Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pensiunan PNS Dinkes Jatim meninggal usai ditelepon polisi gadungan

Pensiunan PNS Dinkes Jatim meninggal usai ditelepon polisi gadungan Ilustrasi mayat. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Gara-gara menerima telepon polisi gadungan, Sujianto, warga Lidah Wetan, Lakarsantri, Surabaya, syok dan meninggal dunia dalam kondisi mengendarai mobil, Senin (13/3). Mobil Kijang yang dikendarai pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur ini pun menabrak pohon di Jalan Kalibokor.

Istri almarhum, Budi Retnowati mengatakan, suaminya meninggal karena serangan jantung usai menerima telepon dari orang yang mengaku polisi. Orang yang menelepon itu mengatakan, kalau Aditya, anaknya ditangkap polisi karena kasus narkoba.

Kemudian, tutur Retnowati, dalam kondisi menyetir mobil suaminya diduga panik dan syok usai mendapat telepon tersebut. Sebelum meninggal karena serangan jantung, Sujianto sempat menghubungi istrinya untuk mengabari informasi yang baru di terimanya tersebut.

"Sebelum meninggal, suami saya sempat mengatakan, tidak mungkin Adit kena kasus narkoba. Setelah itu langsung lemas. Nadinya saya cek berhenti," terang Retno di rumah duka.

Saat meninggal, lanjut dia, mobil yang dikemudiakan suaminya masih dalam keadaan berjalan, dan baru berhenti setelah menabrak pohon di depan Gedung Wanita, Jalan Kalibokor.

Retno juga mengatakan, peristiwa itu terjadi saat sang suami baru saja mengantar dirinya mengikuti seminar pendidikan anak berkebutuhan khusus di Gedung Wanita.

"Tidak lama saya mengikuti seminar, ditelepon suami saya dan mengatakan ada polisi barusan telepon dan mengabarkan penangkapan anak kami," ceritanya.

Mendapat kabar suaminya itu, Retno langsung menghubungi handphone anaknya. Ternyata, Aditya, anaknya tidak ditangkap polisi, tapi tidur di rumah. Meski sudah mendapat kabar baik tersebut, Sujianto tetap tak percaya dan mengajak sang istri segera ikut pulang.

"Suami saya masih panik karena kalau dengar kabar soal anaknya pasti panik," ceritanya lagi.

Menurut Retno, bukan sekali ini saja suaminya mendapat telepon tidak jelas. Sujianto kerap mendapat telepon penipuan. Bahkan hampir tertipu Rp 10 juta. Karena dicegah istrinya, rencana penipuan si penelepon gelap tersebut gagal.

Diakui Retno, kalau almarhum suaminya memang sangat menyayangi kedua anaknya, yaitu Aditya dan Nadia. Kalau ada kabar kurang mengenakan tentang kedua anaknya itu, Sujianto langsung panik. Termasuk saat menerima telepon kalau anaknya terlibat kasus narkoba, jantung Sujianto langsung anfal dan meninggal dunia dalam kondisi masih mengendarai mobil. Jenazah Sujianto kemudian dimakamkan di TPU Lidah Wetan.

Sementara Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Lily Djafar menanggapi peristiwa ini, mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah percaya dengan telepon-telepon gelap mengatasnamakan polisi.

"Ada banyak modus kejahatan yang sering dilakukan pelaku. Termasuk lewat telepon gelap yang beredar. Tak jarang ada penipu yang mengatasnamakan polisi dan mengatakan anak korban ditangkap polisi, kemudian meminta uang tebusan dan macam-macam. Jadi kami imbau masyarakat agar melakukan cek dan ricek dulu kalau mendapat telepon gelap," kata dia.

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP