'Penyidik sekolah, kasus pelecehan seks di pesantren tak diusut'

Kamis, 14 November 2013 20:01 Reporter : Dharmawan Sutanto
'Penyidik sekolah, kasus pelecehan seks di pesantren tak diusut' Ilustrasi Pemerkosaan, Pencabulan dan Pelecehan Seksual. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Keluarga tidak terima atas perlakuan pelecehan seksual yang dialami kaka beradik LI (7) dan UB (6) yang terjadi di pesantren ternama di Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Pelecehan seks ini dilakukan enam orang santri senior.

Keluarga korban mendesak pihak kepolisian untuk menindaklanjuti kasus tersebut karena sudah tujuh bulan, kasus ini terkesan diacuhkan.

"Selama tujuh bulan itu tidak ada langkah apapun. Polisi baru periksa anak-anak saya setelah kami datangi Polda Metro Jaya hari ini," kata RT (30), ibu dari LI dan UB kepada merdeka.com saat ditemui di rumahnya di wilayah Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (14/11).

Keluarga pun menyesalkan alasan pihak kepolisian yang menyebutkan terkatungnya kasus ini lantaran penyidik sedang mengikuti pendidikan. Padahal, menurut RT, hasil visum di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sudah jelas menyebutkan adanya luka di bagian anus kedua anaknya.

"Memangnya penyidik di kepolisian cuma satu? Kan ada petugas lain yang bisa memeriksa kasus anak saya," ungkap RT.

RT mengatakan, desakan kepada kepolisian untuk segera mengusut kasus yang menimpa kedua anaknya agar tidak ada lagi korban. Selain itu, RT meminta pertanggungjawaban pihak pesantren yang dianggap lalai hingga kedua anaknya menjadi korban kekerasan seksual. Tak hanya itu, pihak pesantren juga dianggap mengetahui dan sengaja menutupi kasus ini.

"Saya minta kasus ini dibuka supaya menjadi pembelajaran bagi pesantren dan sekolah lain agar tidak ada lagi korban-korban lainnya," tegasnya.

RT menuturkan, meski peristiwa yang menimpa kedua anaknya sudah berlalu hampir satu tahun, akibat dari peristiwa itu masih terasa. Selain selalu kesakitan saat buang air besar, kedua anaknya mengalami gangguan psikologis.

"Keduanya sekarang suka marah-marah, tertutup, dan kalaupun berkata marah-marah, tertutup, dan kalaupun bercanda di luar batas kewajaran anak-anak seusia mereka," jelasnya.

Kasus ini bermula dari kunjungan RT ke pesantren tempat anaknya menimba ilmu pada April lalu. Ketika itu, istri seorang pengajar memberitahukan adanya seorang anak kelas VI berinisial MA yang memegang kemaluan LI dan UB yang masih duduk di bangku kelas I dan II.

"Katanya ibu tidak usah khawatir. Persoalan sudah diatasi karena yang bersangkutan sudah dikeluarkan dari sekolah, tapi menunggu ujian selesai. " tuturnya.

Merasa belum puas dengan penjelasan itu, RT menanyakan kepada anak-anaknya. LI dan UB kemudian menceritakan keduanya menjadi korban kekerasan seksual oleh MA dengan dibantu beberapa rekannya. Peristiwa ini sempat diberitahukan oleh kedua korban kepada salah seorang pengajar, namun, sang pengajar justru meminta keduanya tutup mulut sambil dibelikan bakso dan mie ayam. [ian]

Topik berita Terkait:
  1. Pelecehan Seksual
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini