Tapi semua terbayar lunas ketika kami bisa melihat penyu bertelur di pantai. Jalan yang kami lewati juga luar biasa. Ada sensasi tersendiri dengan medan yang saangat sulit itu," kata Esperanza, yang diterjemahkan pemandunya kepada merdeka.com, Rabu (13/10) lalu.
Karena sudah susah payah datang, para turis asal Negeri Matador ini tak ingin kecewa. Mereka rela menggelar tikar di tepi pantai pada malam hari. Dan ketika terlihat seekor penyu naik ke darat, mereka langsung memburu, mengurung gerak induk penyu serta membidikkan kameranya.
Tak jarang, mereka juga menyalakan lampu kamera ponselnya. Padahal sudah mendapat peringatan dari petugas pantai. Berkali-kali mereka menyalakan lampu blitz agar mendapat gambar sempurna di tengah gelap. "Blitz, blitz," teriak petugas mengingatkan.
Karena saking bernafsunya, para turis ini juga tak peduli posisinya berbahaya. Ketika induk kura-kura raksasa ini berlari menuju pantai, tanpa sadar para tukang potret asal Spanyo ini terus mengikuti langkah si induk penyu sambil membidikkan kamera.
"Posisi Anda berbahaya," bentak petugas.
Memang, tempat konservasi penyu di Pantai Sukomade ini sangat steril. Tak satupun orang bisa masuk, kecuali diantar petugas. Ketika penyu tengah naik, pengunjung dilarang menyalakan lampu, blitz, merokok atau sejenisnya, yang bisa mengeluarkan cahaya. Bahkan, untuk berbicara keraspun dilarang.
"Karena itu bisa mengganggu penyu yang ingin bertelur. Penyu-penyu yang sudah naik ke daratan, akan kembali ke laut sebelum menaruh telurnya," kata salah satu petugas.
Usai penyu-penyu ini bertelur, sekitar 45 hari, telur-telur penyu itu menetas. Agar telur-telur ini menetas, suhu tanah harus berada pada 29 hingga 32 derajat celsius.
"Kalau terlalu panas, gagal menetas. Makanya kalau terlalu panas kita siram dengan air, agar tanahnya kembali dingin," terang Taufik, salah satu mahasiswa perikanan yang tengah KKL di Banyuwangi.
"Meski begitu, tak semua berhasil. Ada yang 70 persen berhasil menetas, 30 persennya gagal. Ada juga 100 persen bisa menetas semua, kalau suhunya cocok," sambung mahasiswa asal Jakarta Selatan ini. (mdk/pan)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya